Belum Ada Bukti

1453 Kata
Pagi ini Risma hanya melakukan presensi dan minta izin kepada Faizin untuk melakukan penjajakan kepada ketiga calon customer. Risma sempat bertemu Desi di ruangan kerja. Rasa cemas bahwa gadis itu bisa melakukan apa saja terhadapnya tidak terjadi, setidaknya belum tampak. Sikap Desi normal-normal saja. Itu membuatnya sedikit lega. Satu per satu Risma menyambangi ketiga perusahaan mantan pelanggan SAS cabang Tegal. Ia menawarkan kerja sama kepada ketiganya. Respon mereka semua positif dan tampak tertarik dengan penawaran Risma. Semua berkat data lengkap dari Andrew tentang karakteristik perusahaan mereka. Sehingga Risma tidak mengalami kesulitan berarti. Risma sengaja kembali ke Reyncar beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir. Sengaja ia melakukan itu menghindari Hendi mengajaknya makan siang bareng di kantin. Kembali ke meja kerja, Risma disambut senyuman manis Desi. "Gimana, lancar?" tanya Desi, bahkan sebelum Risma sempat duduk. Risma menempatkan pantatnya di kursi. Ia membalas senyum Desi. "Alhamdulillah lancar." "Syukurlah, semoga mereka menerima penawaranmu." "Aamiin." Sikap Desi memang wajar dan tampak tulus, tapi itu tidak mengurangi Risma untuk berhati-hati. "Tadi sebelum jam istirahat, Nando nanyain kamu sudah balik ke bengkel apa belum," beritahu Desi. Risma sudah tahu, karena tadi Nando sudah meneleponnya. Lelaki itu minta laporannya perihal inventarisasi untuk mendirikan posko arus mudik. "Nando nggak pesen sesuatu?" tanya Risma. "Nggak sih!" Risma membuka laci. Ia mengambil map berisi laporan yang sudah ia persiapkan sejak semalam. "Aku ke ruangan Nando dulu." Desi bangkit. "Oke." Risma meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan kerja Nando. Sayang, Nando tidak berada di sana. Risma akhirnya memutuskan untuk ke kantin, barangkali lelaki itu masih istirahat. Di kantin Nando tidak tampak batang hidungnya. Risma pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Dalam perjalanan ia berpapasan dengan Hendi. "Kamu nyariin siapa?" tanya Hendi. "Nando." "Tadi kulihat Nando ada di mushola," beritahu Hendi. "Ya sudah aku ke sana saja!" ujar Risma. "Makasih infonya, Hen!" "Iya." Risma menuju mushola. Dan benar, Nando ada di sana sedang serius membaca sebuah berkas. "Aku tadi ke ruanganmu!" beritahu Risma. Nando menoleh. "Ada apa?" Risma duduk pada teras mushola dengan kaki tetap berada di luar agar tidak perlu repot melepas sepatu. Ia menyerahkan map kepada Nando. "Ini laporan lengkap. Ada beberapa item yang biayanya membengkak karena beberapa di antaranya didatangkan dari luar kota." Nando mengangguk kaku. "Aku lupa memberitahumu kalau estimasi biaya yang aku ajukan padamu itu berdasarkan survey bulan kemarin." "Sudah kuduga," ujar Risma. "Nanti kalau ada yang harus direvisi langsung sampaikan saja biar bisa selekasnya aku perbaiki." "Oke!" timpal Nando tanpa menatap Risma. Ia sedang fokus dengan memeriksa berkas lain. "Ya sudah, aku balik ke ruanganku." "Ya!" Risma tersenyum masam. Nando sangat kaku. Perjuangannya untuk menaklukkan hati Nando menjadi lebih berat dari yang ia bayangkan. Risma membayangkan seandainya ia bisa sok genit pasti tidak akan seberat ini. Ia tipe gadis yang susah membuka percakapan. Obrolannya baru bisa lancar jika lawannya nyambung dan punya inisiatif untuk memulai. Kadang Risma takut jika akhirnya ia nanti jatuh hati pada Nando gara-gara kesal dengan sikap kaku lelaki itu, tetapi ia berusaha menenangkan diri jika mengingat selama ini ia tidak mudah jatuh cinta kepada lelaki. *** Hendi menatap Risma dari kejauhan. Ia ingin mendekati gadis itu tapi ditahan karena tidak mau membuat Desi semakan panas hati. Jika itu terjadi, ia khawatir mantannya itu akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Sejauh ini ia perhatikan Desi masih bersikap baik pada Risma. Itu sedikit melegakannya, tetapi ia akan selalu waspada. "Do, ngapain di sini?" tegur Faizin. Nadanya cukup kencang membuat Desi dan Risma menoleh. "Nggak papa, Pak. Tadi barusan dari toilet." Hendi berdalih. "Balik ke pos kamu!" perintah Faizin. "Siap, Pak!" Nando mengangguk. "Saya permisi." Faizin memandang kepergian Nando dengan sorot curiga. Selepasnya ia beralih memandang ke arah ruangan administrasi. Sejurus kemudian ia berlalu. Di ruang administrasi, Desi menoleh kepada Risma. "Kamu tahu nggak kalau dari tadi Hendi merhatiin kamu dari pojok sana?" Risma menggeleng. Ia memang tidak menyadari sedang diperhatikan Hendi. "Aku semakin yakin kalau Hendi menyukaimu," ujar Desi dengan wajah ditekuk. Risma menjadi tidak enak hati. Lebih dari itu, ia merasa cemas kalau-kalau Desi tau kedekatannya dengan Hendi belakangan ini. "Kamu sudah bilang tidak akan mendekati Hendi kan?" Desi bertanya dengan nada hati-hati. "Iya." Risma mengangguk tegas. "Janji?" Risma kaget, tapi buru-buru ia mengangguk. "Iya, janji." Desi tersenyum masam. "Kamu juga masih mendukung aku buat balikan sama Hendi kan?" Risma kembali mengangguk. Hatinya mulai kesal dengan sikap melankolis Desi yang terkesan tidak mempercayainya. "Tapi bagaimana seandainya Hendi nembak kamu?" Desi tidak bisa menyembunyikan raut cemasnya. "Aku akan menolaknya!" jawab Risma penuh penekanan. Ia semakin kesal dibuatnya. "Bener?" Desi mengerjap sambil menatap Risma lekat-lekat. Risma mendesah tertahan. "Hendi milikmu, itu harga mati bukan?" Ia mengatakan itu bermaksud menyindir. Desi terhenyak, tidak menyangka Risma akan bertanya sesuatu yang terdengar tidak enak di telinganya. Desi balik bertanya. "Kalau iya gimana?" "Itu hak kamu!" Risma menegakkan badan, balas menatap Desi lekat-lekat. "Dengar, Desi. Aku tidak punya perasaan apa pun pada Hendi. Aku juga mendukungmu balikan sama dia. Kalau kamu percaya, aku akan jaga kepercayaan itu!" Wajah Desi pucat pasi, tidak menyangka Risma akan setegas itu. "Aku percaya!" "Bagus!" Risma menarik napas panjang. Dalam hati ia menyesal telah terpancing emosi. Pikirannya memang sedang kacau karena mendapat laporan kalau SAS cabang Tegal baru saja kehilangan tiga pelanggan besar. Selain itu ia juga sedang disibukkan dengan pekerjaannya di Reyncar. "Makasih, Ris!" Desi kembali ke mejanya. "Sama-sama." *** Sebuah pesan dari Hendi baru saja masuk, ketika Risma bersiap untuk pulang: Ris, ada yang ingin aku bicarakan. Urgent. Risma melirik Desi yang belum ada tanda-tanda akan pulang. Satu pesan dari Hendi kembali masuk: Gimana, Ris? Risma membalas, kemudian terjadilah percakapan: Risma : Aku khawatir Desi tahu. Hendi : Aku punya rencana, dijamin aman. Risma : Gimana caranya? Hendi : Kamu tunggulah di tempat biasa. Nanti ada Xenia putih berhenti di depanmu. Kamu langsung masuk saja. Aku di dalam. Risma : Kalau kamu yang nyetir pasti ketahuan. Hendi : Bukan. Aku di jok belakang. Risma : Oke. Tapi kalau bisa, sopirnya pura-pura jadi pengemudi taksi online. Hendi : Memang itu rencananya. Ayo keluar sekarang. Aku sudah standbye di dalam mobil. Risma : Ok, wait for me. Risma melirik Desi. Gadis itu tampak sudah siap tapi belum ada tanda-tanda akan pulang. "Aku pulang duluan ya, Des?" Risma melewati Desi. "Iya, Ris, hati-hati," timpal Desi. Risma segera berlalu dari hadapan Desi. Langkahnya tergesa, takut Desi mengekornya. Sampai di luar, Risma berdiri di tempat biasanya memesan taksi online. Tidak lama kemudian sebuah Xenia putih menghampirinya. Pengemudi Xenia membuka jendela kaca. "Dengan Mbak Risma?" Risma mengangguk. "Iya, Pak!" Ia pun segera masuk mobil. Begitu berada di dalam, Hendi yang tadi sembunyi di jok belakang segera pindah ke jok tengah. Risma kaget karena tegang, takut ketahuan. "Astaga, Hendi, ngagetin aja!" 'Tenang saja, kita aman." Hendi meyakinkan Risma. "Ini taksi online beneran lho." "Syukurlah!" Risma merasa lega. "Kita mau ke mana?" "Ke rumahmu dong!" Risma terbelalak. "Ih, jangan. Nanti kalau ada yang ngawasin lagi gimana?" "Tenang aja!" Hendi mencoba menenangkan Risma. "Aku nggak ikut ke rumahmu. Kita ngobrol sambil jalan saja." "Begitu?" Hendi mengangguk. Mobil bergerak sedang. Pada sore hari seperti sekarang ini lalu lintas sangat padat. "Jadi, kamu mau bahas apa?" Risma tidak sabar. Hendi celingak-celinguk mengawasi sekitar mobil mereka. Setelah memastikan aman, ia menoleh kepada Risma. "Ternyata benar, mobil Avanza yang parkir di depan kosan kamu itu orang suruhan Desi buat mengawasi kita." Mata Risma terbelalak. "Dari mana kamu tahu?" "Aku menyelidikinya," jawab Hendi. "Jadi pas mobil itu pergi, aku sempat mengingat nomor polisinya." "Terus?" "Aku periksa di daftar customer, ternyata mobil itu adalah salah satu armada PT. Hexamedia." "Lalu apa kaitannya sama Desi?" "Kamu dengerin dulu!" hardik Hendi. Risma mengangguk. "Oke, aku diam." Hendi melanjutkan cerita. "Aku cari profil perusahaan tersebut. Setelah tahu alamatnya, aku investigasi ke sana. Rupanya itu salah satu perusahaan milik keluarganya Desi." "Dari mana kamu tahu?" Hendi menatap Risma sebal. "Oke, oke, aku diam dulu!" Risma terkekeh. "Aku minta tolong adikku buat menyelidiki. Aku kasih dia catatan nomor polisi Avanza tersebiut. Dia pura-pura menanyakan info lowongan kerja kepada sekuriti di sana. Nah, waktu itu ia melihat Avanza itu sedang parkir." Hendi menunjukkan sebuah foto kepada Risma. Risma memperhatikan dengan seksama. "Ini mobilnya?" Hendi mengangguk. "Iyap!" "Jadi, kamu tahu kalau perusahaan itu milik keluarganya Desi berdasarkan hasil penyelidikan adik kamu?" "Iya." "Tapi atas dasar apa kamu bikin kesimpulan kalau mobil Avanza itu ngawasin kita minggu lalu? Bisa saja kan mobil itu sekadar parkir?" Hendi terdiam. "Meskipun benar kalau Avanza itu salah satu armada perusahaan milik keluarganya Desi, bukan berarti kamu bisa menuduhnya memata-matai kita!" ujar Risma. "Tapi aku kenal siapa Desi!" Hendi berdalih. "Iya, tapi bukti kamu kurang kuat!" Risma berargumen. Hendi mendengus, antara membenarkan argumen Risma dan yakin dengan kesimpulannya. "Nanti aku aja yang bayar," ujar Risma. Hendi keberatan. "Patungan aja!" "Nggak usah, aku aja!" Risma memaksa. "Ya sudah kalau kamu maksa!" Hendi menyandarkan punggung pada jok. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN