Tentang Desi

1092 Kata
Hendi dan Risma pindah tempat ngobrol. Risma sampai meminta izin tetangga teras kosan belakang. Lokasinya sedikit masuk, tidak tampak dari jalan raya. "Jadi begini ceritanya." Hendi mulai bercerita. "Dulu Desi adalah customer Reyncar. Dulu posisiku masih mekanik biasa. Aku sering ditugaskan servis mobilnya di rumah. Dari situlah kami mulai saling kenal." Risma tertarik dengan fakta tentang Desi yang baru ia ketahui. Itu baru permulaan. Ia yakin masih banyak fakta mengejutkan lain. "Reyncar memberi kebebasan customer untuk memilih mekanik. Desi selalu memilihku. Ia sangat royal dalam memberi tips. Tentu saja itu membuatku bersemangat, sampai tidak kepikiran apa alasan Desi menolak mekanik lain ketika aku sedang sibuk." Risma menyodorkan air mineral kemasan kepada Hendi. Hendi menerimanya tapi hanya dipegang saja. "Sekitar dua bulan sejak pertama kali aku mulai merawat mobilnya, Desi mulai berani bertanya apakah aku sudah punya pacar atau belum." Risma mengerjap. Ia semakin antusias. "Waktu kujawab belum, ia malah mengajakku makan malam di luar. Alasannya itu sebagai bentuk rasa terima kasih kepadaku." Hendi melanjutkan cerita. "Aku menyanggupi dan setelahnya kami sering jalan bareng. Kadang kami nonton film di bioskop, minun di kafe, sampai menghadiri even otomotif. Rupanya ia suka dengan olahraga otomotif, seperti slalom test, drift, bahkan balapan liar. Hahaha!" "Balapan liar?" Risma kaget. "Iya, karena nggak punya izin. Tapi katanya sih ada bekingan dari aparat sehingga selalu aman." "Terus?" "Kami semakin dekat. Aku juga menyukainya karena enerjik dan baik. Ia sangat baik waktu itu," kenang Hendi. "Sampai suatu ketika di hari ulang tahunnya, Desi nembak aku." Sepasang mata Risma terbelak. "What?" "Aku juga kaget waktu itu," Hendi tersenyum simpul. "Terus kamu jawab apa?" Riska semakin penasaran. Hendi mendesah pelan. "Aku menyukai Desi. Kami sudah nyaman satu sama lain. Hanya saja aku merasa minder karena beda status sosial. Itu kuungkapkan padanya. Ia berusaha meyakinkanku bahwa ia mencintaiku apa adanya. Ia mengaku suka padaku karena tulus, bukan karena ia anak orang kaya." "Dan kamu luluh?" tebak Risma. Hendi mengangguk sambil tersipu. "Akhirnya kami jadian karena kupikir Desi mencintaiku apa adanya." Risma menunggu kelanjutan cerita Hendi. "Risma memang manis, baik, mencintaiku apa adanya, tetapi ia posesif." Hendi menarik napas panjang. "Kami sering berantem gara-gara itu." "Apa karena itu akhirnya kalian putus?" tanya Risma. Hendi menggeleng. "Kalau hanya berantem-berantem kecil, aku masih bisa tahan. Yang membuatku terpaka mutusin Desi adalah karena ia memata-mataiku! Percuma saling cinta kalau nggak saling percaya." Risma menunjukkan sikap simpati. Hendi membuka tutup botol air mineral. Ia meneguk setengahnya. "Terus gimana ceritanya, Desi bisa sampai menjadi karyawan Reyncar?" tanya Risma. "Bukannya ia anak orang kaya ya? Buat apa ia kerja dengan gaji segitu?" "Sejak putus, aku nggak pernah lagi mau dikirim ke rumahnya, bahkan meskipun papanya Desi yang meminta langsung kepada Faizin. Akibatnya aku kena tegur. Tapi waktu itu aku sudah siap seandainya dipecat sekalipun." "Terus kenapa kamu nggak dipecat, padahal menolak tugas adalah pelanggaran berat?" "Aku sempat dipecat waktu itu," aku Hendi. "Tapi ya begitulah Desi, ia bisa melakukan apa saja. Ia meminta papanya buat membujuk Pak Faizin agar mengembalikan aku ke Reyncar." "Terus apa respon Pak Faizin?" "Pak Faizin menolak dengan halus. Beliau sangat tegas menegakkan peraturan, enggak bisa diintervensi pihak luar." "Kok kamu bisa masuk Reyncar lagi?" Risma bingung. "Papanya Desi akhirnya melobi papanya Nando langsung. Entah mereka melakukan kesepakatan apa, sehingga selain aku bisa masuk lagi, juga bisa memasukkan Desi sebagai karyawan Reyncar." "Wow!" Risma berdecak kagum. "Hebat juga papanya Desi." "Dari segi status, papanya Desi lebih berpengaruh ketimbang pemilik Reyncar." "Apa motif Desi masuk Reyncar?" Risma menduga-duga. "Mungkin agar bisa terus bertemu denganku. Faktanya Desi nggak pernah nyerah minta balikan." Sekarang Risma paham dan semua rasa penasarannya terjawab. "Bagaimana kinerja Desi?" "Sejauh ini normal-normal saja. Ia rajin dan patuh terhadap peraturan. Lagi pula Pak Faizin adalah orang yang sangat tegas dan tidak pandang bulu," jawab Hendi. "Nando pernah terlambat lima menit karena jalanan macet saja beliau tegur, apalagi Desi." "Luar biasa Pak Faizin. Aku kagum sama beliau." Hendi mengangguk sepakat. Risma menatap Hendi teduh. "Kamu masih mencintai Desi?" Hendi menggeleng. "Entahlah, yang pasti aku nggak mau balikan." "Kenapa kamu nggak coba memberinya kesempatan. Kemukakan semua yang mengganjal di hatimu. Siapa tahu ia bisa berubah." Hendi menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya perlahan. Risma paham, Hendi sudah merasa tidak nyaman dengan Desi. Ia pun memilih untuk tidak memberi saran. "Aku yakin, Desi menyuruh orang untuk memata-mataiku." Hendi berujar. "Kenapa kamu seyakin itu?" Hendi menatap Risma tajam. "Aku sering merasa ada orang yang mengikutiku. Bahkan beberapa kali aku mendapati beberapa orang asing di sekitar rumahku." "Ngeri juga ya?" Risma tidak bisa membayangkan jika seandainya saat ini ada orang yang tengah mengawasi dirinya dan Hendi. "Sekarang kamu paham kan siapa Desi?" tanya Hendi. Risma mengangguk. *** Cerita tentang Desi membuat Risma berhati-hati. Ia percaya dengan cerita Hendi. Kenyataan itu sungguh membuatnya merasa ngeri dengan sosok Desi. Ia ingat pertama kali jumpa Desi, tatapannya penuh curiga padanya. Ia menduga Desi menganggapnya sebagai ancaman. Terlebih lagi ketika Hendi mulai dekat dengannya, Desi semakin tampak tidak bersahabat kepadanya. Tadinya ia merasa senang melihat perubahan sikap Desi yang tiba-tiba baik padanya. Rupanya itu hanya cara agar gadis itu bisa menyarankannya mendekati Nando. Sekarang yang membuat Risma gelisah adalah, kemarin ia dengan tegas tidak akan mendekati Hendi. Namun ia cemas ketika tadi ada sebuah mobil Avanza yang bisa jadi adalah mata-mata suruhan Desi. Risma bingung harus menjelaskan apa jika nanti Desi menggugatnya karena kedapatan berduaan dengan Hendi. Perihal makan malam bareng Hendi beberapa hari lalu juga kini membuatnya cemas. Bisa saja saat itu Desi mengawasi momen tersebut. Pada saat Risma sedang gelisah seperti sekarang ini, ponselnya berdering. Ada panggilan telepon dari Desi. Itu membuatnya bertanya-tanya, dari mana anak itu mengetahui nomor teleponnya? "Hallo!" sapa Risma malas. "Hai, Ris. kamu sibuk nggak?" Deg. Pertanyaan Desi membuat Risma berdebar. "Enggak sih, ada apa?" "Aku sudah izin sama Pak Faizin buat nemenin kamu." Risma mengernyit. "Nemenin?" "Duh, gimana sih. Masih muda kok sudah pikun," gerutu Desi. "Katanya kamu mau menindaklanjuti soal calon relasi itu?" "Oh iya. Aku lupa, maaf!" "Nggak papa, hehehe!" Desi terkekeh. "Jadi kapan nih kamu mau bergerak?" Risma berpikir sejenak. Ia tidak yakin Desi setulus itu mau membantunya. Ia curiga jangan-jangan gadis itu merencanakan sesuatu. "Kok bengong?" "Eh, anu!" Risma tergagap. "Sebenarmya ada yang sedang aku prioritaskan. Ada tiga perusahaan lain yang mau aku ajak kerja sama. Jadi, maaf, yang itu pending dulu." "Ya nggak papa sih. Itu kan wewenang kamu. Kalau kamu mau aku bisa nemenin kamu. Gimana?" Risma mendesah tertahan. "Kalau yang ini aku bisa sendiri. Tapi lihat saja nanti." "Oh begitu?" Desi terdengar kecewa. "Ya sudah nggak papa. Pokoknya aku siap kalau kamu butuh tenagaku." "Makasih, Des," ucap Risma kurang semangat. "Sama-sama." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN