Pagi-pagi Risma mendapatkan laporan dari Andrew, kepala bengkel SAS cabang Tegal kalau tiga pelanggannya baru saja memutuskan kerja sama dalam waktu yang nyaris bersamaan. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki banyak armada. Jika rata-rata jumlahnya lima unit mobil, maka paling tidak lima belas unit mobil itu sudah tidak lagi melakukan servis perawatan pada SAS cabang Tegal. Andrew menyebutkan ketiga nama perusahaan tersebut kepada Risma.
"Sebentar Pak Andrew, saya cek dulu apakah mereka pindah ke Reyncar atau enggak." Risma membuka laptop sambil tetap tangan kiri menempelkan ponsel ke telinga.
"Yang satu pindah ke bengkel resmi, mereka memutuskan kerja sama secara baik-baik. Alasannya itu kebijakan dari pimpinan baru," beritahu Andrew.
"Saya nggak mau dengar lagi customer kita pindah ke bengkel lain." Risma geram sambil tangan kanan terus memeriksa data customer Reyncar pada laptop. "Pak Andrew harus melakukan sesuatu. Saya akan pantau terus sampai akhir tahun ini. Jika cabang bapak masih begitu-begitu saja, aku nggak segan-segan memindah bapak ke cabang lain!"
"Maaf, Mbak Risma, semua tanggung jawab saya. Beri kesempatan saya untuk menanganinya." Andrew memohon.
"Bapak harus berani melakukan gebrakan. Saya akan pantau setiap hari. Jika tidak ada perubahan signifikan, saya akan ambil tindakan tegas!" ultimatum Risma kesal.
"Siap, Mbak!"
Risma sudah selesai memeriksa apakah dua bekas customer SAS tercantum dalam daftar customer Reyncar. Hasilnya nihil, keduanya belum pernah memasukkan armadanya ke Reyncar.
"Pak Andrew, kirimkan data lengkap tiga perusahaan yang baru saja membatalkan kontrak kerja sama dengan SAS, segera!" perintah Risma.
"Baik, Mbak, saya akan kirim via email."
"Tetep ingat, jangan menghubungiku saat jam kerja!"
"Iya, Mbak!"
Risma mengakhiri panggilan dengan kesal. Ditariknya napas dalam-dalam. Kabar buruk itu membuat mood-nya di pagi ini rusak. Satu-satunya hal yang membuatnya bersemangat adalah ketiga customer tersebut akan ia jadikan pelanggan Reyncar. Jika berhasil, prestasinya akan bagus. Ia berharap itu akan membuat Nando terkesan.
Sebuah notifikasi mengabarkan satu email baru saja masuk inbox. Risma segera membuka email dari Andrew tersebut. Ia mengunduh file data lampirannya. Tanpa membuang waktu ia segera mempelajarinya.
Risma tercengang ketika mendapatkan fakta bahwa dengan pindahnya ketiga customer itu, SAS cabang Tegal telah kehilangan omset sampai 40 juta rupiah per bulan.
"Gila!" umpat Risma kesal. Ia menutup laptop dengan kasar. Mood-nya pagi ini bukan hanya rusak tapi remuk.
Wajah Risma masih ditekuk sedemikian rupa sampai Hendi datang membawa dua porsi bubur ayam dan dua cup minuman.
"Sepertinya pagi ini cuaca sedikit mendung." Hendi menyindir sambil meletakkan dua kresek bawaannya ke atas meja teras.
Risma tersenyum masam. "Mood-ku sedang jelek. Awas kalau buburnya nggak enak!"
Hendi terkekeh. Ia membuka kresek, kemudian mengeluarkan dua porsi bubur ayam dan dua minuman.
"Sebentar, aku ambil sendok dulu!" Risma bangkit.
Hendi mencegah. "Nggak usah. Sudah ada sendoknya."
"Ya sudah nggak jadi." Risma membuka kemasan yang terbuat dari mika. Aroma kuah, taburan kacang, dan suwiran daging ayam, membuatnya berselera. Perasaan kesalnya sedikit teralihkan.
"Aku yakin kamu akan ketagihan." Hendi terkekeh.
Risma tidak menanggapi. Ia menyendok bubur, kemudian memasukkannya ke mulut. Begitu bubur dan kuahnya menyentuh lidah, ia mengerjap, merasakan sensasi rasa yang lezat.
"Gimana, enak kan?"
"Lumayan!" jawab Risma asal. Padahal yang ia rasakan lebih dari sekadae lumayan. "Dari pada lu manyun!"
"Syukurlah! Enggak sia-sia aku ngantri setengah jam cuman buat mendapatkan dua porsi bubur ayam. Hehehe!"
Risma kaget. "Hah? Setengah jam?"
"Hooh, itu saja karena aku datang pas baru buka. Telat beberapa menit saja, pasti nunggunya bisa lebih lama."
"Rame dong!"
"Yah namanya juga bubur ayam paling enak sekota Tegal."
Risma mengangguk percaya. "Sepadan sih sama rasanya. Paling enggak sedikit mengurangi perasaan enggak enak."
"Duh, pagi-pagi sudah nggak enak aja perasaanmu," ujar Hendi dengan mulut penuh bubur sehingga ucapannya menjadi kurang jelas. "Ada apa memangnya?"
Risma diam. Tidak mungkin ia menceritakan perihal bengkel SAS miliknya kepada Hendi.
"Sorry, kalau kepo!" ujar Hendi.
Risma menggeleng. Ia lebih memilih menikmati bubur ketimbang merespon ucapan Hendi.
"Dua hari lalu kamu bilang mau bahas sesuatu yang penting." Risma mengalihkan topik.
"Oh itu," Hendi menelan kunyahan bubur di mulutnya. "Oke, aku ceritakan sekarang."
"Cerita aja, mumpung mood-ku mulai membaik." Risma menyendok bubur. Pelan-pelan ia memasukkannya ke mulut.
Hendi menghabiskan sisa bubur dalam kemasan. Ia menyantapnya secara cepat. Selepasnya ia meneguk separuh teh hangat dari dalam cup.
"Sebentar! Ada yang ingin aku tanyakan." ujar Risma. "Reyncar nggak punya staf marketing ya?"
"Dulu ada, tapi pindah. Tugas itu akhirnya di-handle sama kepala admin lama sebelum kamu. Kebetulan kepala admin itu basic-nya marketing. Kerjanya luar biasa, customer Reyncar naik drastis sejak ia masuk. Maka itu semua pada kehilangan ketika ia tiba-tiba pindah ke Jakarta."
Risma terkekeh dalam hati. Ia merasa senang dengan fakta bahwa kepala admin itu seorang pekerja yang berprestasi. Itu akan berguna buat SAS pusat.
"Ke Jakarta?" Risma pura-pura bertanya. Padahal jelas si kepala admin itu pindah ke SAS pusat atas bujukan orang suruhannya agar posisi itu lowong dan bisa ia masuki.
"Katanya sih pindah ke BUMN, tapi aku nggak tahu apa nama perusahaannya," jawab Hendi.
"Bukan ke bengkel lain?" pancing Risma.
"Kayaknya bukan!"
Risma merasa lega. Sejauh ini skenarionya berhasil. Ia memang mengkondisikan agar si kepala admin itu mengaku pindah ke sebuah perusahaan BUMN.
Meskipun merasa lega, tapi diam-diam dalam hati Risma merasa cemas. Kepala admin itu berprestasi gemilang. Itu akan membuatnya terbebani. Kalau prestasinya kalah, bisa gawat. Bisa-bisa ia dipecat, atau paling tidak telah membuat kecewa Faizin. Ia yakin, kepala bengkel tersebut berharap paling tidak ia bisa menyamai prestasi kepala admin lama.
"Habiskan, tinggal sedikit!" tegur Hendi.
Risma menghabiskan sisa bubur dengan perlahan, bukan karena sudah kenyang, tapi ia kepikiran dengan ekspektasi Faizin yang dibebankan padanya.
"Ris!" Hendi memanggil Risma dengan pandangan terarah ke jalan.
"Mmhh, kenapa?"
Hendi menoleh. "Mobil di pinggir jalan sana sudah parkir sejak kapan?"
Risma memandang ke jalan raya. Sebuah mobil Avanza terparkir di pinggiran. "Aku baru ngeh ada mobil di situ. Padahal di situ ada rambu larangan parkir."
"Tadi aku datang ke sini belum ada mobil itu," beritahu Hendi. "Perasaanku kok nggak enak ya?"
"Nggak enak kenapa?"
"Aku takut itu suruhan Desi!" Wajah Hendi berubah cemas.
"Hah?" Risma kaget. "Sampai segitunyakah Desi mengawasimu?"
"Kamu belum tahu Desi, sih!" geruru Hendi.
Risma menjadi semakin penasaran dengan sosok Desi.
"Mobil itu barusan pergi!" ujar Hendi. Matanya terus mengawasi mobil itu sampai menghilang. "Tampaknya orang itu sadar sudah ketahuan."
Risma meneguk minumannya. Ia pikir dugaan Hendi masuk akal karena lelaki itu pernah cerita kalau Desi bisa melakukan apa saja dengan kekayaannya.
"Bisa nggak kita pindah ke ruang tamu saja?" tanya Hendi masih diliputi kecemasan.
"Maaf, Hen, peraturannya tamu lelaki nggak boleh masuk dalam kosan.
"Oh begitu?" Hendi memahami. "Ya sudah nggak papa. Lagi pula mobilnya sudah pergi."
"Memang apa resikonya kalau benar mobil itu suruhan Desi?" Risma penasaran.
"Buatku sih nggak masalah." Hendi menatap Risma. "Tapi kamu bisa bermasalah dengan Desi. Ia bisa melakukan apa pun buat menjauhkan kamu dariku. Kamu harus hati-hati."
Risma menjadi khawatir mendengar ucapan Hendi. "Segawat itu?"
Hendi mengangguk. "Tapi semoga saja enggak."
Risma terdiam. Ia harus tahu siapakah sejatinya Desi agar ia bisa mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Aku pengen cerita tentang Desi, tapi kalau bisa enggak di tempat ini," ucap Hendi.
"Udah di sini saja. Nggak mungkin kan Desi masang penyadap di sini?"
"Enggak juga sih," timpal Hendi. "Ya sudah aku cerita sekarang aja. Lebih cepat kamu tahu soal Desi, itu akan lebih baik."
Risma mengangguk sepakat. "Kamu mau kopi?"
Hendi menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak boleh lama-lama di sini. Habis cerita aku mau langsung pulang."
"Ya sudah kalau begitu."