Berkat Chelsea

1170 Kata
"Ini berkas laporan lengkap bulan ini, Ris." Desi menyerahkan satu bendel berkas kepada Risma. "Makasih, Des, nanti aku periksa." Risma menyimpan berkas laporan dari Desi. "Oh iya, aku mau tanya soal PKS yang hampir dicetak kontrak kerjanya oleh kepala admin sebelumku tapi akhirnya pending sampai sekarang." "Perjanjian kerja sama?" Desi memastikan. "Iya, aku periksa ada dua calon relasi yang tercatat di memo," jawab Risma. "Kemarin sempat kutanyakan pada Pak Faizin, terus beliau memintaku menanyakannya kepada kamu karena kamu sempat mendampingi kepala admin yang lama waktu follow up." "Oh itu? Desi ingat. "Dibilang hampir cetak kontrak enggak juga sih sebenarnya karena baru tahap follow up." "Kamu punya alamat atau nomor telepon kedua calon relasi itu?" "Lokasinya tahu karena kan aku pernah ikut ke sana, cuman kalau nomor teleponnya aku nggak tahu," jawab Desi. "Kalau kamu mau aku bisa anterin." "Serius? Tapi apa nggak mengganggu kerjaan kamu?" "Kan cuman nganterin aja." Risma senang Desi mau membantu. "Makasih sebelumnya ya, Des?" "Sama-sama." Desi kembali ke mejanya. Saat Risma dan Desi sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Hendi datang. Risma pikir Hendi akan menemui Desi karena pekerjaannya sebagai service advisor selalu berkaitan dengan Desi. Namun dugaannya keliru, Hendi justru menemuinya. "Ris, ada sesuatu yang penting. Bisa nggak kita bahas di kantin, nanti pas istirahat?" tanya Hendi. Risma kelabakan karena ajakan itu diucapakan di hadapan Desi. Ia harus menjaga perasaan gadis itu, maka itu ia menolak halus. "Kalau soal pekerjaan bisa kamu bahas sekarang. Di luar itu, maaf aku sangat sibuk." "Sekarang aku juga banyak kerjaan," ujar Hendi. "Memangnya kenapa kalau kita bahas di kantin?" Risma menatap Hendi tegas. "Soalnya aku nanti mau makan bareng sama Desi." Ia melirik Desi, memberi isyarat agar gadis itu mengamininya. Desi tersenyum puas karena Risma menolak ajakan Hendi. "Oh ya sudah nggak papa." Hendi berlalu dengan menanggung kecewa. Selepas kepergian Hendi, Desi mendekati Risma. "Tampaknya Hendi menyukaimu!" Risma menatap Desi serba salah. "Aku akan melakukan tips darimu soal agar betah kerja di sini, tapi bukan Hendi orangnya." Desi tersenyum puas. "Kenapa?" "Karena Hendi milikmu dan aku nggak akan menikung temenku sendiri!" jawab Risma tegas. Desi tersipu. "Aku sama Hendi sudah putus. Kalau kalian jadian, itu bukan nikung. Hanya saja aku pasti akan kehilangan dua orang sekaligus; ia dan kamu!" Risma tersenyum paham. "Tenang saja, aku nggak akan mudah Hendi taklukkan, jika benar ia berusaha mendekatiku." Desi semakin bersemangat. Ia lebih mendekat ke arah Risma. "Kamu mendukung aku nggak kalau balikan sama Hendi?" Risma mengangguk. "Pasti dong. Cuman kuharap kamu jangan cemburu dulu atau nething jika aku sama dia dekat. Aku juga nggak mungkin menjauhi Hendi secara ekstrim." Desi mengangguk paham. "Okey!" Desi dan Risma tersenyum secara bersamaan. Desi baru saja akan kembali ke mejanya, namun tiba-tiba ia kembali mendekati Risma. "Aku punya rekomendasi seseorang yang layak jadi cowok kamu," ucapnya lirih, setengah berbisik. Risma mengerjap. "Siapa?" Bibir Desi semakin mendekat ke telinga Risma. "Nando." Risma mengangkat sepasang alisnya. Selepasnya ia terkekeh. "Kenapa Nando?" "Nando lumayan ganteng dan ia anak pemilik bengkel," jawab Desi. "Tapi ia sangat dingin dan kaku." "Begitu ya?" Risma pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah bisa membaca dari sikap Nando selama ini. "Kamu harus menguasai dunia otomotif jika ingin obrolan kalian terus nyambung," saran Desi. "Nando agak susah diajak bicara selain dunia kesenangannya. Ia akan malas mendengarnya, bahkan bisa-bisa memintamu ganti topik." "Berat juga ya?" ujar Risma. "Selain otomotif, ia menyukai apa?" Desi berpikir sejenak. "Sepak bola! Ia fans Chelsea. Lihat saja jaket dan tasnya semuanya tentang The Blues." "Tampaknya Nando menyukaimu," ujar Risma berhati-hati. "Berarti kamu suka otomotif juga?" Desi mengangguk antusias. Risma menyandarkan punggung ke kursi. Pikirannya menjadi kusut mengingat ia sama sekali tidak menyukai dunia otomotif meskipun keluarganya adalah pemilik bengkel mobil ternama di pulau Jawa. "Kalau kamu mau, nanti aku bantu!" tawar Desi. "Gimana?" Risma tersenyum penuh arti. *** "Pak Faizin sudah menyetujui, nanti kita menambah dua posko arus mudik natal dan tahun baru. Jadi semuanya ada tiga titik," beritahu Nando. Ia menyerahkan selembar kertas kepada Risma. "Ini daftar perlengkapan yang kita perlukan. Tolong kamu data dan kalkulasi semuanya. Kalau sudah nanti kabari aku." "Baik, Pak!" jawab Risma. Nando yang tadinya akan berlalu dari hadapan Risma, terpaksa mengurungkannya. "Pak?" tanyanya dengan nada protes. Risma berusaha memasang senyum manis, meski dalam hati eneg melihat ekspresi tidak menyenangkan dari Nando. "Maaf, kalau salah panggil." "Apa tampangku seperti bapak-bapak?" Risma menggeleng berlagak sok imut. "Enggak sih, Pak, eh, Mas!" "Usia kita sama!" hardik Nando tampak kesal. "Panggil nama saja." "Baik, Mas, eh, Nando." Selepasnya Risma cengar-cengir akibat salah terus. Nando mendengus. Tatapannya menghunus. Namun tiba-tiba mimiknya berubah sedikit bersahabat "Itu buku kamu?" Ia menunjuk ke buku tulis di dekat laptop Risma. "Ini?" Risma menunjuk buku tulis di depannya, pura-pura memastikan. Padahal ia sengaja memasang buku itu di atas meja kerja untuk menarik perhatian Nando. Kemarin Desi bilang kalau Nando fans Chelsea. Maka itu sepulang kerja, Risma langsung membeli buku tulis dengan sampul logo klub sepak bola Chelsea. "Kamu fans Chelsea juga?" tanya Nando penasaran. "Mmhh, sebenarnya aku nggak begitu hobi sama sepak bola, cuman tahu saja beberapa klub sepak bola terkenal. Kalau di liga Inggris aku suka Chelsea," ujar Risma ngarang. Nando mengangguk-angguk, antara percaya dan tidak dengan pengakuan Risma. "Suka nonton pertandingan bola juga?" "Jarang sih. Paling kalau pas tayangnya sebelum tengah hari," jawab Risma bohong. Ia memang tahu ada klub bernama Chelsea FC, tetapi nggak pernah nonton pertandingan sepak bola. "Begitu ya?" Nando masih belum sepenuhnya percaya. Risma mengangguk. *** "Tampaknya kamu makin akrab sama Desi," ujar Hendi ketika Risma sedang menunggu taksi online. Risma menoleh sebal. "Tampaknya kamu cemburu, hehehe!" Hendi terkekeh sambil garuk-garuk kepala. "Hati-hati, ia enggak setulus seperti apa yang kamu lihat." "Aku enggak peduli orang tulus atau enggak sama aku, yang penting mereka enggak musuhan sama aku," ujar Risma. "Lagian ya, kamu kok kelihatannya sebel banget sama Desi?" "Enggak juga, aku malah kasihan sama Desi. Ia akan melakukan apa pun untuk meraih apa yang diinginkannya karena ia merasa bisa melakukan apa saja dengan uangnya dan posisinya." Hendi menatap Risma serius. "Lihat saja, paling sebentar lagi kamu akan dijodohin sama Nando atau cowok lain, asal bisa menjauh dariku." Risma membenarkan ucapan Hendi. Dugaan itu sudah ia buktikan kebenarannya. "Aku bukannya membuka kejelekan Desi, cuman pengen ingetin kamu saja." Risma terdiam. Sebelum Hendi mengingatkan, ia memang sudah merasakan keanehan dengan perubahan sikap Desi yang tiba-tiba baik. "Sudahlah, mendingan kita bahas hal lain saja. Aku sedang nggak mood ghibahin mantan." Hendi berlalu dari hadapan Risma. "Hen!" panggil Risma ketika Hendi sudah menjauh tujuh langkah darinya. Hendi berhenti. "Jangan lupa!" teriak Risma sambil mendekati Hendi. Hendi menoleh. "Tenang saja, nanti aku review cerpen kamu." Kini Risma sudah berada persis ada di hadapan Hendi. "Bukan soal itu." "Lalu?" "Katanya kamu mau cerita soal hubunganmu sama Desi, lupa ya?" Hendi terdiam. "Minggu kamu lembur enggak?" Hendi menggeleng. "Enggak." "Kamu tahu bubur ayam paling enak di Tegal?" Hendi tersenyum sambil mengangguk. "Tahu dong." "Kalau begitu, minggu pagi, jam tujuh, kita makan bubur paling enak di kota ini, gimana?" "Oke, aku jemput kamu jam berapa?" "Makannya di kosanku aja!" Hendi terkekeh geli. "Pakai lilin nggak?" Keduanya tertawa bersamaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN