Pulang Bareng

1112 Kata
Risma mencium gelagat aneh dari sikap Desi yang tiba-tiba manis dan sok menyenangkan. Pagi tadi gadis itu pamit ke kantin dan menawarkan kepada Risma barangkali mau titip sesuatu. Siangnya Desi mengajak makan siang bareng. Dan sekarang ketika Risma sedang menunggu taksi online, tiba-tiba Desi menawarinya tumpangan. Padahal, kemarin-kemarin sikap Desi sangat ketus dan menyebalkan. Tatapannya selalu curiga pada Risma. Perubahan drastis itu membuat Risma yakin ada sesuatu di balik itu semua. "Aku sudah order taksi online, kok!" tolak Risma halus. "Kan bisa di-cancel!" bujuk Desi. "Nggak enak, soalnya sudah dekat." Risma berdalih. "Oh ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Babay, Risma!" Desi melambai sambil melenggang menuju parkiran karyawan. "Bye, Desi!" balas Risma dengan suara agak kencang karena Desi sudah cukup jauh. Risma memeriksa layar ponsel. Dalam hati ia mengeluh karena mendapatkan taksi yang posisinya cukup jauh sehingga masih tujuh menit lagi sampainya. Risma ingin membatalkan pesanan, tapi tidak tega pada pengemudi karena sedang dalam perjalanan. Mau tidak mau ia harus sabar menunggu. Pada sore seperti sekarang ini pesanan taksi online memang meningkat. Beruntung ia masih mendapatkannya. Tin! Tin! Risma terkejut, bukan karena bunyi klakson yang cukup kencang, tetapi mobil yang sedang melewatinya dikemudikan Desi. Memang tidak sedikit karyawan Reyncar yang membawa mobil tetapi mobil yang dikendarai Desi adalah Toyota Fortuner seri terbaik. Padahal Faizin cuman mengendarai Daihatsu Terios. "Hai, kok bengong!" Risma terkesiap karena kedatangan Hendi. "Mending naik becak saja yang nggak ribet!" usul Hendi, setengah bercanda. "Kelamaan!" "Dari pada pesan taksi online nggak sampai-sampai." Risma melirik layar ponselnya. "Empat menit lagi!" "Waktu selama itu bisa kamu pergunakan buat makan, tidur, bangun, mandi, dan..." "Menyelamatkan dunia!" potong Risma sebal. "Nah itu tahu!" "Nggak lucu ah!" "Hahaha!" Risma memeriksa kembali layar ponselnya. Taksi online yang ia pesan sudah dekat. "Aku ikut taksi kamu boleh nggak?" Hendi berharap. "Nanti bayarnya patungan." Risma mengernyit. "Memang rumah kamu di mana?" "Rumahku searah dengan kosanmu. Aku nanti turun lebih dulu." Risma berpikir, jika ia pulang bareng Hendi takutnya mereka menjadi biang gosip. "Takut digosipin ya?" tebak Hendi seolah bisa membaca pikiran Risma. "Ya, kamu lebih tahu gimana anak-anak Reyncar!" Hendi mengangguk-angguk paham. "Kalau aku sih nggak masalah." "Hah?" Risma sudah menduga, Hendi pasti sedang berusaha mendekatinya berdasarkan sikap dan perhatian lelaki itu sejak awal. Jika Hendi benar menyukainya, posisi Risma dalam menaklukkan hati Nando menjadi lebih sulit. Itu akan menguras energi dan pikirannya. Selain harus berusaha mendekati Nando juga berupaya meredam usaha-usaha Hendi. "Nggak ah! Kita pulang sendiri-sendiri aja." tegas Risma. Namun celakanya, saat ia memeriksa layar ponsel, taksi yang ia pesan tampak sedang berhenti, padahal posisinya bukan di pertigaan atau perempatan yang ada lampu merahnya. "Ya sudah, aku pesan taksi online sendiri saja." Hendi mengusap layar ponselnya. Sedangkan Risma mulai gelisah karena menurut map, taksi tampak masih berhenti. Karena tidak sabar ia segera menelepon pengemudinya. "Hallo, Pak, kapan sampai?" tanya Risma kepada pengemudi. "Maaf, Mbak, ban mobil belakang bocor. Mbak boleh cancel atau pesan taksi lain," kata pengemudi dengan nada merasa bersalah. "Sekali lagi saya minta maaf." Risma mendengus kesal. "Ya sudah saya cancel saja." Ia pun membatalkan pesanan. Hendi tersenyum senang mengetahui pesanan taksi Risma gagal. Risma kembali melakukan pesanan lagi, namun belum ada taksi yang siap. Ia mengulanginya berkali-kali, sayang hasilnya tetap sama. "Gimana, Ris?" tanya Hendi yang merasa senang karena memiliki peluang bisa pulang bareng Risma. "Nggak gimana-gimana." Risma tidak menyerah. Ia terus berusaha, memesan taksi online. Empat menit berusaha, hasilnya tetap sama: belum berhasil. Sebuah mobil mendekat. Pengemudi turun dari mobil dan menghampiri Hendi. "Dengan Pak Hendi?" tanya pengemudi memastikan. "Benar, Pak," jawab Hendi. Ia melirik Risma. "Udah ayo ikut aku saja." Risma menatap Hendi sebal. Ia benci dengan senyuman kemenangan lelaki itu. Hendi membuka pintu mobil dengan sikap mempersilakan Risma untuk masuk. Risma mendengus sebal. Sebal pada Hendi juga pada diri sendiri yang akhirnya menyerah. Ia pun masuk ke mobil dengan malas. Risma mengambil psosi duduk mepet pintu agar berjauhan dengan Hendi. Taksi pun berjalan pelan dalam kebisuan. "Sepertinya kamu nggak nyaman pulang bareng aku," ujar Hendi memecah kesunyian. Risma menoleh malas. "Aku nggak mau ini jadi gosip." "Iya, aku paham." "Kalau tahu akan susah dapetin taksi online, mendingan tadi aku mau saja diajak pulang bareng Desi. Hendi mengernyit sejenak, kemudian terkekeh. "Ya iyalah, mobil Desi kan bagus." "Kamu kenapa nggak pulang bareng Desi saja?" tanya Risma masih merasa sebal. "Banyak yang bilang aku bodoh!" ujar Hendi. Risma diam saja, tidak tertarik dengan pengakuan Hendi. "Desi itu anak orang kaya. Ia juga termasuk tipe gadis setia. Aku mengakui itu," beritahu Hendi. "Aku tahu ia anak pengusaha sukses baru beberapa bulan setelah jadian sama dia." Risma mulai tertarik dengan cerita Hendi. Ia menjadi penasaran. "Dari pengakuanmu, Desi adalah gadis idaman setiap cowok, manis, setia, anak orang kaya pula," pancing Risma berharap Hendi menceritakan alasan kenapa mereka sampai putus. "Kamu enggak penasaran, kenapa kami bisa putus?" Hendi mengerjap penuh arti. Risma menatap Hendi datar. Ia memang penasaran, tapi tidak sudi mengakuinya. "Mungkin kamu nggak penasaran. Mungkin kamu seperti anak-anak lain yang menganggapku bodoh." Risma melengos. "Jangan ge-er deh!" "Faktanya seperti itu, Ris!" Hendi meyakinkan Risma. "Kamu bisa tanyain ke anak-anak gimana pandangan mereka terhadap masalahku dengan Desi." "Kayak nggak punya kerjaan aja!" "Itulah Reyncar!" Hendi menaikkan intonasi. "Aku bukan orang penting. Hubunganku dengan Desi juga nggak penting buat mereka. Tapi semua itu akhirnya menjadi seperti sesuatu yang penting karena dibicarakan oleh semau orang." Risma paham dengan maksud Hendi. Hendi menatap Risma. "Aku enggak suka tampak menonjol. Aku lebih menikmati menjadi orang kebanyakan. Barangkali itulah kenapa aku enggak nyaman memiliki pacar orang penting seperti Desi." "Penting?" Risma tidak tahan untuk menyembunyikan rasa penasarannya. "Desi itu anak orang kaya. Konon harta keluarganya lebih banyak ketimbang milik keluarga Nando. Ia pewaris tunggal. Banyak yang ingin menjadikannya istri dengan berbagai motif. Tapi ia lebih memilih lelaki sederhana yang menurutnya bisa mencintainya dengan tulus." "Lelaki sederhana yang dimaksud itu pasti kamu!" tebak Risma. Hendi mematung, menatap Risma nyaris tanpa kedip. "Aku sadar kisah hidupku tidak menarik." Risma mendesah tertahan. "Aku penasaran dengan kisahmu dan Desi, bukan karena kepo, tapi karena kisah kalian sepertinya menarik dan unik. Kalau ada waktu kamu boleh menceritakannya padaku, kali aja bisa menginspirasiku untuk kembali menulis novel." "Okey!" "Oh iya, aku lupa mau kirim naskah cerpenku sama kamu." Risma mengalihkan topik. "Aku sebenarnya mau menanyakan itu tapi kulihat kamu sangat sibuk." "Kalau begitu aku kirim sekarang saja ya?" Risma mengusap layar ponsel. "Kutunggu review-nya." "Aku usahakan secepatnya setelah membaca cerpennya." "Oke!" Hendi tersenyum senang, tapi begitu menyadari kalau rumahnya sudah terlewat, serta merta wajahnya menjadi pucat. "Kamu kenapa?" "Nggak papa!" "Tapi kamu tampak gelisah." "Tadi pas tahu rumahku sudah terlewat, aku panik. Sekarang enggak." "Kok bisa begitu?" "Karena aku akan mengantarmu sampai kosan." Hendi tersenyum usil. Risma menarik napas panjang sambil menepuk jidat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN