Masih Dingin

1155 Kata
Satu pesan WA dari Hendi masuk ketika Risma baru saja duduk di balik meja kerjanya: 'Terima kasih ya untuk candle light dinner-nya yang tak terlupakan!' Risma tersenyum, mengingat acara makan malam semalam yang lebih mirip disebut ngepet. Ia pun segera membalas pesan tersebut: 'Semoga kamu kapok!' "Hahahaha!" Hendi tertawa ngakak. Ia yang tadi berada di sudut ruangan segera mendekati Risma. Risma kaget karena ternyata Hendi ada di dekatnya. "Astaga! Kamu ngagetin aja! Sejak kapan kamu ada di situ?" "Aku sudah di sini sejak setengah jam yang lalu." "Hah? Ngapain?" "Aku lebih suka sarapan nasi goreng di kantin. Habis itu aku tidur-tiduran di bangku itu!" Hendi menunjuk bangku panjang di pojok ruangan. "Owalah!" Risma terkekeh, sekadar merespon kalimat Hendi. Ia lebih tertarik untuk membuka laptop pribadinya. Ada sesuatu yang harus ia input. Hendi lebih mendekat kepada Risma. Ia berkata lirih. "Soal semalam jangan sampai anak-anak tahu. Bisa-bisa kita menjadi selebritis dadakan!" Risma mengernyit. "Yakali aku cerita ke orang-orang kalau semalam kita habis ngepet, hehehe!" Hendi terkekeh. "Siplah kalau begitu!" Risma mengangguk saja. Ia sedang fokus membuka aplikasi Ms. Excel. "Oke, aku ke ruanganku dulu. Met bekerja ya?" Risma tersenyum sekadarnya kepada Hendi. Selepas kepergian Hendi, selagi Desi belum datang, Risma segera menginput data sebagai progres misinya. Pada hari ketiga menjalankan misi di Reyncar, Risma mulai menemukan logika kenapa perusahaan ini berhasil menjadi bengkel nomor satu di kota Tegal, mengalahkan beberapa bengkel resmi pabrikan dan bengkel multi nasional, seperti SAS miliknya. Risma mulai mengisi tabel keunggulan dan kekurangan di antara kedua bengkel. Keunggulan SAS baru satu, yaitu memiliki banyak cabang di pulau Jawa yang terkoneksi online. Pelanggan yang memiliki kartu langganan akan tetap mendapatkan promo dan hadiah di semua cabang. Itu tidak dimiliki Reyncar yang hanya ada di kota Tegal saja. Keunggulan Reyncar sudah ada dua yang dicatat Risma, yaitu: Reyncar buka dua puluh empat jam selama tujuh hari full. Itu artinya bengkel ini tidak pernah tidur sepanjang tahun. Para mekanik bekerja dalam tiga shift. Reyncar juga melayani jasa servis panggilan yang siaga selama dua puluh empat jam. Bahkan untuk pelanggan yang memiliki kartu langganan bisa menggunakan jasa ini, kapan pun pada area radius 20 kilometer. Ini adalah keunggulan kedua yang Risma catat. Untuk fasilitas dan sumber daya manusia, Reyncar dan SAS relatif sama. Dari dua keunggulan itu saja, Risma sudah bisa menerima jika Reyncar layak menggeser posisi SAS sebagai bengkel terbaik di kota Tegal. Ia yakin masih ada keunggulan lain yang belum ditemukan. Selesai misi nanti, Risma akan mengevaluasi bengkelnya agar bisa kembali menjadi bengkel terbaik di kota ini. Selain membandingkan faktor-faktor teknis tersebut, Reyncar dan SAS berbeda suasana. Perbedaan itu sangat mencolok. Karyawan SAS cenderung individualis. Mereka bekerja profesional dan tidak terlalu menonjol persaudaraannya. Berbeda dengan Reyncar yang suasananya mirip sebuah keluarga besar. Begitu kekeluargaannya, sampai hal-hal privasi kadang menjadi konsumsi umum. Seperti misalnya kisah cinta lokasi di antara para karyawan. Mereka kadang mencuri waktu untuk menggosip. Bagi Risma itu adalah salah satu sisi negatif yang dimiliki Reyncar, atau bisa jadi itu efek dari sistem kekeluargaan yang dianut bengkel ini. Ada dua gosip yang sedang hangat di Reyncar. Pertama adalah perjuangan Nando mengejar cinta Desi dan yang kedua adalah gosip Desi yang mati-matian mengajak Hendi balikan. Kedua gosip itu saling berkaitan satu sama lain, membuat kasak-kusuk kian menarik. Sekarang bulu kuduk Risma mendadak merinding, membayangkan jika makan malam bareng Hendi semalam diketahui anak-anak lain dan menjadi gosip baru. "Pagi, Risma!" sapa Desi yang baru saja melewati meja Risma. "Pagi juga, Desi!" Risma buru-buru menutup laptopnya, tidak ingin Desi mengetahui isi tabelnya. "Gimana, betah kerja di sini?" tanya Desi sambil meletakkan p****t pada kursi. Risma menoleh sambil menyungging senyum kepada Desi. "Semoga betah. Pekerjaan ini sangat berarti buatku. Aku beruntung bisa berada di sini." "Kalau belum betah aku punya tips, kali aja cocok buatmu!" Desi mengerjap. Risma balas mengerjap. "Sepertinya tips menarik. Kalau boleh tahu apa itu?" Alih-alih menjawab, Desi terkekeh sendiri. Ia mendekatkan wajah kepada Risma. "Carilah cowok ganteng. Pasti kamu akan betah!" "Hehehe, tips klasik yang masih menarik!" ujar Risma. "Tapi aku mau fokus pada pekerjaan dulu. Aku harus segera beradaptasi di sini." Desi mengangguk-angguk penuh arti. "Aku mau ke kantin duku. Kamu mau nitip apaan?" Risma menggeleng pelan. "Enggak, makasih." "Okey!" Desi bangkit dari tempat duduknya, lantas berlalu dari hadapan Risma. Risma memandang kepergian Desi sambil menahan keheranan dalam hati. Ia merasakan sikap Desi aneh. Gadis itu sekarang lebih ramah, tidak tampak ketus seperti biasanya. *** Kesempatan Risma untuk meraih hati Nando datang ketika Faizin mengajak meeting bertiga di meeting room. Sejatinya meeting itu akan membahas persiapan pembentukan posko mudik natal dan tahun baru, namun pada kesempatan itu Risma telah menyiapkan laporan peralihan tugas dari kepala admin lama ke dirinya. Deadline laporan itu sebenarnya masih dua hari lagi, tetapi Risma akan melaporkannya sekarang jika Faizin mengizinkan. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, Reyncar mengambil bagian pada pelayanan arus mudik natal dan tahun baru." Faizin membuka rapat. Ia menatap Risma dan Nando secara bergantian. "Kita sudah memiliki sistem baku perihal itu. Hanya saja, saya ingin kita menambah posko karena diperkirakan jumlah pemudik akan naik sampai lima belas persen ketimbang tahun lalu." Nando mendengarkan Faizin secara serius. Tatapannya fokus pada sang kepala bengkel. "Nando, dengan penambahan posko berarti menambah personel. Saya minta kamu siapkan mekanik-mekanik handal dan partman yang sigap. Saya tunggu laporan kamu, paling lambat 2x24 jam dari sekarang." Nando mengangguk tegas. "Siap, Pak! Saya sudah menyiapkan beberapa mekanik dan partman. Karena ada beberapa personel yang masih baru pada tugas itu, maka saya mohon izin sama bapak untuk memberi pelatihan singkat pada mereka. Saya pikir tiga hari cukup buat mereka." "Tiga hari cukup?" Faizin meyakinkan Nando. "Jangan tergesa tapi juga jangan terlalu lama. Persiapan kita bukan hanya soal pelatihan saja." "Baik, Pak!" jawab Nando. Faizin beralih kepada Risma. "Risma, saya pikir setiap bengkel memiliki prinsip yang sama dalam hal pelayanan, juga soal administrasi. Jadi, saya minta kamu jangan ragu untuk melakukan koordinasi secara baik dengan Nando." "Siap, Pak!" kata Risma. "Saya siap bekerja sampai malam kalau diperlukan." Faizin menggeleng. "Kuncinya kamu dan Nando harus sinergi. Kerja cerdas, bukan hanya kerja keras." Risma mengangguk. "Baik, Pak!" Faizin menatap Nando dan Risma bergantian. "Ada pertanyaan? Atau barangkali masih ada yang ingin disampaikan?" "Buat saya sudah jelas, Pak," ujar Nando. Faizin menatap Risma. "Arahan perihal posko arus mudik sudah jelas buat saya, Pak." Risma membetulkan posisi duduk. "Tapi kalau bapak berkenan, saya ingin melaporkan soal transisi tugas saya, Pak." "Deadline-nya kan dua hari lagi!" Faizin mengingatkan. Risma mengangguk. "Betul, Pak. Tapi saya mohon izin melaporkannya sekarang." Nando mengangkat tangan, meminta izin bicara kepada Faizin. "Maaf, menyela. Apa rapat posko mudik sudah selesai?" "Iya, kamu boleh meneruskan pekerjaanmu, Nando!" jawab Faizin. "Terima kasih, Pak! Kalau begitu saya pamit." Nando berdiri. Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat menatap Risma dingin. Kepergian Nando membuat Risma kecewa. Percuma juga ia laporan lebih cepat jika Nando tidak menyaksikannya. Padahal ia ingin membuat Nando terkesan karena berhasil mengerjakan tugas dua hari lebih cepat dari deadline. "Silakan, Risma!" Risma berusaha tersenyum kepada Faizin, padahal semangatnya sudah terjun bebas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN