Dinner Risma dan Hendi terbilang unik. Mereka makan nasi bungkus dengan lauk sate kambing muda khas Tegal. Tempatnya pun lesehan di teras, hanya beralaskan tikar. Yang menarik adalah, terdapat sebuah lilin menyala di tengah mereka.
"Kita seperti sedang ngepet!" celetuk Risma sambil memandang lilin yang apinya tertiup-tiup angin.
"Hahaha! Uhhukk!" Hendi tertawa sampai hampir tersedak.
"Lilinnya matiin saja ya?" usul Risma.
"Jangan, babinya belum dapet duit!"
"Hahaha!"
Suasana dinner ala anak kosan cukup syahdu sekaligus memalukan jika diketahui tetangga. Mereka sangat menikmati. Selain karena menunya yang lezat, juga antara Hendi dan Risma sedang memiliki kepentingan masing-masing.
Hendi sengaja mendekati Risma agar Desi berhenti mengajaknya balikan. Sedangkan Risma ingin mengorek keterangan perihal Hendi yang katanya pernah mengenalnya.
"Kamu sudah berapa lama bekerja di Reyncar?" pancing Risma.
Hendi menelan kunyahan makanan di mulutnya. Setelah meneguk es tehnya, ia menjawab. "Lima tahun!"
"Cukup lama juga ya?" ujar Risma. Ia menganalisa, jika benar Hendi sudah bekerja di Reyncar selama lima tahun, itu berarti ia belum bekerja di SAS. Pengakuan itu sedikit membuat Risma lega.
"Sebelumnya pernah bekerja di mana?" tanya Risma.
"Di sebuah bengkel resmi milik pabrikan mobil Korea."
"Di bengkel itu berapa lama?"
"Sekitar tiga tahunan, selepas aku lulus SMK!"
Risma menarik napas lega. Sudah jelas Hendi belum pernah berhubungan dengan bengkel SAS, milik keluarganya.
"Kamu sendiri sudah berapa lama berkecimpung di bengkel?" Hendi balik bertanya.
"Baru empat tahun."
Hendi menatap Risma heran. "Langsung bekerja di SAS?"
Risma mengangguk, sambil lidahnya terus mengunyah.
"Posisimu langsung pada kepala admin?"
Risma balik bertanya. "Memangnya kenapa?"
"Keren!" puji Hendi.
Risma tersenyum dikulum. "Mungkin karena latar pendidikanku manajemen perkantoran."
"Tapi dunia bengkel itu unik, tidak sama dengan perkantoran pada umumnya!"
"Memang!" timpal Risma. "Tapi prinsip manajemen kan sama dan aku beruntung karena lingkunganku sangat support."
"Pasti menyenangkan ya bekerja di sebuah bengkel multi nasional?"
"Ya begitulah!" jawab Risma simpel agar Hendi tidak bertanya lebih lanjut perihal pekerjaannya di SAS.
"Kalau di sana sudah nyaman, kenapa pindah ke Reyncar yang cuman bengkel lokal?" Hendi penasaran.
Peryanyaan Hendi sama dengan yang ditanyakan Faizin ketika interview. Ia pun menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. "Aku ingin balik ke Tegal. Ibuku asli orang sini dan beliau juga dikuburkan di kota ini."
Reflek Hendi menunjukkan sikap penyesalan. "Maaf, kalau aku mengingatkanmu pada ibumu."
Risma tersenyum. "Nggak papa."
Suasana menjadi hening setelahnya. Baik Hendi atau pun Risma sibuk dengan makanannya.
"Kemarin kamu bilang pernah mengenalku, di mana dan kapan?" Risma memecah keheningan.
Hendi tergelak. Alih-alih menjawab, ia mengelap bibir menggunakan tisu. Ia sengaja ingin membuat Risma penasaran.
Tapi Risma tidak mudah terpancing. Ia berusaha menahan rasa penasarannya. Bahkan sekarang ia punya ide usil. "Astaghfirullah, aku lupa!"
"Lupa apa?"
"Aku salah ambil tisu!"
"Hah? Serius?"
Risma mengangguk jahil. "Tisu yang kamu pakai buat lap bibir itu tisu toilet!"
Perut Hendi mendadak mual. Ia memeriksa tisu gulungan yang tersedia di depannya. Dalam keadaan cahaya temaram ia sulit membaca keterangan yang tertera pada kemasan tisu.
Melihat ekspresi jijik Hendi, membuat Risma puas. Tidak berselang lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Seriusan ini tisu toilet?" Hendi masih antara percaya dan tidak percaya.
"Enggak, enggak, hahaha!" Gelak tawa Risma semakin menjadi. "Itu tisu pembersih tangan kok, bukan tisu toilet."
"Tapi kok bentuknya gulungan?" protes Hendi.
"Memangnya cuman tisu toilet saja yang berbentuk gulungan? Hahaha!"
Hendi mengambil gulungan tisu, kemudian mendekatkannya ke cahaya lilin. Sambil memicingkan mata, ia membaca keterangan pada kemasannya. Sekarang ia baru yakin kalau tisu itu memang bukan tisu toilet.
"Lagi pula, kalau tisu toilet pun nggak masalah. Kan masih bersih dan steril," ujar Risma.
"Iya juga sih!" Hendi cengar-cengir.
"Kamu belum jawab pertanyaanku!" tagih Risma.
"Pertanyaan yang mana?" Hendi berlagak bingung.
"Katanya pernah mengenalku."
"Oh, itu?"
Risma mengangguk, menunggu Hendi menjawab pertanyaannya.
"Sebenarnya aku enggak benar-benar mengenalmu," aku Hendi.
Risma mengernyit.
"Setelah kamu memperkenalkan diri kemarin, aku langsung searching google. Aku kepoin profil kamu di Instagran dan Twitter. Nggak banyak data yang kudapat sih, selain kamu tinggal di Pasar Minggu dan beberapa buku-buku yang pernah kamu terbitkan."
Risma menarik napas lega. "Astaga! Cuman modal data itu kamu sok-sokan bilang pernah mengenalku? Dasar!"
Hendi cengar-cengir. "Kamu segitu takutnya kalau aku benar-benar mengenalmu!"
"Ah, enggak kok," ujar Risma sedikit gugup. "Heran aja, soalnya aku nggak punya banyak kenalan."
"Begitu?"
"Iya!"
"Masa cewek secantik kamu nggak punya banyak kenalan?"
Risma memonyongkan bibir.
"Serius, kamu menarik. Pasti banyak yang ingin kenal sama kamu!"
"Ucapan manismu itu nggak mempan buatku!"
Hendi terkekeh. "Aku hanya mengatakan apa adanya, menurut sudut pandangku tentunya."
"Aku sudah kebal dengan lelaki modus kayak kamu, hehehe!" Risma terkekeh.
"Aku enggak modus!" elak Hendi. "Nyatanya aku masih jomblo."
"Wah, wah, wah!" Risma bertepuk tangan. "Hebat ya kamu, masih bisa mengelak pada saat aku sudah melihat dengan mata dan telingaku sendiri bagaimana Desi sampai menangis di hadapanmu!"
Hendi menggebah napas. "Kamu nggak paham kisahku dengan Desi, jadi jangan jadikan itu sebagai dasar untuk menghakimiku!"
Risma tergelak. "Aku enggak menghakimimu, hanya menyegarkan ingatanmu saja. Hahaha!"
"Ya, ya, ya!" Hendi mengangguk-angguk. "Bahkan orang baru sepertimu pun akan termakan drama Desi."
Risma mengernyit. "Oke, aku minta maaf untuk dua hal; pertama, aku harus mendengar percakapan kamu dan Desi yang sebenarnya tidak sepenuhnya salahku dan kedua, aku telah salah bicara soal Desi. Yang pasti aku tidak mau kepo."
"Kamu nggak salah, jadi nggak perlu minta maaf." Mimik Hendi berubah serius. "Kadang aku ingin menjelaskan kepada semua orang tentang masalahku dengan Desi yang sebenarnya, biar mereka enggak menilai berdasarkan asumsi semata, tapi buat apa?"
Risma menangkap kegundahan hati Hendi.
"Sekarang aku nggak peduli apa penilaian orang terhadapku!" lanjut Hendi emosional.
Risma mengangguk, berusaha menunjukkan bahwa dirinya memahami apa yang diucapkan Hendi.
Hendi menunduk selama beberapa detik, selepasnya ia tertawa sendiri. "Astaga, aku ini bicara apaan sih?" Ia memukul-mukul bibirnya sendiri.
Risma menjadi serba salah. Satu sisi ia ingin berempati kepada Hendi, di sisi lain ia ingin tertawa karena menurutnya perubahan sikap drastis Hendi agak lucu, terutama pada adegan memukul-mukul bibir sendir. Demi menjaga perasaan Hendi, Risma tersenyum tipis.
"Oh iya, betewe, aku suka puisi-puisi yang kamu post di Instagram." Hendi merubah topik.
Risma tersenyum senang. "Itu puisi-puisi lama. Sudah lebih dari empat tahun aku nggak pernah menulis lagi."
"Karya emas tidak akan lapuk dimakan rayap. Hehehe!"
Risma tertawa mendengar kelakar Hendi. "Yakali aku nulisnya di papan, hehehe!"
"Pasti kamu menulisnya dengan hati!"
"Sok tahu kamu!"
"Lah iya bener kok!"
"Aku menulis dengan laptop tahu."
"Hahahaha, iya ding, hahaha!"
Risma mengerjap geli karena tidak tahu di mana letak lucunya sehingga Hendi tertawa sampai terbahak-bahak.
"Aku penasaran dengan buku-bukumu," ujar Hendi antusias. "Kapan ada pre order lagi?"
Risma menggeleng. "Itu self publishing, jadi aku bisa kapan saja melakukan pre order. Cuman masalahnya, aku sudah tidak mau memasarkan lagi buku itu!"
"Kenapa?"
"Aku berhenti menulis sejak empat tahun lalu."
"Duh sayang banget kalau bakat dan kemampuan kamu berhenti begitu saja," ujar Hendi. "Terus bagaimana caranya aku bisa menikmati karya-karyamu?"
Risma menatap Hendi lekat-lekat. "Kamu beneran mau baca tulisanku?"
"Iya!" jawab Hendi antusias.
"Bukan modus?"
Hendi menggeleng. "Bukan!"
"Tolong review salah satu cerpenku!"
"Mana cerpennya?"
"Nanti aku kirim file-nya." jawab Risma lugas. "Setelah itu aku akan bikin kesimpulan, kamu beneran suka sastra atau enggak. Kalau iya, aku akan kirimin kamu file naskah asli buku-bukuku."
Seketika wajah Hendi semringah. Ia memberi hormat kepada Risma. "Siap!"
Lilin padam akibat terkena kibasan tangan Hendi sewaktu memberi hormat.
"Yah, ngepetnya gagal!" kelakar Risma.