Tapi Bukan Begitu Konsepnya

1126 Kata
Risma baru saja akan menemui Hendi di kantin, tetapi ia mengurungkannya karena melihat Desi tampak sedang berjalan menuju Hendi yang sedang duduk di pojokan. Risma memutuskan untuk menunggu Desi menyelesaikan urusannya dengan Hendi. Ia menunggu di kursi dekat pintu. "Boleh aku duduk?" tanya Desi hati-hati kepada Hendi. "Silakan!" jawab Hendi malas. "Itu kursi punya kantin, jadi kamu nggak perlu izin sama aku!" "Ih, kamu kok ketus gitu, sih?" Desi duduk di sebelah Hendi. "Kamu sudah makan?" Hendi menggeleng malas. Wajah Desi semringah. "Aku pesenin makan ya?" Hendi buru-buru mencegah. "Nggak usah!" "Tapi kamu harus makan siang." "Tolong berhenti dikte aku!" Hendi berkata pelan, namun penuh tekanan pada setiap suku katanya. Ditambah lagi sorot matanya tajam, menusuk ke sepasang mata Desi. Desi menelan ludah, tapi ia tidak menyerah. "Aku kan cuma ingin ingetin kamu saja." Hendi melirik Desi sebal. "Hen, bisa nggak kita bicara empat mata?" tanya Desi penuh harap. Ini adalah permintaannya yang ke sekian, semuanya selalu ditolak Hendi. Ia berharap kali ini berhasil. "Bukannya sejak tadi kamu sudah bicara ya?" Desi tersenyum. "Maksudku di tempat lain yang lebih leluasa. Di sini kan kita dibatasi waktu. Lagi pula di sini banyak orang kepo." "Emangnya mau bicara apa? Di sini kan bisa." "Mmhh, memang kamu nggak papa kalau aku membahasnya di sini?" Desi balik bertanya. "Udahlah, nggak usah bertele-tele!" Hendi semakin sebal kepada Desi. Desi menarik napas panjang, berusaha sabar dengan sikap ketus Hendi. "Aku cuman ingin kita bisa seperti dulu!" Hendi membuang muka ke samping, sudah terlalu bosan dengan kalimat tersebut. "Please, Hen!" Desi meraih jemari tangan Hendi. Hendi melepaskan jari-jarinya dari tangan Desi secara perlahan. "Semua sudah berubah, Des. Semua sudah berakhir. Semua sudah tidak sama. Sampai kapan kamu bisa menerima itu?" "Beri aku kesempatan sekali lagi, Hen. Please!" Desi memohon. Matanya mulai sembab, namun ia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. "Dulu aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali, tetapi selalu kamu buang begitu saja. Kini setelah kesempatan itu sudah habis, kamu berusaha memintanya." Hendi menatap mata Desi kesal. "Sekali lagi, Hen. Aku akan mempergunakannya dengan baik. Aku janji akan memperbaiki semua kesalahanku." Desi terus memohon. Hendi menggeleng pelan tanpa menatap Desi. Desi terus memohon. "Apa yang harus aku lakukan biar kamu mau memberiku kesempatan, Hen?" "Kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi maaf, bukan bersamaku lagi." Air mata Desi tumpah juga akhirnya. Hendi memandang Desi gamang. Ia tidak tega melihat kondisi mantan kekasihnya itu, tetapi ia juga merasa harus bersikap tegas. Air mata Desi terus mengalir, meski berkali-kali ia menyekanya menggunakan tisu. Setidaknya ada dua orang yang tengah memperhatikan Hendi dan Desi. Mereka adalah Nando yang mengawasi dari luar kantin dan Risma yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Melihat Desi menangis, membuat Nando tidak tahan. Sebenarnya ia tidak ingin ikut campur, tetapi ia merasa harus melakukan sesuatu agar Desi tidak terlalu lama hanyut dalam kekecewaan. Nando menuju kantin. Di dekat pintu, ia sempat bertatapan dengan Risma, kemudian terus menuju meja Hendi dan Desi. "Ehhemmhh!" deham Nando. Hendi melirik Nando sekilas, sebelum akhirnya membuang pandangan ke arah pintu masuk. Matanya menangkap sosok Risma yang juga sedang memandangnya. Sementara Desi buru-buru menyeka air matanya. "Kamu nggak papa, Des?" tanya Nando. Desi menjawab dengan gelengan kepala. Suaranya masih serak. Nando duduk di sebelah Desi. Situasi ini menguntungkan Hendi yang sejak tadi mencari kesempatan agar lepas dari Desi. Maka ia pun beranjak dari duduknya menuju Risma. Desi kaget sekaligus kesal kepada Hendi yang pergi begitu saja. Yang lebih membuatnya semakin kesal adalah mantan kekasihnya itu menemui Risma. Hendi menarik kursi di sebelah Risma, kemudian mendudukinya. Ia menoleh kepada gadis di sebelahnya itu. "Kemarin ada yang janji mau nraktir minuman padaku!" Risma tergelak, merasa geli sekaligus tersindir. "Apakah aku orangnya?" "Sepertinya iya!" Keduanya pun tertawa bersamaan. Risma menatap Hendi. "Kamu sudah minum?" Hendi mengangguk. "Iya, satu gelas es teh!" "Oke!" Risma berdiri, kemudian menuju ibu kantin. "Mau pesan apa, Dek?" tanya ibu kantin kepada Risma. Risma mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Ia menyerahkannya kepada ibu kantin. "Bu, bayar satu gelas es teh punya mas yang itu!" Ia membalik badan sambil menunjuk ke arah Hendi. "Tiga ribu!" Ibu kantin menerima uang dari Risma, lantas memberikan kembalian. "Terima kasih, Dek!" "Sama-sama, Bu!" Risma memasukkan uang kembalian dari ibu kantin ke saku baju. Ia kembali ke meja dekat pintu. Hendi menyaksikan ulah Risma sambil geleng-geleng kepala. "Aku sudah traktir minunan kamu. Janjiku sudah lunas!" ujar Risma. "Bukan begitu konsepnya!" Hendi menepuk jidat sendiri. "Itu namanya bayarin, bukan nraktir!" "Apa bedanya!" "Beda dong!" sangkal Hendi. "Kalau bayarin enggak harus ikut minum, tetapi kalau traktir biasanya minum atau makan bersama." "Biasanya?" "Iya!" "Jangan dibiasakan!" Hendi bengong. "Ini luar biasa!" Hendi tertawa. Ia mengakui kecerdikan Risma. Risma kembali serius. "Aku tadi sebenarnya mau ke meja kamu, tapi kulihat ada Desi, akhirnya aku tunggu aja di sini." "Kenapa begitu? Kita kan sudah janjian!" "Aku enggak enak saja sama Desi. Kupikir kalian akan membahas sesuatu yang penting." "Nggak ada yang penting sih!" "Nggak penting kok ada yang...." "Nangis?" tebak Hendi, memotong kalimat Risma. Risma mengangguk. "Maaf bukannya kepo. Aku juga nggak bermaksud memperhatikan kalian." "Iya, nggak papa." ujar Hendi. "Kamu kan sudah traktir aku minum. Gimana kalau gantian aku traktir kamu makan?" Risma mengernyit. "Kapan aku traktir kamu?" "Tadi!" "Kata kamu itu bayarin, bukan traktir!" Hendi tergelak. "Apa pun istilahnya, pokoknya begitulah!" Risma tersenyum. Sebenarnya jika tadi tidak terganggu Desi, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengorek keterangan perihal Hendi yang katanya pernah mengenalnya. Tawaran Hendi tadi bisa ia manfaatkan untuk itu. "Gimana?" Risma berlagak bingung. "Apanya?" "Aku tadi kan bilang mau nraktir makan. Nah, kamu mau nggak?" Risma pikir, kalau di sini kurang tepat. Selain tempatnya kurang tenang, juga waktunya terbatas. "Sekarang aku agak kenyang. Tadi bawa bekal dari rumah." Risma berbohong. "Gimana kalau makan malam?" "Wow, dinner?" pekik Hendi girang, membuat beberapa orang di kantin melirik ke arahnya, termasuk Desi dan Nando. Risma mengangguk pelan, meskipun agak risih karena menjadi pusat perhatian. "Di mana?" tanya Hendi antusias. "Aku kan nggak begitu paham kota ini, jadi aku sih terserah kamu saja." Hendi berpikir sejenak. "Aku tahu tempat yang cocok buat kita!" "Oke, aku ikut saja!" ujar Risma. "Kalau boleh tahu, di mana itu?" "Warung sate Ibu Rukiyah!" jawab Hendi. "Judulnya memang 'warung' tapi sebenarnya sebuah restoran dengan menu andalan sate kambing muda khas Tegal yang empuk dan super uenak!" "Bolehlah!" Risma setuju. "Kalau begitu aku jemput jam berapa?" Risma mengernyit. "Jemput?" "Iya, jemput! Masa kita jalan sendiri-sendiri?" Risma buru-buru menjelaskan agar tidak salah paham. "Aku tunggu di rumah saja!" "Maksudnya?" "Kamu beli makanannya dibungkus, terus bawa ke kosanku. Kita makan di teras!" "Hah?" Hendi kaget. "Kenapa? Kok kaget gitu?" "Jadi kita makannya di rumah?" Risma mengangguk mantap. Hendi garuk-garuk kepala. "Itu sih bukan dinner!" "Memangnya dinner itu apaan?" "Makan malam." "Sama kan?" "Iya sih!" Hendi semakin gemas, menggaruk kepalanya kuat-kuat. "Tapi bukan begitu konsepnya!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN