Awal yang Menyebalkan

1223 Kata
Risma menatap Hendi lekat-lekat. Ia berusaha mengingat-ingat, kalau-kalau lelaki yang memiliki style rambut mirip oppa-oppa Korea itu adalah salah satu orang yang pernah ia kenal. Ia curiga jangan-jangan Hendi adalah salah satu mantan mekanik di bengkelnya dulu. Jika benar, itu pasti sangat gawat. Penyamarannya bisa terbongkar. "Mungkin kamu nggak mengenalku, tapi aku tahu siapa kamu!" Hendi berkata sambil mendekat ke meja Risma. Risma semakin penasaran. Ia ingin memberondong Hendi dengan berbagai macam pertanyaan, tetapi ia berusaha menahan diri. Ia tidak mau tampak panik. "Kamu tinggal di Pasar Minggu bukan?" tebak Hendi dengan gestur meyakinkan. Pertanyaan Hendi mampu membuat Risma menahan napas sejenak. Reflek sepasang alisnya terangkat bersamaan. "Dari mana kamu tahu?" Akhirnya Risma tidak tahan untuk menyembunyikan rasa penasarannya. "Kamu belum jawab pertanyaanku!" Hendi terkekeh. Mendadak Risma sangat kesal pada Hendi. "Aku sudah cukup terbiasa dengan trik cowok yang sok kenal, padahal itu hanya modus saja." Kekehan Hendi semakin tidak terkendali. Ia menyibak rambut lurusnya ke belakang. "Aku percaya itu, tapi pertanyaannya adalah apa untungnya buatku modusin kamu?" Risma semakin kesal. Ia bangkit dan berniat meninggalkan Hendi. Ia tidak mau tampak bodoh di hadapan Hendi. Hendi menggeser badan, memberi ruang agar Risma leluasa bergerak. "Maaf, kalau perkenalan ini membuatmu sebal. Aku hanya berusaha akrab dengan anggota keluarga baru. Itu saja!" Risma tersenyum masam. "Usaha yang bagus, tapi sayangnya sama sekali nggak berkesan." *** Risma mencangklong tas ke pundak. Ia memeriksa kembali file-file yang sudah tertata rapi di atas meja. Sebelum beranjak, ia menarik napas dalam-dalam. Hari pertamanya bekerja jauh dari kesan menyenangkan. Ekspektasinya berbanding terbalik dengan kenyataan. Tadinya ia sangat yakin bisa memberi kesan manis pada Nando, atau paling tidak ia bisa berkenalan secara pribadi dengan putra pemilik bengkel tersebut. Faktanya, boro-boro bisa ngobrol, mendekati lelaki itu saja sangat sulit. Kesan pertama Risma terhadap Nando adalah lelaki itu angkuh dan terlalu formal. Nando tidaklah sama dengan lelaki kebanyakan yang matanya cenderung liar jika ada cewek cantik dan baru dilihatnya. "Apa aku kurang cantik?" Risma bergumam lirih. Padahal di luar sana banyak lelaki yang memelototi penampilannya, atau paling tidak meliriknya meskipun hanya sekilas. Meskipun kali ini Risma berpenampilan tidak semewah saat berada di Jakarta, namun aura kecantikannya tetap terpancar natural. Dan ia sangat menyadari itu. "Atau aku memang terlalu kepedean?" keluh Risma lirih, nyaris tidak terdengar. Risma sadar, tidak semua lelaki bisa tertarik hanya dengan modal kecantikan lahir saja. Ia harus bekerja keras agar Nando bisa ditaklukkan. "Aku pulang dulu!" ujar Desi sambil berjalan melewati Risma. "Iya, hati-hati, Desi!" balas Risma. Risma memandang punggung Desi yang berjalan semakin menjauh. Dalam pandangannya, gadis itu tidaklah lebih cantik dari dirinya, tetapi tadi siang dengan mata kepala sendiri, ia melihat Nando berusaha keras hanya demi mengajak makan siang Desi. Risma yakin ada sesuatu yang membuat Nando tertarik pada gadis itu. Dalam beberapa kesempatan, sepanjang hari ini, Risma mendapati Nando sering mencuri pandang ke arah Desi. Ia bisa mengetahuinya karena meja kerja Desi berada persis di belakangnya. Nando bahkan tampak mencuri kesempatan dan mencari banyak cara agar bisa berdekatan dengan Desi. Itu yang membuat Risma yakin, Nando menyukai Desi. "Apa aku harus bersaing dengan Desi?" Risma tertawa sendiri selepas bertanya kepada diri sendiri. Desi memang tidak lebih baik dari Risma. Secara struktural jabatan, Risma adalah atasan Desi. Tetapi faktanya Desi telah membuat Nando suka. Sehingga Risma tidak bisa hanya mengandalkan modal kecantikan dan jabatan. "Ini baru hari pertama. Masih banyak waktu!" Risma menyemangati diri sendiri. Ia pun berusaha tersenyum. Risma menarik napas dalam-dalam, kemudian mengambil ponsel dari dalam tas. Ia bermaksud memesan taksi online. "Ehhemmhh!" Ponsel Risma terjatuh ke meja karena kaget akibat dehaman Nando yang tahu-tahu sudah ada di hadapannya. "Risma, kamu lihat Desi nggak?" tanya Nando kaku. Ekspresi wajahnya nyaris datar, tanpa senyum sama sekali. "Barusan pulang!" jawab Risma. "Oke, makasih infonya!" Nando balik badan, kemudian meninggalkan Risma. Risma memandang kepergian Nando dengan perasaan sebal. Ia semakin sebal ketika Hendi tampak berjalan menuju ke arahnya. Malas bertemu Hendi, Risma buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Terlambat! Hendi sudah lebih dulu sampai ketika Risma baru saja akan menghindar. "Risma, aku minta maaf. Aku sadar, sikapku tadi siang kurang pantas," ucap Hendi dengan mimik penyesalan. Risma hanya mengangguk saja. Ia masih kesal kepada Hendi dan ia memang sengaja sedikit jual mahal. "Kamu memaafkanku?" Hendi berharap. Risma mendesah tertahan. "Aku nggak papa kok." "Syukurlah!" Hendi merasa lega. "Sebagai bentuk permintaan maaf, izinkan aku mengantarmu pulang." Risma mengerjap kaget. Dalam hati ia mengumpat, bisa-bisanya Hendi modus terbungkus permintaan maaf. "Kamu sudah aku maafin, jadi nggak perlu hal lain untuk mewujudkan bentuk permintaan maaf," ujar Risma diplomatis. Hendi mengedikkan sepasang bahu. "Baiklah, yang penting aku sudah termaafkan. Aku janji nggak akan menyebalkan lagi." Risma mengangguk. "Oke, jadi sekarang tolong kasih aku jalan. Aku mau pulang." Hendi menyingkir, memberi jalan kepada Risma. Tadinya Risma pikir Hendi akan membiarkannya pergi. Namun ketika ia sampai pintu gerbang, Hendi tampak tergopoh mengejarnya. "Ris, tunggu!" Hendi terus berlari. Jaraknya semakin dekat dengan Risma. Risma tidak acuh, pura-pura tidak mendengar teriakan Hendi. Namun karena jalannya lebih lambat ketimbang lari Hendi, akhirnya lelaki itu berhasil mencegatnya. Risma semakin sebal kepada Hendi. Ia berkacak pinggang sambil memelototkan mata. "Belum juga dua menit tadi kamu janji nggak akan menyebalkan lagi. Sekarang sudah diulangi!" Hendi berlagak terkejut, sambil mengatur napasnya yang tersengal. "Aku semenyebalkan itukah?" Risma melengos. "Aku cuma mau mau tanya!" ujar Hendi masih tampak terengah-engah. Risma menatap Hendi dengan sorot kesal. "Tanya apa?" Hendi mengacungkan ponsel ke muka Risma. "Ini ponsel kamu apa bukan?" Risma terkejut sekaligus heran kenapa ponselnya bisa berada di tangan Hendi. "Tadi aku menemukannya tergeletak di atas meja kamu," beritahu Hendi. "Maka itu buru-buru aku mengejarmu." Ekspresi kesal Risma kepada Hendi seketika berubah menjadi ekspresi tidak enak hati. Ia merasa malu sudah berprasangka buruk. Risma tidak bisa membayangkan jika ponselnya sampai ditemukan orang lain dan dibuka-buka isinya, pasti penyamarannya akan terbongkar. Di dalamnya masih terdapat beberapa foto dan videonya beserta keluarganya. Bagaimana kalau tadi Hendi sudah membukanya? Pertanyaan itu terlintas di benak Risma dan itu cukup membuatnya panik. "Bagaimana kamu tahu itu ponselku?" selidik Risma. "Meskipun ada di mejaku, tapi kan belum tentu itu punyaku." "Feeling saja!" jawab Hendi. "Kamu enggak membukanya kan?" "Astaghfirullah, ya enggaklah." Hendi tampak kesal. "Aku mungkin menyebalkan di matamu, tapi aku tahu soal privasi." Risma menatap mata Hendi lekat-lekat, mencari kejujuran di sana. Sadar kalau Risma belum sepenuhnya percaya, Hendi berdalih. "Kalau aku membukanya tadi, pasti kamu sudah keburu jauh. Jarak dari meja kerjamu sampai ke sini lebih dari lima puluh meter. Jika ditempuh dengan berlari, paling cepat satu menit karena banyak belokan. Sedangkan waktu yang kutempuh tadi adalah...." "Oke, aku percaya!" potong Risma, tidak mau mendengar ocehan Hendi lebih lama lagi. "Sekarang balikin ponselku!" Hendi mengembalikan ponsel kepada Risma. "Terima kasih!" ucap Risma sedikit ketus. "Udah terima kasih saja?" tanya Hendi heran. "Aku berlari kencang loh. Bayangkan berapa energi yang terkuras sampai tenggorokanku kering." "Jadi kamu minta imbalan apa?" "Bukan imbalan!" "Lalu?" "Temani aku minum sebagai pelepas dahaga!" Risma terkekeh. Ia merasa geli mendengar ucapan Hendi. "Oke, aku bukan tipe orang yang tidak tahu terima kasih. Jadi, aku temani kamu beli air mineral di dekat halte. Setelah itu biarkan aku pulang!" Hendi melongo. Itu membuat Risma semakin terkekeh. "Nggak papa deh, dari pada enggak sama sekali!" Tiba-tiba terbersit ide dalam benak Risma, "Tapi besok bolehlah aku traktir kamu di kantin!" ujar Risma. Wajah Hendi semringah. "Serius?" Risma mengangguk sambil otaknya merencanakan sesuatu buat acara minum bareng Hendi di kantin besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN