Meskipun kondisi fisiknya lemah, Nia tetap bisa untuk sekadar mengangkat teko berisi air mendidih dari atas kompor kemudian menuangkan air panas tersebut ke dalam cangkir berisi kopi tanpa gula.
Tangan dan kaki sebelah kiri Nia tertopang kruk penyangga. Tangan kanannya menahan beban teko agar tidak tumpah. Begitulah rutinitasnya setiap pagi. Ia tidak pernah terlambat untuk menyajikan kopi hitam pahit kepada Faizin.
Secangkir kopi siap terhidang. Nia menyiapkan sendok kecil ke atas tatakan, untuk suaminya gunakan mengaduk nanti. Ia tidak pernah mengeluh meskipun selalu kesusahan berjalan dengan bantuan kruk penopang badan sebelah kiri, sambil tangan kanan membawa secangkir kopi panas.
Nia selalu menolak setiap kali Faizin membantunya, meskipun sekadar membawakan cangkir kopi. Ia merasa itu kewajibannya, sehingga dengan senang hati melakukannya, setiap hari selama belasan tahun.
Aroma kopi menyerbak. Faizin bisa mengendusnya dari radius lima meter. Semakin mendekat, semakin kuat aroma tersebut.
Fazin mengulas senyum manis, menyambut kedatangan istrinya yang tampak kesusahan membawa cangkir kopi.
Nia membalas senyum Faizin. Ia meletakkan cangkir ke atas meja, kemudian dengan susah payah duduk bersebelahan dengan suaminya. Selepas meletakkan kruk penyangga, ia menepuk paha suaminya.
Tepukan paha Nia adalah bentuk dukungan semangat kepada Faizin. Bagi orang lain, mungkin itu perlakuan kecil biasa, bagi mereka adalah cara untuk saling menjaga kasih sayang.
"Bapak lupa membeli brownis!" ujar Faizin.
"Ibu pesankan via aplikasi ya?" Nia menawarkan.
Faizin melirik arloji di pergelangan tangan. "Enggak keburu sepertinya. Jalanan pasti padat. Apalagi pada jam segini pasti tokonya banyak yang belum buka."
"Mau aku gorengkan pisang?" Nia menawarkan.
Faizin mengerjap. "Memangnya masih punya pisang?"
"Bapak petik dulu di kebun belakang. Hehehe!" Nia menggoda.
Faizin tersenyum geli, sebuah senyum yang hanya bisa ia berikan kepada Nia. Dalam pergaulan ia jarang tersenyum. Wajahnya terkesan angker, ditambah lagi dengan sikapnya yang selalu tegas.
"Masih ada sesir kok." Nia mengklarifikasi.
"Nggak usah, lain kali saja," ujar Faizin. Ia menyesap kopinya sampai menimbulkan bunyi 'serupuutt'. Selepasnya ia mengerjap puas. Betapa ia merasakan kebahagiaan hanya dari secangkir kopi ditemani sang istri.
Nia mengamati penampilan Faizin. Ada yang aneh dari suaminya. "Hari Jumat biasanya bapak make seragam batik kan?"
"Iya, bapak tahu," timpal Faizin. "Ibu kan sudah menyiapkannya di atas kasur."
"Kok sekarang pakai hem biasa?" Nia merasa heran.
Faizin belum siap mengatakan pada istrinya kalau mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi di Reyncar. Maka ia hanya tersenyum untuk mengalihkan rasa keheranan istrinya.
"Ditanya malah senyum-senyum!" Nia mengernyit. Ia menangkap sesuatu sedang disembunyikan Faizin. Tapi ia berusaha berprasangka baik. Suaminya tidak pernah membohonginya, jadi ia yakin jika ada yang disembunyikan maka itu hanya tinggal menunggu waktu sampai nantinya terbuka.
"Senyum pada istri tidak salah kan?" Faizin mengalihkan perhatian istrinya.
"Wajib malahan!"
Faizin tersenyum. "Bagi bapak senyum kepada istri itu bukan hanya kewajiban tetapi juga hak."
Nia terkekeh. Ia berusaha menepis perasaan heran atas penampilan suaminya. Ia tidak mau merusak pagi yang indah ini.
Faizin melirik arloji. Ia selalu berangkat pada jam setengah tujuh pagi. Sehingga meskipun ia ada janji jam delapan, ia harus tetap keluar rumah pada jam biasanya. Masalahnya ia harus ke mana dulu untuk menghabiskan waktu? Tidak mungkin ia menunggu di kafe selama sejam lebih.
***
"Jadi apa yang bapak lakukan di parkiran selama menunggu kafe buka?" tanya Risma setelah mendengar cerita Faizin bahwa lelaki itu sampai di parkiran kafe jam tujuh.
"Bapak sarapan otak." Faizin menunjukkan dua buah buku ke Risma.
"Bapak suka membaca ternyata?"
"Sangat suka."
"Suka karya fiksi juga?"
"Sesekali buat selingan."
"Luar biasa!" puji Risma.
Faizin memeriksa waktu pada layar ponsel. Pukul delapan lebih tiga menit, Diko dan Faisal belum menampakkan diri.
Risma memahami kegelisahan Faizin. "Mereka bukan karyawan bapak. Hehehe."
"Saya menyukai orang yang menghargai waktu, begitu juga sebaliknya, saya benci orang yang tidak menghargai waktu," dalih Faizin.
Risma mengangguk paham. "Diko dan Faisal sudah datang sejak tadi, Pak."
"Oh iya?" Faizin mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Risma menunjuk meja paling pojok. "Coba bapak lihat ke meja nomor tiga belas di sana!"
Faizin menengok ke meja yang dimaksud Risma. Ada dua anak muda di sana yang sedang melambaikan tangan padanya. Ia balas melambai.
"Mari, Pak, kita bergabung bersama mereka!" Risma bangkit.
Risma dan Faizin bergabung ke meja Diko dan Faisal.
"Selamat pagi, Pak!" ucap Faisal yang pakaiannya tampak lebih kasual ketimbang malam waktu itu, sehingga lebih tampak muda dari usianya yang setahun lagi berkepala tiga. Sebagai mantan detektif, ia pandai berkamuflase.
"Selamat pagi semua!" ucap Faizin.
Risma mencolek lengan Diko yang terus saja fokus pada layar laptopnya, seolah tidak ada siapa-siapa di sekitarnya.
"Maaf, lagi nanggung." Diko berkata dengan pandangan tetap fokus ke layar.
Sebenarnya Faizin tidak suka sikap Diko yang tidak menghargai orang di sekitarnya, namun karena Risma pernah menjelaskan karakter anak itu, Faizin akhirnya memahami.
Diko sejatinya anak yang menyenangkan. Lelaki berusia dua puluh dua tahun tersebut suka humor. Namun ketika bekerja di depan komputer ia tidak mau diganggu.
Diko menutup laptop. Ia tersenyum kepada ketiga orang di dekatnya. "Saya baru saja meretas akun IG Gerry Lim! Kalian pasti nggak nanya, iya kan?"
Risma dan Faisal saling pandang. Faizin menatap Diko datar, tidak tertarik penjelesannya.
"Kamu nge-hack?" Risma merasa aneh. Meski Diko memiliki kemampuan seperti seorang hacker, tetapi anak itu tidak pernah mau menerima job tersebut, kecuali jika menyangkut sebuah kasus.
"Iya!" jawab Diko santai. "Gerry Lim sendiri yang minta. Jadi gini, akun IG doi ada yang meretas dan ganti password. Nah, doi minta aku buat mengambil lagi akunnya."
"Gerry Lim itu siapa?" tanya Faizin bingung.
Risma menjawab. "Gerry Lim itu selebgram terkenal, Pak."
"Artis?" Faizin kurang paham apa yang dimaksud selebgram.
"Seperti itulah," sahut Diko.
"Kok bapak tidak kenal ya? Padahal bapak kalau malam suka menonton televisi." Faizin merasa heran.
"Bapak nggak pernah main media sosial?" tanya Faisal.
Faizin menggeleng.
"Bapak sangat beruntung. Seandainya saja saya bisa seperti bapak." Diko berujar.
Risma dan Faisal mengangguk sepakat.
"Jadi begini, Pak Faizin." Diko sudah tidak sabar memberitahukan hasil investigasinya. Ia membuka laptop, kemudian menunjukkan temuannya kepada Faizin. "Dari CCTV toko di seberang bengkel, mobil Civic ini keluar dari Reyncar pukul 14:23 WIB. Pengemudinya tidak begitu jelas, yang pasti ia bergerak ke kiri menyusuri Jalan Surapati."
Faizin menyaksikan pergerakan mobil dalam rekaman CCTV.
Diko membuka file lain. "Di perempatan traffic light, mobil tersebut belok kiri. Video ini saya ambil dari CCTV Klinik Mahardika Utama."
Mata Faizin nyaris tidak berkedip memelototi layar laptop.
Diko membuka file lain. Tangannya menunjuk layar. "Coba perhatikan dengan seksama, Pak. Mobil itu parkir di Alga Maret. Pengemudinya tidak turun, ia menunggu seseorang."
Faizin fokus pada layar, menunggu 'seseorang' yang dimaksud Diko. Tidak sampai dua menit, tampak seorang lelaki gondrong keluar dari Alga Maret menuju mobil.
"Saya zoom saat lelaki gondrong itu akan masuk mobil." Diko mengalihkan video ke file gambar. "Wajah si gondrong ini cukup jelas karena dekat sekali dari kamera CCTV. Silakan perhatikan dengan seksama, barangkali Pak Faizin mengingat sesuatu tentang lelaki ini."
Faizin terbelakak. Jarinya menunjuk layar. "Lelaki itu mirip banget dengan pemilik mobil."
Risma menimpali. "Saya sependapat. Agar lebih jelas sebaiknya kita putar ulang rekaman saat lelaki gondrong berjalan mendekati mobil."
Diko memutar kembali rekaman CCTV pada scene yang dimaksud Risma.
Faizin mengamati pergerakan si lelaki gondrong. "Benar, gestur dan posturnya identik dengan si pemilik mobil."
Diko tersenyum puas. "Nah, sekarang perhatikan apa yang terjadi!"
Dalam rekaman CCTV, lelaki gondrong sempat masuk mobil Civic melalui pintu depan kiri. Ia tampak berbiincang selama lebih dari satu menit dengan pengemudi mobil, setelah itu ia keluar dan masuk ke mobil lain di sebelahnya.
"Si Gondrong pergi menggunakan mobil lain ke arah kanan!" beritahu Diko.
"Bukan pergi, lebih tepatnya menuju bengkel Reyncar untuk pura-pura mengambil mobilnya!" ujar Risma.
Diko mengamini.
Giliran Faisal melaporkan. Ia membuka laptopnya sendiri. "Saya sudah mencari identitas si lelaki gondrong, berdasarkan gambar hasil screenshoot rekaman CCTV Alga Maret."
Semua mata memusat ke layar laptop Faisal. "Silakan bandingkan gambar di Alga Maret dengan gambar yang saya ambil dari akun IG si lelaki gondrong. Kemiripannya 75%."
"Iyap," timpal Risma.
Faisal membuka sebuah file pdf. "Nah ini identitasnya. Silakan dibaca."
Faizin menelepon Nando. "Do, coba kamu kirimkan data pelanggan mobil civic yang hilang kemarin!"
Risma paham, Faizin ingin mencocokkan identitas antara data Reyncar dengan temuan Faisal.
"Saya sedang selidiki aktivitas lelaki gondrong itu. Kita harus pastikan ada kaitan apa dia dengan Desi," ucap Faisal.
"Mantap!" puji Diko pada Faisal. "Mantan detektif pasti nggak membutuhkan waktu lama."
Faisal mencibir, kemudian tertawa.
"Saya akui, kalian anak muda hebat." Faizin kagum.
"Terima kasih, Pak," ucap Diko. "Tapi mohon maaf, saya nggak bisa berlama-lama di sini. Ada job yang sedang menunggu!"
Faisal meledek. "Iyalah, hacker kelas kakap!"
"Oh iya, saya harus beritahukan kepada kalian. Si gondrong katanya melaporkan Reyncar ke polisi. Kemarin ada dua petugas yang melakukan penyidikan dan meminta keterangan beberapa saksi," cerita Faizin.
"Saya yakin itu tipu-tipu saja, Pak," sahut Faisal. "Saya sudah kooordinasikan ini dengan polsek dan polres. Hingga sore kemarin belum ada laporan kehilangan mobil."
Faizin terkejut. "Serius?"
Faisal mengangguk mantap. "Nanti coba saya konfirmasikan lagi dengan Pak Kasat biar semakin jelas."
Faizin geram. "Ada yang mengajak main-main rupanya!"