Faizin bukan tipe orang yang nyaman berada seharian di luar rumah tanpa melakukan kegiatan bermanfaat. Meskipun selepas dari kafe, ia singgah ke perpustakaan, tetap saja ia masih memiliki sisa waktu banyak. Selepas makan siang di sebuah warung, ia tidak tahu harus melakukan apa agar bisa menghabiskan waktu sampai jam empat sore.
Jika Faizin pulang sebelum jam empat sore, pasti Nia akan bertanya macam-macam. Ia memang bisa saja menjawab dengan mengarang cerita. Namun, Faizin tidak pernah bisa membohongi istrinya.
Kenyataan bahwa dirinya dipecat dari Reyncar belum ia sampaikan kepada Nia. Ia khawatir berita buruk itu akan membuat tensi darah istrinya naik. Jika itu terjadi, jelas sangat berbahaya mengingat kondisi istrinya lemah sejak mengalami stroke yang kedua.
Faizin sadar, ia tidak bisa menyembunyikan kenyataan pahit itu terus menerus. Lambat laun, Nia akan tahu. Dari pada istrinya tahu dari orang lain, lebih baik ia memberitahunya lebih dulu. Namun, ia belum siap.
Cara satu-satunya yang harus Faizin lakukan adalah mencari pekerjaan baru. Namun ia pesimis, mengingat usianya yang sudah setengah abad. Perusahaan mana yang mau mempekerjakannya dengan usianya yang tidak lagi muda.
Sambil menyetir, Faizin terus berpikir, mencari solusi terbaik. Berbagai rencana ia gali, mulai dari mengemis pekerjaan pada kenalan, hingga membuat usaha sendiri. Sayangnya, sampai mobil berhenti di depan rumah, ia belum tahu harus berbuat apa.
Sebelum menghentikan laju mobil, Faizin melirik jam di dasbor. Sekarang baru jam dua siang lebih lima belas menit. Ia tidak tahu harus menjawab apa jika nanti istrinya bertanya, kenapa pulang cepat?
Mobil sudah terparkir rapi. Faizin yakin istrinya sudah mendengar suara mesin mobilnya. Tidak mungkin baginya berlama-lama di dalam mobil. Maka mau tidak mau ia segera turun.
Nia sedang membaca majalah ketika Faizin berada di ambang pintu. Ia meletakkan majalah ke atas meja. Diambilnya kruk penyangga, bermaksud menyambut kepulangan suami. Namun, ia harus mengurungkan niatnya itu karena Faizin memberi isyarat agar dirinya tetap berada di tempatnya.
Faizin meletakkan tas ke atas meja. Ia membungkuk agar bisa mencium kening Nia. Nia membalasnya dengan mencium tangan suaminya.
"Kok pulang cepat, Pak?" tanya Nia.
Faizin mengangguk. "Bapak sudah makan tadi." Ia mengalihkan topik.
Nia menatap Faizin teduh. Ia tahu suaminya belum mau menjawab pertanyaannya. Maka ia lebih memilih menimpali pengakuan suaminya ketimbang mengulangi pertanyaan. "Selain hari libur, bapak kan memang nggak pernah makan siang di rumah.
Faizin melepas sepatu satu per satu. Pikirannya terus bekerja, memikirkan banyak hal.
"Bapak tampak lebih letih dari biasanya." Nia cemas.
"Tahu dari mana?"
"Ibu mengenal bapak selama dua puluh lima tahun," dalih Nia. "Ibu tidak sekadar tahu tapi bisa merasakan apa yang sedang bapak sembunyikan."
Faizin mendesah pelan. Situasi ini yang ia takutkan: istrinya mulai mengkhawatirkan dirinya.
"Bapak tidak pernah bohong sama ibu." Faizin berujar.
"Bahkan bapak tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari ibu, begitu kan?"
Faizin memandang Nia nanar. Ia merasa bimbang, apakah akan berterus terang sekarang atau mencari waktu yang tepat nanti. Jika memilih opsi terakhir, ia harus bisa mengondisikan situasi agar istrinya tidak mendesaknya.
"Barangkali bapak mau istirahat dulu," ujar Nia mengalah. Ia akan memilih kesempatan lain untuk memacing suaminya terbuka.
"Iya, bapak ingin tidur." Faizin mengambil sepatu dan tas, kemudian berlalu ke kamar.
Nia menatap punggung Faizin yang bergerak menjauh. Ia merasa iba kepada suaminya, karena pasti sangat berat menanggung beban sendirian.
***
Risma nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nando sedang berdiri di ambang pintu depan rumah kosnya.
"Aku yakin kamu masih berada di kota ini, makanya aku nggak menelepon dulu!" ujar Nando.
"Ya iyalah, ponselku kan belum balik!" timpal Risma sebal.
"Kita akan berdiri saja?" Nando mengerjap.
"Terserah kamu!"
Nando menghela napas berat. "Kamu masih marah sama aku?"
Alih-alih menjawab, Risma keluar menuju kursi teras. Ia duduk tanpa mempersilakan Nando untuk duduk.
Nando duduk di kursi sebelah Risma. "Ada kabar buruk!"
"Soal apa?"
"Pak Faizin dipecat!" Nando menyandar ke kursi.
Risma terkejut. "Hah?"
"Kakekku yang memecatnya." Nando menarik badannya ke depan. Ia menoleh kepada Risma. "Ini tidak mudah buat semuanya."
"Kakekmu mengambil alih?" Risma merasa heran.
"Kakek menganggap Pak Faizin tidak bisa mengatasi persoalan genting. Beliau juga merasa perlu mengambil alih karena papi sedang sakit," jelas Nando. "Tapi bukannya membuat keadaan lebih baik, malah sekarang anak-anak bengkel merasa tidak nyaman."
"Terus siapa yang menggantikan posisi Pak Faizin?"
Nando terdiam.
"Kamu?" tebak Risma.
Nando bungkam.
"Seharusnya kamu, Do! Jika orang baru dari luar, aku nggak yakin keadaannya akan lebih baik!"
"Apa aku mampu?" Pandangan Nando menerawang jauh menembus langit sore.
"Iya juga sih?" Risma meledek.
"Kamu saja enggak yakin!" keluh Nando.
"Aku bercanda!" ujar Risma. "Nggak usah baper!"
Nando tersenyum kecut. "Dengan dipecatnya Pak Faizin, aku mengkhawatirkan dua orang!"
Risma mengernyit. "Maksudnya?"
Nando menoleh. "Ada dua orang yang sedang terganggu kesehatannya, yaitu papiku dan Tante Nia. Jika mereka mendengar kabar ini, itu bisa membahayakan keduanya. Papi bisa ngedrop. Tante Nia juga."
"Siapa Tante Nia?"
"Namanya Rumania," jawab Nando. "Beliau istri Pak Faizin yang kondisi kesehatannya lebih buruk ketimbang papi."
Risma berempati. "Semoga hal buruk tidak terjadi."
Nando mengusap wajah. Hatinya tidak karuan. Pikirannya kacau.
"Kamu mau minum?" Risma berusaha mengurangi beban Nando.
Nando menggeleng.
Risma menjadi serba salah. Ia ingin membantu Nando, tetapi tidak tahu harus melakukan apa.
Sore terus merayap. Langit mulai menjingga. Nando terdiam dengan posisi kaki selonjoran. Sedangkan Risma menatap laki-laki di sebelahnya dengan perasaan iba.
Kesunyian itu pecah oleh nada dering dari ponsel Risma.
Risma melirik layar. Ada panggilan telepon dari Faisal.
"Hallo, Ris!"
"Iya, ada kabar apa?"
"Kamu ada waktu?"
"Banyak, memangnya ada apa?"
"Kita tangkap basah Desi dan si gondrong yuk!"
Risma terlonjak. "Hah? Bagaimana caranya?"
"Kamu ke sini aja, nanti aku jelasin rencananya."
Risma meilirik Nando. "Kalau aku ngajak orang lagi, boleh nggak?"
"Siapa, cowok kamu?"
"Husshh!"
"Kali aja!"
"Boleh nggak?"
"Kamu bosnya, suka-suka kamulah!" Faisal terdengar sedang terkekeh. "Kalau ini berhasil, ada bonus nggak?"
"Kamu duit aja yang dipikirin. Cewek tuh dipikirin, biar nggak jomblo terus!" hardik Risma.
Faisal tertawa. "Memang kamu enggak jomblo?"
"Berisik!"
"Maap, Boss!" ledek Faisal.
"Serius nih, boleh nggak aku ajak orang lagi nggak?"
"Saranku sih kalau dia nggak bisa membantu lebih baik jangan," ujar Faisal, nadanya berubah serius.
"Dia anak bos Reyncar!" beritahu Risma.
"Mmhh, Bolehlah!"
"Okey, makasih!"
"Masama!"
Risma tersenyum senang. Faisal mengajaknya untuk menangkap basah si gondrong dan Risma, itu berarti keduanya memiliki keterkaitan.
"Telepon dari siapa?" tanya Nando penasaran.
"Kepo!"
Nando mendengus. "Kamu tadi menyebut 'anak bos Reyncar', bagaimana aku enggak kepo?"
Risma bingung harus menjelaskan dari mana perihal dirinya menyewa dua orang detektif. Ia sudah bukan bagian Reyncar, takut dianggap ikut campur. Kalau kepada Faizin memang ia sejak awal menawarkan diri.
Sekarang ia bimbang, apakah jadi mengajak serta Nando atau tidak.
"Ada apa sih sebenarnya?" Nando semakin penasaran. "Tadi kamu bilang mau ngajak orang lain. Apa yang dimaksud itu aku? Kalau iya mau ngajak apaan?"
"Ngajak nikah!" jawab Risma asal. Tapi kalau Risma pikir, Nando memang berhak tahu.
"Serius ngajak nikah?"
Risma tertawa. "Dih, ngarep banget!"
Nando mendengus.
"Kamu ada waktu nggak?" tanya Risma. Ia sudah mantap mau mengajak serta Nando dalam penyelidikannya.
"Mau apa memangnya?"
Risma melotot. "Ada waktu enggak!"
"Ada!"
"Aku mau ngajakin kamu jalan-jalan!"
Nando mengerjap.