Sutradara Sandiwara

1524 Kata
Faisal mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Di sebelah kirinya Risma sedang mengikat rambutnya. Sedangkan Nando yang duduk di jok tengah, masih belum mengerti akan diajak ke mana. "Sengaja aku baru menjelaskan dalam perjalanan ini karena waktunya mendesak," ujar Faisal. Risma merapikan rambut di dahinya. "Kalau begitu jelaskan sekarang dengan kalimat efektif!" "Siap, Bos!" Faisal tertawa. Ia melirik Nando melalui spion dalam. "Nando di pihak kita, tenang saja!" Risma meyakinkan Faisal. Nando bersungut-sungut semakin tidak mengerti. "Diko ngasih laporan, katanya Desi sama si gondrong janjian ketemuan di studio musik," beritahu Faisal. "Sudah fix, mereka akrab!" Nando kaget. Ia bertanya pada Risma. "Si gondrong yang dimaksud itu pemilik mobil civic yang hilang itu?" Risma mengangguk. "Iya. Nanti kalau ini selesai aku jelasin semua. Sekarang kamu ikuti saja permainan aku sama Faisal!" Nando mendengus sebal. Faisal terkekeh. "Kalian mesra sekali. Hehehe!" "Berisik!" hardik Risma. "Teruskan ceritamu!" Faisal mengangguk, masih terkekeh. "Mobil civicnya memang belum diketahui keberadaannya. Aku yakin itu disembunyikan di suatu tempat." Nando yang tidak tahu apa-apa soal penyelidikan itu, semakin terkejut. "Mobil civic yang hilang?" Risma menoleh. "Sudah kubilang, kamu diam saja dulu. Nanti pasti aku ceritakan dari awal!" Nando tidak sabar. "Tinggal jawab iya atau enggak, apa susahnya sih? Informasi keberadaan mobil itu sangat penting buat Reyncar!" Risma mengatupkan bibir, paham dengan kegelisahan Nando. "Okey, kamu memang harus tahu. Mobil itu dibawa orang dengan sepengetahuan si gondrong. Jadi saat ia marah-marah di bengkel waktu itu, itu hanya sandiwara saja." "Seriusan?" Nando kaget bukan main. "Iya, Fer-nan-do Hi-er-ro!" Risma mulai menyesal mengajak Nando. "Sekarang tolong jangan potong cerita Faisal." Nando menarik napas lega karena ternyata mobilnya tidak hilang, sekaligus geram kepada si gondrong. "Boleh aku lanjutin ceritanya?" Faisal bertanya. "Iya, silakan!" jawab Nando. Faisal melanjutkan ceritanya. "Semalam, Diko mencoba meretas semua akun media sosial Desi. Ternyata Desi sama si gondrong intens berkomunikasi via DM Twitter. Meskipun menggunakan akun anonim, tapi bukan masalah sulit bagi Diko buat menemukan semua akun Desi." Nando semakin antusias mendengarkan. Banyak yang ingin ia tanyakan tetapi ia menahan diri. "Dari percakapan tadi malam, Desi dan si gondrong janji ketemuan habis maghrib di studio AXL Music." "Jadi rencana kamu apa?" tanya Risma. "Kita pantau dulu situasinya. Aku sudah menanam orang di sana buat mencuri dengar percakapan mereka. Kamu dan Nando menunggu dulu pada jarak aman. Nanti aku kabari apa yang harus kalian lakukan selanjutnya." "Kamu ikut ke dalam atau bersama kami?" tanya Risma. "Tergantung situasinya. Desi itu bisa melakukan apa saja, termasuk membayar detektif. Makanya aku enggak akan menampakkan diri dulu, takut ada yang mengenalku." Nando mulai menemukan benang merah atas obrolan yang ia dengar sejak tadi. "Sampai di sini paham?" "Paham!" jawab Risma. Nando mengangguk. Mobil terus bergerak, membelah aspal pinggiran kota Tegal. Sampai di depan studio, mereka mencari tempat parkir ideal. "Di sini cukup strategis, dekat pintu masuk," ujar Faisal. "Kita tunggu informasi dari Mr. X dulu." "Mr. X?" Risma bingung. "Orang yang aku tanam di dalam," jawab Faisal. "Kenapa enggak kamu minta ia melapor saja ketimbang menunggu?" ujar Risma menyarankan. Faisal tersenyum. "Ini bukan seperti perusahaan yang kalian pimpin, atasan menyuruh bawahan melapor. Ini penyamaran, situasinya berbeda jauh dengan kantoran." Risma mengerjap paham. "Okey!" "Posisi Me. X ini tidak memungkinkan buat bergerak bebas. Ia ibarat sniper yang sedang membidik target. Meskipun target terkunci tetapi ia tidak bisa asal menembak. Sekadar informasi, sniper hanya akan melepaskan satu peluru untuk satu target." "Okey, okey!" Risma berusaha memahami. "Jadi kita menunggu?" "Iya!" Faisal melirik arloji. "Dua menit lagi, seharusnya Desi akan sampai sini." "Ia selalu tepat waktu, tenang saja!" Nando meyakinkan. "Faizin mendidik kami sangat keras agar disiplin waktu." "Luar biasa!" puji Faisal. Ia melirik arloji. "Kalau begitu kita hitung mundur. Seharusnya Desi akan datang satu menit lagi ... dari sekarang! Lima puluh delapan ... lima puluh lima...!" Sebuah mobil Fortuner putih baru saja masuk parkiran. "Itu Desi!" beritahu Nando. Jarinya menunjuk mobil Fortuner putih. "Benar-benar tepat waktu!" Faisal menunjukkan arlojinya ke udara. Faisal segera mempersiapkan alat-alatnya. Sebuah pesawat mirip speaker yang tersambung kabel ia letakkan di atas dasbor. Dipencetnya tombol volume naik, sayup-sayup terdengar suara dalam sebuah ruangan. Sesekali terdengar jelas beberapa orang sedang ngobrol yang diselingi tawa. "Hai, Des!" suara dari speaker terdengar melengking, sedikit bising. Nando memajukan badan agar dapat mendengar lebih jelas. "Sama siapa?" Suara lelaki yang tadi menyebut 'Des' bertanya. "Sendirianlah, masa sama Faizin? Hahaha!" Itu suara Desi. Nando dan Risma saling pandang. "Kirain sama si Dodo mikado beya beyo. Hahaha!" suara lelaki tertawa. Nando yakin yang dimaksudkan pemilik suara lelaki itu adalah dirinya. "Aku nggak bisa lama. Yang kamu tunggu kan amplop bukan aku." suara Desi jutek. "Wait, aman nggak di sini?" suara lelaki. "Kamu ambil di mobil saja!" suara Desi. Faisal mencolek Risma. "Bersiaplah, mereka transaksi di mobil!" Risma mengangguk. Ia menghitung jarak antara mobil yang ia tumpangi sekarang dengan mobil Desi. "Kamu bisa sembunyi dari balik Katana hitam itu!" tunjuk Faisal. Risma mengangguk sepakat. Ia melirik Nando. "Kamu keluarnya nanti setelah aku menangkap basah mereka!" Nando mengangguk. "Oke!" Risma menyiapkan perekam video pada ponselnya. Setelah memasukannya ke saku baju, Ia keluar mobil. Sambil mengendap ia menuju ke mobil Katana putih. Aman! Risma berhasil sembunyi di balik Katana yang posisinya bersebelahan dengan Fortuner. Terdengar bunyi bip, menandakan kunci pintu mobil Fortuner terbuka. Risma memiliki ide cemerlang. Dengan sigap, ia masuk ke mobil Fortuner melalui pintu tengah sebelah kiri, kemudian sembunyi di balik jok. Tidak lama kemudian Desi keluar sendirian. Ia segera masuk mobil. Risma bingung kenapa tidak ada orang lain bersama Desi? Kebingungan Risma tidak berlangsung lama. Si gondrong keluar menuju Fortuner. d**a Risma berdebar, takut ketahuan. Si Gondrong masuk mobil Fortuner melalui pintu depan kiri. Risma segera mengaktifkan rekaman video kemudian mengarahkannya ke depan dengan hati-hati. "Nominalnya sesuai perjanjian kan?" tanya si gondrong. Risma menyerahkan amplop cokelat kepada si gondrong. "Tenang aja, aku tambahin. Kerja kamu oke!" Sambil tersenyum senang si gondrong bersiap menerima amplop, namun tiba-tiba Desi menrariknya kembali. "Ingat, jangan pernah bawa Civic itu ke bengkel Reyncar!" "Tenang saja. Mobil itu kan bodong! Sebentar lagi bakal dipreteli dan dijual ke penadah." Si gondrong meyakinkan. Desi menatap si gondrong tajam. Setelah yakin, ia menyerahkan amplopnya. Si gondrong mencium amplop cokelat senang. "Senang berbisnis dengan Anda!" "Kamu boleh keluar!" suruh Desi. "Setelah ini jangan pernah lagi nelepon atau nemuin aku, kecuali aku sendiri yang menghubungi kamu." Jari jempol dan jari telunjuk si gondrong membentuk huruf 'o'. "Siap, Bos!" Ia pun keluar mobil. Risma menarik tangannya, rekaman selesai. Ia segera memasukkan ponsel ke saku baju. Ia tersenyum puas berhasil memiliki bukti bahwa Desi adalah sutradara sandiwara hilangnya mobil Civic. Dari balik kemudi, Desi menarik napas lega. Urusannya sudah selesai. Ia bersiap pulang. Mesin ia nyalakan, kemudian menengok spion dalam. Mata Desi terbelalak ketika dari spion dalam, ia melihat sebuah lutut di jok tengah. Spontan ia menoleh. Namun sebelum ia mencari tahu siapa sosok di belakangnya, Risma terlebih dulu mengayunkan lengan kanan ke leher Desi. Desi tercekik. Matanya mendelik. Kedua tangannya berusaha melepaskan cekikan Risma. Sayang tenaganya kalah jauh dari Risma yang jago ilmu bela diri. Risma mengendurkan lengan agar Desi tetap bisa bernapas. Situasi tersebut digunakan Desi untuk mencoba melepaskan diri. "Kalau berusaha melawan, aku cekik!" ancam Risma sambil menekan sedikit lengannya ke leher Desi." Desi menuruti kata-kata Risma. Ia melepaskan kedua tangannya dari lengan Risma. Tanpa Risma sadari, jari Desi menyentuh tombol rekaman video di atas dasbor. "Anak baik!" ucap Risma. "Sekarang dengerin aku dan jangan coba-coba melawan!" Desi mengacungkan jempiol sebagai isyarat bahwa dirinya akan patuh. "Aku sudah merekam video kamu sama si gondrong tadi. Aku nggak nyangka kamu selicik itu!" Risma menekan leher Desi. Desi kelabakan tidak bisa bernapas sampai Risma mengendurkannya lagi. "Sudah kubilang, jangan pernah macam-macam lagi denganku, tapi kamu malah membuat skenario seolah-olah aku yang menghapus file rekaman CCTV. Itu tindakan paling goblog abad ini! Hahahaha!" "Le-lepaskan a-aku!" Desi memohon dengan suara mengejan dan terbata. "Kamu harus mengakui ini semua di hadapan kakeknya Nando dan Pak Faizin. Mengelak pun percuma karena aku sudah punya buktinya." Risma menekan leher Desi. Desi meronta-ronta karena tercekik. Ketika Risma mengendurkannya ia terbatuk-batuk dengan napas memburu. "Balikin ponselku sekarang!" bentak Risma. Tangan Desi menunjuk laci dasbor. Risma memiringkan badan Desi ke kiri agar dapat menjangkau laci dasbor. "Ambil!" Desi mengambil ponsel Risma dari dasbor, lalu menyerahkannya pada Risma. Dengan tangan kiri, Risma memasukkan ponsel ke saku celana. "Aku bisa saja mencekikmu, tapi kematianmu tidak mengubah keadaan. Sehingga aku akan biarkan kamu hidup dengan syarat kamu akui semua ini kepada keluarga besar Reyncar. Jika kamu tidak melakukannya, aku bukan cuman akan melaporkanmu ke polisi tapi juga akan benar-bnar mencekikmu sampai napasmu lepas. Paham?" Desi mengacungkan jempol. Risma melepaskan lengannya dari leher Desi. Napas Desi terengah-engah sambil mengelus-elus leher Wajahnya merah padam. Jantungnya berdebar cepat. Ia tadi sempat takut mati. Risma keluar mobil, meninggalkan Desi. Ia kembali ke mobil Faisal. "Kenapa kamu nggak turun, Do?" tegur Risma. "Kamu akan merasa ngeri kalau melihat aku mencekik Desi." "Tadi aku mau turun, tetapi dicegah Faisal," jawab Nando. "Lebih baik Desi tidak tahu kalau Nando ikut kamu, Ris!" dalih Faisal. "Iya juga sih!" Risma berujar. "Kita pulang?" ajak Faisal. Ia menyalakan mesin mobil. "Kita makan!" ajak Risma. "Setuju!" timpal Faisal. Tanpa mereka sadari, Desi baru saja menelepon komplotan si gondrong. Jumlah mereka cukup banyak, sedang bergerak menuju mobil mereka. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN