Dilema Faizin

1175 Kata
Tujuh lelaki berbadan kekar, berbondong-bondong keluar dari studio menuju tempat parkir. Tampang mereka beringas, ibarat harimau sedang kelaparan. Mereka merangsek, mengelilingi mobil Faisal. "Sudah kuduga!" keluh Faisal. Wajah Nando pucat. Lututnya gemetar. Lidahnya kelu, melihat salah satu dari mereka mengetuk jendela. "Jangan ada yang keluar!" saran Faisal. "Tapi mobil kita nggak bisa jalan terkepung mereka." Risma cemas. Meskipun ia memiliki ilmu bela diri dan terlatih, tetapi menghadapi tujuh orang sekaligus bukan sesuatu yang mudah, apalagi selain dirinya, hanya Faisal saja yang terlatih menghadapi ancaman fisik. "Kita harus ngapain?" Nando panik. Risma menoleh. "Kamu cukup memastikan celanamu nggak basah, itu aja. Kasihan Faisal, mobilnya bisa pesing!" Nando sebal sekaligus heran, Risma masih bisa bercanda pada situasi gawat seperti sekarang ini. Salah satu dari gerombolan itu kembali mengetuk kaca mobil, lebih keras dari sebelumnya. "Aku turun aja!" ujar Risma. "Jangan buang-buang tenaga. Lawan kita nggak imbang," cegah Faisal. "Mobil kamu bisa bonyok kalau kita bikin mereka nggak sabar!" hardik Risma. "Tenang!" Faisal malah mainan ponsel. Itu membuat Nando heran. "Kamu ngapain sih?" Risma kehabisan akal, tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin mereka tetap berada di dalam. Hanya satu cara untuk keluar dari situasi ini, yaitu melawan. Faisal memasukkan ponsel ke saku. "Ya sudah, kalau kamu mau turun!" "Dari tadi kek!" Risma membuka pintu. Ia bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Nando menahan napas, melihat gerombolan itu merangsek ke arah Risma. "Tolong kalian menyingkir, kami mau lewat!" pinta Risma garang. Ajaib, pemimpin gerombolan itu memberi isyarat agar pasukannya mundur. Mereka mundur teratur tanpa perlawanan. Nando kaget, meskipun bisa bernapas lega. Ia heran, tidak menyangka Risma berhasil membuat gerombolan itu pergi tanpa kekerasan. Keheranan Nando terjawab ketika sebuah mobil patroli polisi memasuki area parkir dengan membunyikan sirine. Faisal keluar dari mobil lalu menghampiri pengemudi mobil patroli. Ia berbincang sejenak, mengacungkan jempol, dan kembali ke mobilnya. Risma tersenyum geli. Ia baru paham kenapa gerombolan itu menyingkir. Lutut Nando masih bergetar, meskipun hatinya sudah merasa lega karena ancaman telah beralalu. Risma masuk mobil, lalu melotot kesal pada Faisal. "Kamu menelepon polisi nggak bilang-bilang!" Faiisal cengar-cengir. Nando baru memahami situasi. "Jadi kamu mainan ponsel itu tadi menghubungi polisi?" tanyanya kepada Faisal. "Aku tadi cuman chat aja. Posisi mereka di pos traffict light, cuman dua ratus meter dari sini." "Owalah!" Nando tertawa. Risma menunjuk ke depan. "Mobil Desi sudah nggak ada!" *** Faizin tertegun, mendengar kumandang azan isya dari mushola dekat rumah. Ada getaran halus dalam hatinya. Tanpa sadar bibirnya bergumam, mengikuti lafaz azan. Kadang terbersit dalam pikiran Faizin untuk sholat, begitu juga sekarang. Hatinya hampa selama puluhan tahun. Kekayaan dan reputasi belum cukup membuatnya memiliki kedamaian. Benar, ia merasa bahagia dengan keadaan hidupnya yang serba kecukupan. Namun, ada sesuatu yang kosomg dalam sudut hati, ia tidak tahu kenapa. Seringkali ia berpikir, kekosongan itu adalah karena ia jauh dari Tuhan. Waktu remaja, Faizin masih sering berjamaah di masjid. Ia juga aktif mengikuti pengajian. Ia mulai jarang sholat ketika kuliah dan berhenti sama sekali ketika mengenal Nia. Nia adalah perempuan baik. Ia menjadi atheis sejak SMP, meskipun status pada KTP adalah beragama Islam. Ia juga sebenarnya toleran. Kerap kali ia mengingatkan Faizin untuk sholat. Namun tanpa ia sadari, pemikirannya mempemgaruhi Faizin. "Pak!" Faizin terkesiap. Ia baru sadar istrinya sudah ada di sebelahnya. Nia tersenyum iba. Ia tahu suaminya kadang tersentuh lantunan azan. Seperti tadi, ia memperhatikannya dari jauh. "Tadi, Pak Reynaldi menelepon!" beritahu Nia. Faizin cemas jika Reynaldi memberi tahu dirinya sudah dipecat. "Beliau pesan apa?" "Kita duduk di ruang tengah yuk?" Nia ingin membahas sesuatu. Faizin memiliki firasat, Nia akan membahas sesuatu yang penting. Ia menebak-nebak, jika bukan perihal kesehatan Reynaldi, pasti soal bengkel. Faizin mengangguk. Ia berjalan berdampingan dengan istrinya menuju ruang tengah. Faizin membantu istrinya duduk. Selepasnya ia duduk bersebelahan dengan istrinya. "Pak Reynaldi mengabarkan kondisi kesehatan beliau membaik dan dokter memperkenankan untuk melakukan pemulihan di rumah," beritahu Nia. Faizin tersenyum lega. "Syukurlah!" Nia melanjutkan. "Beliau juga meminta bapak untuk mengunjunginya besok siang, sepulang beliau dari rumah sakit." "Bapak ingin menjemput beliau, mengantarnya sampai rumah," ujar Faizin. "Nah, justru itulah beliau menelepon bapak. Beliau tidak ingin dijemput karena Pak Arya yang akan melakukannya." "Pak Arya?" "Pak Arya tidak ingin bertemu bapak!" Faizin menelan ludah. Ia sedih, Pak Arya masih saja membencinya. Nia meraih tangan Faizin. "Bapak ada masalah apa dengan Pak Arya?" Faizin mendesah tertahan. "Saya tahu bapak sedang ada masalah," ujar Nia. Faizin bungkam. Nia meremas telapak tangan Faizin. "Bapak boleh cerita seperti biasanya. Ungkapkanlah semua, biar hati bapak sedikit lega." Faizin menatap istrinya teduh. "Ya biasalah, ibu kan tahu seperti apa karakter Pak Arya!" Nia menatap Faizin lekat-lekat. "Biasanya tidak sampai membuat bapak segelisah ini!" Faizin tersenyum meskipun harus bersusah payah melakukannya agar terlihat wajar. "Gelisah bagaimana?" "Ibu bisa merasakannya, Pak!" Faizin menunduk. Ia semakin sulit mengelak. Nia menarik telapak tangan Faizin, lalu menciumnya. "Ibu nggak akan memaksa bapak untuk cerita, cuman bapak nggak bisa menanggung beban ini sendiri." Faizin merengkuh bahu Nia, membenamkan kepala istrinya ke dadanya. Ia ingin sekali menceritakan semua seperti biasanya. Ia tidak pernah menyembunyikan sesuatu, namun kali ini ia sangat cemas. Kecemasan Faizin bukan tanpa sebab. Jika ia mengabarkan pemecatannya kepada Nia, ia takut darah tinggi istrinya itu naik. Ia tidak sanggup membayangkan hal buruk akan menimpa istrinya jika itu terjadi. "Bapak mengkhawatirkan ibu?" tanya Nia. Faizin bungkam. *** Hendi terbelalak, menonton video kiriman dari Desi. Ia tidak habis pikir kenapa Risma bisa mencekik leher Desi. Hendi yakin video itu bukan editan. Hanya saja ia sulit mempercayai Risma berbuat sesadis itu. Menurutnya, apa pun alasannya, tindakan Risma kepada Desi tidak bisa dibenarkan. Kadang Hendi menduga, motif Desi mengirimkan video itu hanya ingin memprovokasinya agar menjauh dari Risma. Namun ia berpikir, apa pun motif Desi, Risma tetap keterlaluan. Desi hanya mengirimkan Video itu tanpa pesan teks apa pun. Itu membuatnya penasaran. Maka itu ia menelepon Desi. "Hallo, Des!" "Hallo, Hen!" jawab Desi dibuat separau mungkin. "Kamu nggak papa kan?" Hendi cemas. "Ya beginilah!" "Kamu terluka?" "Hatiku yang terluka," jawab Desi. "Aku takut, Hen!" Hendi ingin mendengar suara hatinya bahwa Desi sedang mendramatisir, tetapi ia tetap cemas memikirkan kondisi Desi. "Aku belum bisa cerita, lebih tepatnya nggak berani cerita!" Terdengar nada ketakutan Desi. "Cerita aja!" Hendi penasaran. "Kamu pasti nggak akan percaya." Terdengar isak tangis Desi. "Ceritakanlah!" desak Hendi. "Maaf, Hen, nggak bisa!" Kali ini Desi menangis. Hendi menarik napas dalam-dalam. Ia menjadi semakin cemas. "Aku takut!" Desi sesenggukan. Hendi tidak tahu, Desi mendramatisir atau tidak. Namun yang pasti ia yakin Desi sedang terguncang hatinya. "Aku mau resign dari Reyncar saja, Hen," ujar Desi parau. "Jujur aku kerja di sana motivasinya karena kamu. Bahkan aku sampai gelap mata karena mempertahankan kamu. Sekarang aku sadar semua itu hal bodoh yang pernah aku lakukan, karena kamu sudah nggak mungkin aku miliki lagi." Hendi tercenung. "Seharusnya aku sadari ini sejak lama!" Tangis Desi kembali pecah. "Maafkan aku, Hen." Hendi tidak tega mendengar Desi menangis. "Aku memang jahat. Aku nggak pantas buatmu. Kalaupun kamu nggak bisa mencintaiku seperti dulu, kuharap kamu sudi memaafkanku." Selepas mengatakan itu, Desi mengakhiri panggilan telepon sepihak. Hendi termenung dengan ponsel masih menempel di telinga. Tiba-tiba, satu per satu kenangan masa lalu bersama Desi melintas di benaknya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN