Tepat Waktu

1331 Kata
Mobil boks baru saja parkir di depan vila. Tiga orang turun dari kabin. Sang sopir ke belakang, membuka pintu boks. Dua lainnya memasuki vila. Risma bangkit dari tempat duduk. "Katering datang, saya keluar dulu, Pak." Ia pamit kepada Faizin. Faizin mengangguk. Pandangannya lebih fokus pada seorang anak muda yang wajahnya tidak asing baginya sepuluh tahun lalu. Meskipun rahangnya tampak lebih kokoh, badannya lebih gempal, kulitnya lebih gelap, tetapi sorot mata bengalnya tidak berubah. Faizin melirik waktu di ponselnya: Pukul 09:51 wib. Ia tersenyum, anak muda itu datang sembilan menit lebih awal dari waktu yang tertera di undangan. Faizin berdiri, menyongsong anak muda bertubuh gempal yang berjalan mendekatinya. Sementara Risma tampak sedang berbincang dengan perempuan berhijab yang datang membawa katering pesanannya. "Hendi Syahrizal!" seru Faizin gembira. Anak muda yang dipanggil 'Hendi' itu tersenyum lebar. Ia meraih tangan Faizin, mencium punggung telapak tangannya penuh hormat. Lelaki setengah baya itu balas memeluknya erat. Mantan pimpinan dan karyawan itu larut dalam dekapan yang cukup mengharukan. "Apa kabarmu, Nak?" Faizin melepas pelukan. Ditatapnya mata Hendi yang sekarang berkaca-kaca. "Hei, kamu tidak pantas menangis, Jagoan!" Hendi tersenyum malu. Ibu jarinya menyeka air mata yang belum sempat jatuh. "Alhamdulillah baik. Saya bahagia bisa bertemu bapak lagi." Air matanya mengalir, kali ini ia membiarkan saja. Ibu jarinya tidak cukup untuk membendung tangis yang mulai deras. "Duduklah!" Faizin kembali ke kursi, diikuti Hendi. Mereka duduk bersebelahan. "Itu mobil punya kamu?" tanya Faizin. Jari telunjuknya teracung lurus ke arah mobil boks di depan vila. Hendi hanya menggeleng, masih sibuk menata perasaan haru dalam hati. Pertemuan dengan Faizin sangat emosional baginya. Bagaimana tidak, ia telah berkali-kali mencari keberadaan Faizin tersebut namun tidak kunjung berhasil. Sampai akhirnya, bulan lalu tanpa sengaja ia bertemu Risma yang memberitahukan bahwa Faizin pindah ke luar kota. Setelah berbincang-bincang, mereka sepakat untuk mengadakan reuni terbatas. "Tapi kok kamu datang bersama mobil katering?" tanya Faizin dengan nada bingung. "Saya hanya menumpang saja. Mbak Widya yang punya katering adalah tetangga saya." "Cerdas!" Faizin mengangguk-angguk. "Jangan-jangan kamu yang merekomendasikan katering itu? Selain dapat komisi, juga tumpangan gratis, benar begitu?" Hendi tertawa lebar. Meski Faizin mengucapkannya tidak dengan nada bercanda, tapi baginya itu lucu. Ia hafal benar karakter Faizin. "Kamu sudah tidak ngaret waktu lagi, kan?" Kembali Hendi tertawa. "Enggaklah, Pak." "Kenapa?" "Karena sekeluar dari Reyncar nggak ada pimpinan setegas bapak, jadi ngaretnya saya menjadi percuma." Hendi berkelakar. Dahi Faizin berkerut. Setelah Risma, kini Hendi mengatakan hal menyenangkan yang tidak ia anggap sebagai kebohongan, pemanis, dan semacamnya. "Jadi, dulu di Reyncar kamu ngaret waktu itu cuma nyari perhatian saja?" Hendi menggaruk-garuk hidung. "Ya, begitulah kira-kira." "Dulu kamu masuk Reyncar atas rekomendasi Nando. Awalnya bapak menduga itu hanya karena solidaritas teman, tetapi kamu berhasil membuktikan rekomendasi Nando tidak salah." Faizin mengingat-ingat wajah putra pemilik bengkel yang entah bagaimana kabarnya sekarang. "Dulu kami sekelas di SMK. Di sekolah dulu ia dipanggil temannya dengan nama lengkap: Fernando Hierro. Konon diambil dari salah satu nama bintang sepakbola Eropa di era ketika Pak Reynaldi masih muda." "Bintang sepakbola Spanyol!" Faizin membetulkan. "Ingatan bapak luar biasa!" puji Hendi. "Menjilat bapak tidak ada untungnya bagimu, dulu atau pun sekarang." Faizin terpingkal-pingkal, sampai mengundang perhatian Risma dan Widya yang sedang berbincang serius, tidak jauh darinya. Kedua wanita beda zaman itu menoleh ke arahnya. Widya melambai ke arah Hendi. "Mbak pulang dulu ya?" Hendi mengacungkan ibu jari ke arah Widya, gestur pengganti kata 'iya'. "Jangan lupa jemput saya, Mbak!" Widya mengerjap, pura-pura kesal. "Mbak besok ke sini lagi, bukan buat jemput kamu, tapi untuk ngambil piring sama gelas!" "Kasihan!" ledek Risma kepada Hendi. "Kamu itu numpang tapi lagaknya kayak bos. Hahaha!" Hendi menggerutu tidak jelas. Wajah kesalnya tampak lucu, membuat semua yang ada di ruang tamu tertawa, kecuali Faizin. "Ya sudah, saya pamit dulu. Kalau butuh apa-apa tinggal WA saja ya, Dek?" Widya mengulurkan tangan kepada Risma, berpamitan. "Iya, makasih, Mbak Wid!" Risma menjabat tangan Widya. Widya tersenyum kepada Risma. "Sama-sama!" Selepasnya, ia menoleh ke arah para lelaki. Kepalanya sedikit mengangguk, memberi isyarat pamit kepada Faizin. Selepasnya ia keluar diantar Risma sampai teras. Tinggal Faizin dan Hendi di ruang tamu. "Sekeluar dari Reyncar kamu kerja di mana, Hen?" tanya Faizin. "Saya menyesal keluar dari Reyncar. Tapi itu harus saya lakukan karena saya merasa dimanfaatkan Pak Arya," ujar Hendi. "Tapi bapak dengar kamu naik jabatan?" "Semua karena Nando yang merekomenadasikan," dalih Hendi. "Sekarang saya merasa bersalah, karena secara tidak langsung menyebabkan Nando terbuang dari keluarga besarnya." "Maksudnya?" "Saya disuruh mengawasi Nando oleh Pak Arya, jika menolak saya akan dipecat. Setelah Nando pergi saya baru menyadari semuanya." "Lalu kamu kerja apa?" "Saya menjadi pemalas, Pak!" Hendi terkekeh. "Malas kok bangga?" Kekehan Hendi berhenti. "Saya kerja apa saja yang penting halal, mulai dari kuli bangunan sampai menjadi mandor." "Karir kamu bagus juga!" "Setidaknya itu saya raih bukan dengan cara menyikut teman sendiri." Nando menunduk pedih. "Menjadi kuli bangunan itu sangat keras. Ada masalah dikit dengan teman cara penyelesaiannya dengan berantem. Saya sampai menjadi jagoan di sana, sampai saya berpikir mungkin jabatan mandor didapatkan dengan cara berantem." "Kenakalan remaja itu hal lumrah, namanya juga masa-masa mencari identitas diri. Semua bisa menjadi positif selagi tahu bagaimana cara menyalurkannya." Hendi mengangguk-angguk, sekadar cara menunjukkan dirinya memahami kalimat Faizin. "Dulu bapak pernah nakal juga waktu SD. Mangga tetangga sering jadi sasaran lemparan batu. Bapak melakukannya bukan karena buahnya, tetapi sensasi dikejar anjing itulah motivasinya. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil lolos dari kejaran piaraan pemilik kebun mangga." Cerita Faizin cukup menarik bagi Hendi. "Wah nggak nyangka ternyata bapak pernah nakal juga." Faizin melanjutkan. "Anjing itu memang tidak pernah berhasil menangkap bapak, tetapi di rumah, tangan bapak sering dipukul pakai rotan oleh ibu. Beliau malu karena sering mandapat aduan pemilik kebun. Beliau selalu menggunakan cara keras dalam mendidik bapak." Hendi memasang telinga, mulai tertarik dengan cerita Faizin. "Beda dengan ibu yang keras, ayah lebih bijak menyikapi kenakalan anaknya. Beliau memasukkan bapak ke sekolah sepakbola. Di sana bapak menjadi pemain sayap yang kalau lari susah dihentikan lawan." Hendi kagum dengan cara ayah Faizin mengarahkan anaknya. Andai saja ia punya ayah sehebat itu, ujarnya dalam hati. "Sayang, pada sebuah turnamen antar sekolah sepakbola, kaki bapak cidera parah. Tamat sudah mimpi bapak buat jadi pemain sehebat Maradona." Hendi merasa prihatin. "Bapak sedih, tapi ayah selalu punya cara untuk menumbuhkan semangat bapak. Sayang, waktu bapak di bangku SMP, beliau meninggal karena sakit." Mata Faizin menerawang jauh, keluar vila, mendarat di langit. "Ibu menjadi single parent. Beliau tangguh, sangat tangguh. Didikannya sangat keras, bisa dibilang semi militer. Awalnya bapak kaget, tapi lama-lama terbiasa juga." Hendi hanyut dalam cerita Faizin. "Disiplin keras yang bapak terapkan di sekolah belumlah seberapa ketimbang yang pernah bapak dapatkan dari ibu. Namun, setelah tidak menjadi kepala bengkel, bapak sadar, penerapan disiplin itu terlalu keras untuk karyawan bengkel." "Tapi bapak berhasil membuat Reyncar menjadi bengkel nomor satu berkat kedisiplinan yang bapak terapkan!" Faizin menggeleng. "Faktanya hanya kamu yang bisa datang tepat waktu." Ia melirik waktu pada layar ponsel. "Tiga menit lagi pukul sepuluh. Anak-anak lain belum sampai." Hendi menatap Faizin penuh simpati. Ia kagum kepada lelaki di sebelahnya yang masih peduli kepada kedisiplinan mantan-mantan karyawannya. Tin tin Faizin dan Hendi serempak menoleh ke luar vila demi mendengar bunyi klakson. Sebuah Toyota Fortuner Hitam tampak gagah terparkir di depan vila. Dua anak muda baru saja keluar dari mobil. Dari pintu sebelah kanan keluar seorang pemuda gagah berkaca mata hitam dan dari pintu sebelah kiri keluar seorang gadis berwajah oval. "Nando dan Desi!" pekik Hendi senang. Akhirnya lengkap sudah peserta reuni yang digagasnya. Nando melepas kaca mata hitam lantas mencangklongnya pada kerah baju. Ia memberi kode kepada Desi untuk melangkah bersama, menuju vila. Senyum Desi terkembang. Pandangannya beredar ke sekeliling, merasa takjub. "Nggak percuma kamu memaksa aku datang," Desi mengerjap pada Nando. "Lokasi reuninya luar biasa." Nando tersenyum kecut. "Aku enggak memaksamu." "Oke, aku ganti istilahnya dengan 'mendesak secara terus-menerus'." Desi terkekeh sendiri. Desi dan Nando beriringan menapaki undak-undakan teras. Tiga langkah lagi, mereka mencapai pintu depan vila. Di sofa ruang tamu, Faizin tersenyum penuh arti. Wajahnya lebih b*******h dari sebelumnya. Tangannya mencolek bahu Hendi. Hendi menoleh kepada Faizin. "Mereka tepat waktu!" ujar Faizin. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN