Dua tahun kemudian.
Risma merentangkan kedua tangan lebar-lebar, menikmati sejuk udara perbukitan. Badannya membelakangi kabut tipis. Matanya menantang matahari. Rambut panjangnya terkibas-kibas, mengikuti arah angin. Sementara di depannya adalah sebuah vila pribadi yang berdiri kokoh di tengah-tengah perkebunan teh.
Dilihat dari depan, Vila tersebut seolah tepat di bawah kaki Gunung Slamet, padahal jaraknya cukup jauh. Gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut terletak di lima kabupaten, yaitu; Tegal, Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Banyumas.
Vila tersebut menjadi tempat melepas penat pemilik perkebunan ketika meninjau lahannya, sebulan sekali. Hari ini, Risma menggunakannya sebagai lokasi acara reuni. Ia tengah menunggu para tamunya.
Berjarak satu kilo meter dari vila, Daihatsu Xenia melaju sedang. Taksi online itu menyusuri jalan yang membelah perkebunan teh. Si pengemudi melirik spion dalam, melirik Faizin, pelanggannya yang duduk di jok tengah.
Sadar sedang dilirik, Faizin menatap si pengemudi. Sorot matanya seolah ingin memberi pesan, dirinya keberatan diperhatikan.
"Masih jauh?" Suara berat Faizin memecah kebisuan yang menguasai suasana di dalam mobil sejak berangkat. Wajahnya tampak cemas.
Si pengemudi sigap. Ia menatap layar ponsel yang berdiri tegak di atas dasbor. "Tiga menit lagi sampai, Pak!"
Alih-alih merespon jawaban si pengemudi, Faizin membuang muka ke arah luar. Hamparan kebun teh menjadi pemandangan tunggal sejauh matanya memandang. Pemandangan lain yang bisa ia nikmati hanyalah langit biru, awan putih, dan matahari pagi.
Jalanan menikung tajam dengan sudut kemiringan hampir tiga puluh derajat. Sampai puncak tanjakan, sebuah bangunan terbuat dari papan tampak terselimuti kabut tipis. Faizin tersenyum samar, yakin itu adalah vila yang sedang ia tuju.
Daihatsu Xenia sampai di sebuah dataran yang luasnya kurang lebih sekitar separuh ukuran lapangan sepak bola, kemudian berhenti tepat di depan sebuah bangunan terbuat dari papan.
Seorang gadis berambut panjang tergopoh mendekati mobil yang baru saja sampai di depan vilanya. Faizin turun dari mobil. Ia tidak perlu membayar jasa taksi. Semua sudah diurus Risma, mulai dari order sampai pembayaranya.
"Selamat datang, Pak." Senyum Risma terkembang. "Bapak yang pertama kali sampai."
Faizin membalas senyum sekadarnya. Otot-otot di pipinya selalu tegang. Ia selalu menggerakannya untuk memasang ekspresi marah. Namun, kali ini ia berusaha memasang wajah ramah.
"Nggak ada bangunan lain selain vila ini?" Faizin mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Risma menggeleng. "Seperti yang bapak lihat. Ini satu-satunya bangunan yang bisa ditempati. Selain ini, ada satu gubuk, buat tempat istirahat para pemetik teh dan sebuah pos keamanan.
Senyum tipis Faizin mendadak redup begitu melihat vila di depannya. Ia pernah memiliki rumah yang terbuat dari papan jati tua, seperti bangunan itu. Rumah khas Jawa Tengah itu baru saja membuka kembali ingatan yang selama dua tahun ini ia kunci rapat-rapat.
"Mari masuk, Pak!"
Ajakan Risma membuyarkan lamunan Faizin. Ia berjalan menapaki teras tanpa sudi melihat keadaan sekeliling. Pemandangan tidak pernah menarik perhatiannya.
Sampai di ruang tamu, Faizin meletakkan tas ke atas meja, kemudian menghempaskan p****t di kursi jati bercita rasa ukiran khas Jepara. Duduk di dalam mobil selama hampir satu jam cukup membuatnya penat.
"Mau saya antar ke kamar bapak?" tanya Risma demi melihat wajah letih mantan gurunya tersebut.
Faizin menggeleng pelan. "Biarlah bapak tunggu yang lain."
"Oke, sambil menunggu yang lain, bapak mau minum apa?"
"Apa saja yang penting jangan terlalu banyak gula."
"Oke. Saya ke dalam dulu." Risma pamit, menuju ke dapur.
"Selalu begini sejak dulu!" keluh Faizin, bicara sendiri. "Kenapa aku selalu datang lebih awal dari anak-anak? Kenapa?"
Disiplin bagi Faizin ibarat napas. Sejak kecil ia taat peraturan, tunduk pada norma, dan selalu menghindari kesalahan. Sehingga ketika mendapat undangan reuni dari Risma untuk berkumpul pada pukul sepuluh, ia sudah sampai tujuh belas menit sebelumnya. Bahkan tadi di mobil ia merasa gelisah, khawatir terlambat.
Kedisiplinan dalam segala hal dan kepatuhan pada peraturan mengantarkan Faizin menjadi kepala bengkel. Ia sangat tegas dalam menegakkan peraturan dan tata tertib. Wajahnya angker. Ucapannya menggelegar. Dan karyawan yang berani berurusan dengannya pasti menyesal. Reputasinya bagus. Sayang satu kasus meruntuhkan semua yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, bukan hanya karir tapi juga hidupnya.
Angan Faizin melayang ke masa lalu. Semakin menolak, semakin kuat ingatan dalam kepalanya. Itu membuatnya tertekan. Ia benci pada situasi seperti ini. Beruntung, tidak lama kemudian Risma muncul, mengalihkan kenangan kelam tersebut.
"Silakan, Pak!" Risma meletakkan secangkir kopi panas ke atas meja.
"Duduklah! Temani bapak," pinta Faizin. "Ini bukan di Reyncar, jangan canggung."
Risma duduk. Sebenarnya ia tidak canggung, hanya saja perasaan segan masih terbawa meskipun kini sudah bukan karyawan Faizin. Ia juga sadar, mantan bosnya itu telah banyak berubah. Fisiknya mulai terlihat lemah, terlihat dari cara jalannya yang tidak setegap dulu. Namun, wibawa masih melekat padanya.
"Bagaimana kabar bapak?" Risma berusaha rileks.
Faizin mengatupkan bibir, menarik napas berat, kemudian menghembuskannya perlahan. "Jauh dari kata baik sebenarnya, tapi berada di tengah perkebunan teh yang sangat sejuk sedikit meringankan beban."
Risma mengangguk, meski masih belum bisa mencerna maksud kalimat Faizin.
"Bapak tidak ingin mengeluh, hanya kadang kesepian membuat orang lebih mudah bermain perasaan ketimbang mengedepankan logika." Faizin mengambil cangkir dari atas meja. Disesapnya kopi panas perlahan.
"Maaf kalau gulanya terlalu banyak atau terlalu sedikit. Saya nggak tahu komposisi yang pas buat bapak." Risma tersenyum simpul.
"Racikannya sudah pas buat lidah bapak. Memang sih belum ada penyeduh kopi terbaik setelah almarhum istri bapak, tapi seduhanmu luar biasa."
"Almarhum?" pekik Risma spontan. Mendadak ia merasa bersalah telah menanyakan itu.
"Istri bapak sudah meninggal dua tahun lalu." Faizin meletakkan cangkir kopi ke atas meja. "Dia meninggal beberapa saat setelah bapak mengundurkan diri dari Reyncar."
Risma tercekat. Perasaan bersalah menjalar dalam hatinya, karena secara tidak langsung pertanyaannya tadi telah membuat mimik Faizin berubah drastis.
Faizin mengulas senyum getir. "Semua orang pasti akan mati bukan? Kebetulan istri bapak lebih dulu mengalami. Tidak perlu ada yang dirisaukan."
Risma mengangguk kaku. "Maaf, camilannya belum datang. Aku sudah pesan katering buat acara ini. Mungkin sedang dalam perjalanan."
"Teman terbaik kopi adalah sunyi. Camilan hanya pihak ketiga." Faizin kembali menyesap kopinya.
Risma mengerjap, mencoba memahami maksud Faizin. Sejak dulu, kalimatnya dulu selalu mengandung filososfi.
"Tempo hari kamu pernah bilang reuni ini hanya mengundang tiga mantan karyawan Reyncar, ditambah bapak. Kalau ingatan bapak masih bagus, mereka adalah Desi, Hendi, dan Nando. Hal ini cukup membuat bapak menyimpan beberapa pertanyaan di kepala."
Paham dengan maksud Faizin, Risma segera menjelaskan. "Jadi, reuni ini berawal dari ide Hendi. Ia merasa perlu bertemu anak-anak yang terkait dengan hilangnya motor saya dulu."
"Itu masa lalu!" potong Faizin. "Kenapa harus diungkit lagi? Bukankah lebih baik kita menikmatinya saja tanpa embel-embel?"
Risma meluruskan. "Maaf, bukan bermaksud mengungkit, hanya Hendi merasa harus menjernihkan persoalan itu."
"Masalah sudah selesai."
Risma memahami sikap Faizin, tetapi ia merasa perlu menjelaskannya. "Intinya adalah saya dan Hendi berharap tidak ada satu orang pun di antara kita yang masih memiliki ganjalan dalam hati."
Faizin mengatupkan bibir sambil mengangguk-anggukan kepala. "Bagi bapak sih, itu hanya ego anak muda, masih dalam batas wajar. Namun bapak apresiasi niat baik kalian. Semoga hasilnya akan baik pula."
"Aamiin!"
Faizin merogoh saku baju, mengambil ponsel. Ia menyalakan layar. "Sebentar lagi jam sepuluh. Jika mereka tidak tepat waktu, berarti bapak gagal mendidik mereka soal disiplin waktu."
Risma tersenyum geli. "Marahi saja mereka, Pak. Suruh push-up seratus kali. Hehehe."
"Atau keliling perkebunan sebanyak tujuh putaran!"
Risma tertawa, menganggap ucapan Faizin sebagai candaan. Lagi pula satu putaran mengelingi area perkebunan itu sangat melelahkan, kalau bukan atlet, tidak akan sanggup.
"Bapak serius!" Faizin geram. "Sayang, sekarang bapak sudah tidak berhak menerapkan sangsi seperti itu."
Risma tersenyum geli. Niatnya mengajak bercanda agar tidak kaku, ditanggapi Faizin secara serius.
"Biaya taksi online tadi pasti mahal!" ujar Faizin. "Perjalanannya saja memakan waktu hampir satu jam."
"Nggak papa, bertemu bapak lebih berharga dari uang." Risma tersenyum penuh arti.
Faizin mengerjap ragu. "Seumur-umur, hanya empat orang yang mau bertemu dengan bapak, lainnya kebalikannya."
Risma bisa menebak, kalau sebentar lagi Faizin akan menyebut dirinya sebagai salah satu dari empat orang tersebut. Baginya menggelikan kalau lelaki seumuran ayahnya itu percaya dengan ucapannya tadi.
"Keempat orang tersebut adalah ibu, ayah, istri, dan kamu. Itu pun kalau kamu berkata jujur!"
Risma tergelak, berusaha menyembunyikan kebohongannya. "Saya beruntung kalau begitu, Pak!"
"Kalau menurut bapak, itu musibah malahan!"
Gelak Risma semakin kencang. "Kenapa musibah, Pak?"
"Karena orang-orang yang dekat dengan bapak semua bernasib sial!"
Gelak tawa Risma mendadak berhenti. Tiba-tiba ia merasa takut setelah mendengar pengakuan Faizin.
"Untungnya kamu enggak dekat," ujar Faizin.
"Dekat kok, Pak," sergah Risma berusaha mencairkan suasana kaku. "Saya dan bapak cuman berjarak satu meter."
Faizin tersenyum malas. Ia lebih suka menatap warna gelap pada cangkir kopi ketimbang memandang senyum Risma.