Memilih Diam

1100 Kata
“Nggg…” Yoona memutar otak, menyiapkan jawabann agar tidak perlu menyakiti Nathan. Bola mata Yoona berputar, seakan bisa terbaca oleh orang lain kalau dia sedang berpikir. “Hei?” Tiba-tiba Kevin mendekati Yoona, dan dia terkejut melihat Nathan berdiri didepannya. “Apa sekarang kamu berkencan dengan dia?” Suara Nathan terdengar seperti nada protes, telunjuknya juga mengarah ke Kevin yang sedang berdiri sejajar dengan Yoona. Lantas, Kevin mulai tidak terima dengan sikap Nathan yang sedang menunjuk dirinya itu. “Kenapa diam saja, hm?” Kevin memutar bola mata, memfokuskannya tepat ke arah wajah Nathan, yang ternyata pria itu juga menatapnya dengan tajam. Kevin mulai bosan berada di situasi seperti ini, dimana dia seharusnya sedang berduaan dengan Yoona, saling bercerita tentang hal apa saja. Tapi kini dia harus bertemu dengan Nathan. Kevin masih menatap ke arah Nathan, sembari memasukan kedua tangan ke dalam saku celana, dia masih bisa menahan amarahnya. “Kami hanya berteman.” Yoona menjawab dengan nada ketakutan, hal itu membuat Kevin menghela napas kesal. Bukan karena jawaban Yoona yang membuat Kevin kesal, tapi karena nada bicaranya—lah yang membuat Kevin kesal setengah mati. Pasti Nathan menganggap Yoona takut pada dirinya, dengan begitu Nathan akan melakukan hal apa saja untuk menaklukan Yoona. “Ayo kita pulang.” Kevin menggenggam telapak tangan Yoona, menariknya untuk meninggalkan Nathan. Namun ternyata perbuatan Kevin membuat Nathan marah. “Aku sedang berbicara dengan Yoona. Kamu bisa pulang sendiri. Aku akan mengantar Yoona kerumahnya.” Nathan memajukan beberapa langkah, hampir mendekati mereka berdua. Lalu, tangannya bergerak untuk memisahkan tangan Yoona dan Kevin. Cekatan, Nathan mencengkram tangan Kevin dan membuangnya begitu saja. Sedangkan tangannya yang lain masih memegang tangan Yoona, berusaha menahan gadis itu agar tidak pergi. “Aku yang lebih dulu pergi bersama dia. Seharusnya kamu yang pergi bukan aku.” Kevin mulai meninggikan suara, memperlihatkan wajahnya yang mengerikan kepada Yoona dan Nathan. Dalam hitungan detik, Kevin berhasil merebut tangan Yoona dari Nathan. Lantas, dia mulai melangkah pergi, menjauhi Nathan. Berulang kali Yoona menoleh ke belakang, melihat keberadaan Nathan yang masih diam menatap kepergian Yoona. Gadis itu mulai gelisah, memikirkan tentang sikap Nathan. Aneh sekali, kenapa dia mengalah dengan Kevin? Atau karena Kevin anak dari atasannya sehingga dia lebih memilih untuk mengalah dan tidak berdebat sama sekali. “Apa kamu baik-baik saja?” Kevin membuang tangan Yoona dengan kasar, langkahnya berhenti sambil menghadapkan tubuhnya ke Yoona, alisnya saling bertaut dengan tatapan serius. “Kenapa kamu ketakutan dengan pria itu? Apa yang perlu kamu takutkan?” “Aku bersikap biasa saja. Aku tidak takut dengan Nathan.” Yoona berusaha membenarkan perkataannya, terdengar dari nada bicaranya yang tegas. Namun Kevin melihat tangan Yoona tidak berhenti mengetukannya pada tali selempang tasnya—dia sedang berbohong tentu saja. “Aku lelah, aku ingin pulang.” “Tunggu. Aku berharap kamu tidak perlu takut dengan Nathan. Oke?” Kevin masih menatap Yoona dengan tatapan seriusnya, lalu dia segera menyunggingkan senyum di di bibir saat Yoona membalas tatapannya, tatapan menusuk. Perlahan, kedua tangan Kevin mendarat pada bahu Yoona. “Sepertinya Nathan orang yang agresif. Aku takut terjadi hal yang buruk.” “Kamu tidak berhak menilai Nathan seperti itu.” Yoona segera meraih kedua tangan Kevin, membuangnya begitu saja dengan kasar—sama seperti yang dilakukan Kevin beberapa menit yang lalu. “Dia hanya khawatir sebagai teman. Dan apa bedanya dengan kamu? Kamu juga selalu mengkhawatirkan aku.” Kevin membuang napas ketika Yoona berjalan meninggalkannya tanpa mengucap sepatah kata—pun. Kedua tangannya mer*mas rambut kepala beberapa detik, ia juga menggelutukan gigi berulang kali. Seharusnya dia tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan Yoona, seharusnya dia bahagia melihat Yoona memiliki Nathan yang memberikan perhatian dengan dia. Perhatian yang belum tentu Kevin berikan kepada Yoona, mengingat Kevin seorang yang keras kepala dan kaku seperti kanebo kering. Setelah punggung Yoona mulai menghilang dari pandangan Kevin, pria itu mulai membalikan tubuh dan melangkah—kan kaki untuk meninggalkan tempat ini. *** Sebuah mobil sedan hitam terparkir cukup lama di depan sebuah rumah milik Kevin. Seorang gadis sedan duduk di kursi kemudi, mengamati spion tengah, terkadang juga menatap lurus ke depan menunggu kedatangan Kevin. Bibirnya tidak berhenti menggigit telunjuk tangan, memperlihatkan kalau dia sedang dalam keadaan tidak baik. Rachel akhirnya menghembuskan napas panjang begitu melihat seorang pria keluar dari sebuah taksi. Cekatan, tangannya meraih kenop pintu mobil untuk membukanya, lalu berlari ke arah Kevin. Kevin sangat terkejut melihat Rachel muncul dihadapannya. Dengan perasaan kesal, Kevin membiarkan Rachel begitu saja, mengacuhkan gadis itu dengan membuka pintu pagar rumah. Namun Rachel bukan—lah seorang gadis yang mudah menyerah pada keadaan. Dia menarik kaus yang dikenakan Kevin, membuat Kevin harus menghentikan langkah dengan terpaksa. Lalu, Kevin menolehkan kepala, menatap Rachel dengan muak. “Lepaskan. Aku lelah dan tidak ingin berbicara dengan siapa—pun, termasuk kamu.” Kalimat Kevin malah membuat sikap Rachel semakin nekat. Dia segera meraih punggung Kevin dan memeluknya dengan erat sekali. “Aku merindukanmu, Kevin.” “Bagaimana denganku? Aku bahkan tidak pernah merindukanmu sama sekali.” Kevin berusaha sekuat tenaga melepaskan kedua tangan Rachel yang melingkari tubuhnya. Butuh waktu beberapa detik sampai tangan Rachel terlepas. Kevin akhirnya membalikan tubuh, menatap Rachel dengan memelas. “Kamu cantik dan kamu bisa mendapatkan seorang pria yang mencintaimu. Aku tidak pernah mencintaimu, kumohon mengerti—lah!” “Bagaimana dengan orangtua kita?” Rachel sedikit mendongakan kepala saat menatap Kevin, air mata yang seharusnya tidak perlu ia keluarkan, akhirnya menetes keluar. Rachel segera menghapus, menyeka air mata itu. “Aku tidak ingin menyakiti Ayah dan Ibu.” “Aku akan membicarakannya kepada Ayah. Dan Ayah akan mengadakan pertemuan keluarga untuk membahas hal ini.” Kevin mengabaikan air mata Rachel yang didapat atas perlakuannya, dia malah menepuk bahu Rachel berulang kali, mengisyarakan bahwa semua baik-baik saja. “Aku lelah dan aku ingin masuk ke dalam rumah.” “Apa semua ini karena gadis itu?” Kalimat yang keluar dari mulut Rachel berhasil membuat Kevin yang semula sudah membalikan tubuh—berniat melangkah masuk, akhirnya memutar lagi tubuhnya untuk memberikan ekspresi tajam ke arah Rachel. “Aku benar—kan?” “Tidak.”  Kevin segera membantah kalimat Rachel dengan tegas. Alisnya saling beradu, napasnya mulai cepat saat melihat raut Rachel yang menyebalkan. “Ini semua tidak ada hubungannya dengan Yoona sama sekali. Perlu kamu ingat itu!”  “Lalu kenapa kamu marah, hm?” Rachel menarik sudut bibir sebelah kanan, ekspresinya menunjukan sebuah kelicikan. “baiklah. Aku tidak akan menyentuh gadis itu asal kamu tahu.” Kevin berteriak sekuat tenaga saat Rachel pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu. Gadis itu mengabaikan perkataan Kevin tentu saja, karena dia mengira semua ini salah Yoona. Yoona yang membuat hubungannya hancur.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN