Teror!

1073 Kata
Shift hari ini telah selesai, Yoona bergegas membereskan sampah-sampah gelas sudah tidak terpakai yang berada di meja pengunjung. Tangan-tangannya bergerak dengan cepat, memasukan gelas berbahan kertas itu ke kantong plastik hitam berukuran besar. Setelah berhasil membereskan satu meja, ia berpindah ke meja kosong lainnya. Akhirnya setelah menghabiskan waktu lima belas menit, Yoona berhasil mengubah meja kosong yang berserakan sampah menjadi lebih bersih dan wangi. Tubuhnya sedikit merasakan lelah karena seharian ini dia bekerja selama delapan jam. Yoona menggerakan kepala ke kanan-kiri untuk melemaskan otot-ototnya, tangannya tidak berhenti untuk memijat bahu secara bergantian. Sedangkan ia sengaja menutup kelopak mata, merasakan sedikit kenyamanan. Saat Yoona merasa cukup, ia mulai membawa kantong sampah keluar kafe melalui pintu utama para pengunjung. Sedangkan di depan meja kasir, Nathan masih terus mengawasi Yoona, berharap gadis itu memulai pembicaraan dengannya. Jujur Nathan merindukan Yoona, ingin kembali seperti dulu saat pertama kali mereka berteman. Entah kenapa Yoona seperti menghindar dari Nathan. Gadis itu lebih memilih untuk tidak memiliki teman disini, tidak mempunyai teman mengobrol atau teman makan siang. Semua Yoona lakukan seorang diri. Kantong sampah yang berada ditangan Yoona sudah berpindah ke tong sampah berukuran besar, terletak di samping kafe. Yoona segera membersihkan diri dengan mencuci tangan, lalu ia kembali masuk ke dalam untuk mengganti pakaian. Saat dia membuka pintu utama, manik matanya menangkap seorang wanita sedang berdiri menyandar tembok—tidak jauh dari pintu utama. Wanita itu tentu saja juga menatap Yoona, membuat gadis polos itu menundukan pandangan. Perlahan, Yoona melangkahkan kaki menuju dapur. Tapi sayangnya, wanita itu mencoba menghalangi langkah kaki Yoona dengan menarik celemek dari arah belakang. Merasakan ada yang menariknya dari belakang, Yoona menghela napas panjang. Berharap kejadian sekarang hanya sebuah bunga tidur saja. Yoona berusaha menggerakan kaki untuk maju ke depan, tapi rupanya Rachel—wanita itu, masih mencengkram erat celemek Yoona. Bahkan tangan-tangannya sekarang berusaha membalikan tubuh Yoona dengan kasar agar menghadap ke arahnya. Tentu saja pemandangan seperti ini menjadi konsumsi para pelanggan kafe serta karyawan yang sedang berjaga didepan—termasuk Nathan. Nathan yang sudah memperhatikan Yoona sejak memasuki kafe setelah membuang sampah,  segera menyuruh temannya untuk mengganti tugasnya didepan kasir, lalu dia berlari ke arah Yoona. Seperti biasa, Nathan selalu melindungi dan menjaga Yoona dalam keadaan apapun, bagaikan seorang kekasih yang tidak ingin orang yang disayanginya disakiti oleh siapapun. Saat Nathan sudah berdiri disamping Yoona, ia menangkis tangan Rachel yang masih menyentuh bahu Yoona, menampakan ekspresi datar ke arah Rachel. “Apa yang terjadi, hm? Siapa kamu?” Nathan bertanya seraya berkacak pinggang menatap Rachel. “Astaga, kamu ternyata memang gadis murahan. Setiap berurusan denganmu, selalu saja ada pria yang mencoba melindungimu!” Celetuk Rachel sambil menggelengkan kepala dan mengukir senyum licik di wajahnya. Mendengar Rachel berkata seperti itu, Yoona menghela napas panjang, mengarahkan bola matanya ke langit-langit kafe yang dipenuhi oleh lampu yang sudah menyala. “Kamu tidak perlu membantuku. Aku hanya terlihat gadis lemah saat kamu berada disampingku.” Yoona memiringkan wajah menatap Nathan. Kemudian dia memfokuskan wajah ke arah Rachel yang sedang melipat kedua tangan. “Untuk apa kamu mencariku?” “Tentu saja menyuruhmu untuk tidak mengganggu Kevin.” Rachel menyibakkan rambut panjangnya ke belakang telinga, lalu ia kembali melipat kedua tangan didepan d**a. “aku sudah memperingatkanmu. Awas saja kalau aku melihatmu bersama Kevin. Dasar pengganggu!” Yoona kembali menghela napas panjang begitu Rachel memutar tubuh dan berjalan keluar kafe. Pandangan gadis itu menyusuri ke segala arah, barangkali tidak ada orang yang memperhatikan dirinya. Kenyataannya dia salah besar, semua fokus tertuju pada dirinya, termasuk Nathan yang masih berdiri disamping Yoona. Pria itu tidak mengatakan hal apapun, mencoba untuk menunggu Yoona berbicara dengannya. Yoona langsung berjalan ke arah dapur, membuat karyawan kafe berbisik mengenai dirinya. Yoona yang mendengar pembicaraan mereka hanya mengulum bibir sambil melangkah masuk ke dapur. Mungkin karyawan disini tidak pernah memiliki masalah besar seperti Yoona, dan hanya Yoona—lah yang selalu bermasalah dengan siapa—pun. Jujur Yoona sangat malu dan ingin mengundurkan diri, tapi dia tidak memiliki waktu untuk mencari pekerjaan paruh waktu mengingat dia harus menyiapkan diri untuk kuliah. Terlebih lagi atasannya begitu baik, selalu memberikan keringanan pada Yoona mengenai shift. Melihat toilet kosong, Yoona langsung masuk ke dalam, menguncinya dalam waktu yang cukup lama. Dia menumpahkan kekesalan dan kesedihan didalam sana. Dia menyesal hanya diam saja saat Rachel mempermalukan dia dihadapan umum, didepan karyawan kafe yang selalu menilai buruk tentangnya. Yoona sangat ingin melakukan debat dengan Rachel, tapi gadis itu langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Yoona. Setelah mendengar ketukan pintu pada toilet yang digunakan Yoona, gadis itu segera keluar dan melihat karyawan lain menatapnya dengan tajam. Yoona ingin mengumpat, meneriaki karyawan itu, namun dia harus menahan diri ditempat kerjanya mengingat dia pekerja baru. Nathan yang menunggu Yoona didepan toilet akhirnya hilang kesabaran—menunggu Yoona mengajaknya berbicara. Dia menahan pergelangan tangan Yoona, membuat Yoona berhenti dan menatap wajahnya.  “Ada apa?” Tanya Yoona, suaranya terdengar seperti orang yang sekarat, menahan kesakitan. Tubuhnya terasa lemah saat Nathan menyentuh kulitnya. “Kenapa kamu selalu menyulitkanku?” “Maksudmu?” Nathan akhirnya melepaskan tangan Yoona begitu gadis itu mengatakan kalimat tadi. “Aku bukan anak kecil. Aku sudah bisa menghadapi orang-orang. Kenapa kamu harus ikut campur urusanku? Aku sudah terlihat lemah dihadapan dia.” Yoona menjelaskan seraya meninggalkan Nathan seorang diri, kaki-kakinya berjalan mengarah ke ruang loker untuk mengambil pakaian. “Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungimu.” Tiba-tiba Nathan mengikuti Yoona dari arah belakang. Yoona menggigit bibir bagian bawah, matanya fokus untuk membuka pintu loker miliknya. Lalu dia mengeluarkan semua barang didalamnya, dan berjalan ke arah ruang ganti. “Kamu tidak perlu melakukan itu. aku tidak membutuhkannya.” Ucap Yoona masih menghadap ke pintu loker. Beberapa detik kemudian, dia menghindari tubuh Nathan. Dia enggan menatap Nathan yang selalu saja mengganggu hidupnya. Melihat perlakuan Yoona yang begitu acuh—mengabaikannya sejak mengenal Kevin, Nathan memukul tembok dibelakangnya dengan keras, meninggalkan memar pada punggung tangannya itu. Nathan meringis menahan sakit, hampir saja kulitnya mengelupas mengeluarkan darah. Nathan sangat ingin dekat dengan Yoona. Andai saja dia tidak mengenal Kevin, mungkin hidupnya mungkin akan baik-baik saja. Nathan dan Yoona akan menjalin hubungan pertemanan yang baik. Yoona menangis, mengeluarkan air mata saat mengganti pakaian. Tubuhnya gemetar menahan kesakitan. Dia sangat tidak terima dipermalukan Rachel seperti tadi. Bahkan gadis itu belum mengerti kalau Kevin memutuskannya karena memang tidak mencintainya sama sekali. Dengan rasa kesal, akhirnya Yoona berniat untuk lebih dekat dengan Kevin, sengaja membuat Rachel cemburu. Baiklah, semoga saja itu keputusan yang tepat bagi Yoona. ====BERSAMBUNG====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN