Keputusan Ayah

1286 Kata
Salah satu rumah mewah yang terletak di pusat kota menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melewatinya. Mereka tidak ingin memasuki rumah tersebut, tapi hanya penasaran kenapa rumah sebesar itu tidak terlihat hidup. Seperti suram. Gosip itu tersebar sejak Ibu kevin menderita sakit yang lumayan serius. Seakan rumah mewah itu ikut terluka atas majikannya yang sedang mengalami sakit sehingga memancarkan aura yang tidak baik. Seorang anak laki-laki, lebih tepatnya pria dewasa sedang membuka tirai polos berwarna putih tulang, menyibakkannya dengan lembut, membiarkan cahaya matahari masuk untuk memberi kehangatan Ibunya yang sedang duduk di kursi roda. Manik mata berwarna cokelat gelap milik Ibu Kevin mengarah ke pohon cemara yang sudah lama berdiri di tengah taman samping rumah, ia masih mengingat saat menanam pohon itu usia Kevin masih kecil. Kenangan indah itu membuat Ibu Kevin meneteskan air mata. Lantas, Kevin sedikit membungkuk, mengusap air mata sang Ibu dengan punggung tangan secara hati-hati. Melihat perlakuan Kevin terhadapnya, Ibu Kevin mengulas senyum manis sambil menganggukan kepala—menandakan bahwa dia baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Kevin langsung mengerti. Dia segera mendekap tubuh Ibunya penuh kehangatan, sehangat cahaya pagi yang menyinari tubuh mereka berdua. Melihat kedekatan Kevin dan Ibu, Tuan Joo yang baru saja masuk ke dalam kamar bersikap cemburu melihat Kevin memeluk Ibunya. Dia segera meletakan cangkir teh di atas meja—samping tempat tidur. Tuan Joo segera bergegas mendekati Kevin dan istrinya yang berada di tepi jendela—mengingat ruangan ini sangat luas. Kevin melepaskan tubuhnya ketika mendengar Tuan Joo meletakan cangkir, lalu ia menarik kursi roda untuk mendekati sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Begitu juga dengan Tuan Joo, pria itu langsung duduk di sofa. “Aku juga ingin dipeluk oleh anak semata wayangku,” Ujar Tuan Joo tanpa melirik Kevin yang duduk sejajar dengannya. Tubuh Tuan Joo sibuk mendekati tubuh sang istri yang sedang duduk berhadapan dengannya, lalu kedua tangan Tuan Joo merapikan helaian rambut yang berusaha menutupi wajah cantik istrinya itu. “wow, istriku cantik sekali.” “Ya, dulu ayah sering memelukku saat kecil.” Jawab Kevin, membiarkan punggungnya menempel pada sandaran sofa. “Sekarang tugasku hanya memeluk ibu dan calon istriku nanti.” “Dasar anak tidak tahu diri.” Tuan Joo melemparkan bantal berbentuk persegi ke arah wajah Kevin. Dengan sigap, Kevin menangkis bantal itu sehingga tidak mengenai wajahnya. Melihat kelakuan anaknya yang sudah dewasa, Tuan Joo menggelengkan kepala sambil menarik seulas senyum. Akhirnya mereka berdua saling tertawa lepas, membuat Ibu Kevin menarik garis di bibirnya. Dia juga bahagia melihat dua orang yang dicintainya saling menyayangi. ** Kevin memundurkan kursi yang akan menopang tubuhnya dengan gerakan cepat, menimbulkan bunyi gesekan antara kayu dan keramik lantai rumahnya. Setelah dia berhasil mendudukkan bokongnya, dia meraih selembar roti tawar yang sudah disiapkan di atas piring. Tangannya mulai mengoles selai cokelat pada permukaan roti tersebut, lalu dia segera memasukannya semua ke dalam mulut. Siapa sangka, sikapnya yang terlihat keren diluar sana, ternyata dia tetap menjadi seorang anak kecil ketika berada didalam rumah. Tuan Joo yang sedang berjalan menuju meja makan, memperhatikan sikap Kevin dengan santai. Ingin rasanya dia memukul kepala anaknya—sudah berulang kali dia mengingatkan untuk pelan-pelan saat makan, tapi keinginan itu segera ia urungkan. Tuan Joo memilih duduk berhadapan dengan Kevin, membiarkan bola matanya memandangi tubuh anaknya yang sangat ia cintai, bahkan hartanya yang melimpah saat ini tidak dapat membeli kebahagiaan yang dia miliki sekarang—yaitu Kevin. “Bagaimana hubunganmu dengan Rachel, hm?” Tuan Joo sebenarnya sudah tahu mengenai keputusan Kevin, tapi dengan santainya dia melontarkan pertanyaan itu pada anaknya. Dia mendapatkan informasi tersebut dari Ayah Rachel tentu saja. “semua baik-baik saja?” “Ngg…” Kevin berusaha menelan roti yang masih memenuhi mulutnya itu sebelum menjawab pertanyaan Ayah. Susah payah Kevin mendorong seluruh makanannya agar tertelan, lalu dia meraih gelas berisi s**u untuk membantu proses pencernaannya itu. “ngg…aku sudah memutuskan Rachel.” Kevin yang semula menundukan kepala, menatap piring kosong didepannya, memberanikan diri mendongakkan kepala untuk melirik ke arah Tuan Joo. Ternyata Ayahnya hanya menganggukan kepala berulang kali, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kedua tangan Tuan Joo sibuk mengoleskan selai tanpa menatap ke arah Kevin. Kevin mulai curiga, kenapa Ayahnya bisa bersikap santai. Mungkin saja dia sudah mengetahui semuanya tapi bertindak seolah-olah tidak mengetahui itu. “Alasan apa yang membuatmu untuk meninggalkan Rachel, hm? Apa karena Yoona?” Wajah Kevin yang semula ketakutan—ia mengira kalau Ayahnya tidak terima dengan keputusan sepihaknya tapi ternyata salah, kini berubah menjadi raut yang mengerikan seakan dia siap menerkam tubuh Tuan Joo yang duduk dihadapannya. Dia sangat kecewa pada Rachel, gadis itu tidak mempercayai perkataan Kevin yang sudah menjelaskan kalau semua ini bukan karena pihak ketiga. “Bukan. Aku memang tidak pernah menyutujui perjodohan ini. Aku menerima perjodohan itu karena ingin membahagiakan Ayah. Dan jelas, semua ini bukan salah Yoona. Jangan libatkan gadis itu pada hubunganku dengan Rachel.” Kevin menggebrak meja dengan kencang sambil beranjak berdiri, lalu sebelah kakinya menendang kursi yang menjadi tumpuannya beberapa menit yang lalu—menendang ke belakang agar dia bisa meninggalkan meja makan dengan mudah. Melihat sikap Kevin yang sangat marah, Tuan Joo hanya menghembuskan napas panjang, memperhatikan setiap pergerakan tubuh Kevin yang berjalan ke arah kamarnya. Tuan Joo tidak menyangka, kalau Kevin menerima perjodohannya karena ingin membahagiakan Ayahnya, bukan hal yang lain. Tuan Joo merasa bersalah, membiarkan anak semata wayangnya hidup dengan penuh tekanan. Seharusnya dia memilih jalan hidupnya sendiri terlebih lagi mengenai percintaannya tanpa campur tangannya sama sekali. *** Kevin menegak botol soju ke enamnya, yang ia dapatkan dari swalayan dekat apartemen Yoona. Ia duduk didepan swalayan tersebut sambil menghabiskan beberapa makanan ringan untuk menemaninya minum. Meskipun dia duduk seorang diri, Kevin tidak merasa kesepian sama sekali. Dia sedang membayangkan pergi bersama Ibu dan Ayahnya ke luar negeri, menghabiskan uang Ayahnya untuk bersenang-senang. Setengah sadar, Kevin berjalan terseok-seok masuk ke dalam swalayan, hampir saja dia menabrak pintu utama. Namun langkahnya berhenti ketika seorang pegawai swalayan itu membantu Kevin untuk duduk kembali ke kursi sebelumnya. Pegawai itu menawarkan sesuatu kepada Kevin, tapi pria itu menggelengkan kepala sambil menutup kelopak mata, rahangnya terbuka lebar. Karena pegawai itu ketakutan, ia langsung meninggalkan Kevin sendirian diluar. Membiarkan Kevin berada di tengah dinginnya malam. Tidak lama kemudian, Kevin berteriak, menyebut nama Yoona berulang kali. Setelah merasa lelah, ia menepuk kasar pipinya. Biasanya Kevin seorang pecandu berat minuman alkohol, tidak kali ini. Tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, apalagi hatinya. Dalam hitungan detik, Kevin memuntahkan seluruh makanan dan minuman yang ia beli di swalayan itu. Merasa baikan dan mulai sadar, Kevin beranjak dari kursi, lalu berjalan ke arah kafe. Sedangkan dibelakang Kevin, terlihat seorang gadis sedang berjalan menuju ke arah swalayan. Ya, dia Yoona. Gadis itu mulai merasakan kehadiran Kevin ketika pengelihatannya menangkap punggung Kevin dari belakang. Tapi karena pegawai swalayan langsung menghampiri Yoona yang sedang berdiri di pintu utama, Yoona langsung melupakan pria dihadapannya itu. “Hei, aku sedang merasa ketakutan. Ada pria mabuk duduk disini.” Pegawai yang merupakan tetangga Yoona itu menunjuk kursi yang menjadi tempat duduk Kevin. Dia menggetarkan tubuh, menunjukan kalau di gemetar saat menghadap pria mabuk. “Apa kamu terluka, hm?” Tanya Yoona seraya melirik ke arah Kevin, tapi ternyata pria itu sudah menghilang ditengah kegelapan malam. “Aku baik-baik saja.” Pegawai itu menarik pergelangan tangan Yoona, menyeretnya untuk masuk ke dalam swalayan. “Kamu ingin membeli ramyun, hmm?” “Tidak, aku ingin membeli s**u. Aku butuh susu.” Yoona bergegas berjalan ke rak yang menampilkan berbagai macam merek s**u. Setelah mengambil dua kotak s**u, ia melangkah ke kasir. Perasaannya masih tertuju pada pria tadi. Yoona berpikir kalau pria itu adalah Kevin. Tapi untuk apa dia datang kesini? Dia sama sekali tidak menemui dirinya. Yoona menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh pikirannya yang salah itu. Tidak mungkin Kevin berkeliaraan disekitar sini. ==BERSAMBUNG==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN