Suara para pengunjung terdengar mulai bersautan mengisi ruangan yang berukuran lumayan luas, mereka saling berpasangan saat mengunjungi kafe di akhir pekan. Mereka terlihat bahagia bisa menikmati akhir pekan yang menurutku sangat menyedihkan ini. Hari ini aku akan bekerja selama delapan jam penuh di kafe dan ini sudah hari ke enam aku bekerja disana. Jujur, rasanya baru sebentar aku bekerja di tempat ini tapi sudah ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa aku wanita sim-panan Tuan Joo. Terlebih lagi Tuan Joo begitu baik serta memperlakukan aku sangat spesial, terlihat perbedaan yang menonjol bagaimana cara dia bersikap kepada karyawan-karyawannya. Entah, ada alasan apa dia berbuat seperti itu, dia begitu baik kepadaku, dia tidak pernah memintaku lebih saat dia memberiku suatu barang yang tidak pernah kuminta sama sekali. Aku menelan air liur, ketika beberapa karyawan dibelakangku sedang membicarakan Tuan Joo dan istirnya. Aku bisa mendengar bahwa istrinya Tuan Joo sedang sakit parah sehingga dia jarang sekali mengunjungi kafe. Hal itu membuat berantakan kinerja beberapa orang disini, termasuk diriku. Ada sebagian karyawan yang absen, bahkan ada yang memintaku untuk menggantikan posisinya saat shiftku sudah berakhir. Aku hanya menuruti perintah mereka karena posisiku saat ini adalah anak baru. Terlebih lagi aku gadis yang polos dan mudah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.
Di tengah pembicaraan mereka yang semakin memanas, mereka menyelutuk namaku dengan santai, malah ketika menyebut namaku mereka sengaja menaikan volume suaranya. Aku hanya berusaha fokus dengan pelanggan didepanku yang masih mengantri memesan beberapa minuman, tapi suara mereka semakin membuat kupingku memanas karena berulang kali mereka menyebut namaku tanpa berhenti. Aku mengambil nafas panjang, sedikit memasang senyum kepada seorang wanita yang sedang memesan Americano. Bersikap profesional adalah caraku agar terlihat dewasa, fokus apa yang ada didepan dan mengabaikan hal-hal buruk dibelakang. Tapi kenyataan yang terjadi, mereka belum berhenti untuk membicarakan aku. Saat in hanya ada satu orang didepanku, dan aku berniat untuk melabrak mereka agar berhenti bicara omong kosong. Keberanian yang sudah aku kumpulkan sejak tadi, mulai aku keluarkan namun tiba-tiba Nathan berada disampingku, Dia menahan pergelangan tanganku dengan sentuhan lembut, kepalanya menggeleng berulang kali dengan kedua alis saling beradu. Aku menangkap apa yang dia inginkan, terlebih lagi nyaliku menciut mengingat aku karyawan baru di kafe ini. Mungkin saja setelah aku melabrak mereka, sikap mereka semakin parah dan memperlakukan aku seenaknya.
“Aku tidak mengerti kenapa semua orang memfitnahku seperti itu.” ujarku disela-sela membuat Cappuccino. “Mereka terang-terangan mengatakan itu dibelakangku.”
“Abaikan saja mereka, lagian itu semua tidak benar, kan,” Jawab Nathan yang sedang mengambil tiramisu cake dari lemarin pendingin di sudut kami berdiri. “Aku yakin gosip itu cepat berlalu.”
“Kalau tidak benar seharusnya aku klarifikasi.” Kalimatku bernada protes dengan kedua alis saling beradu. Melihat sikap Nathan yang santai tidak membelaku sama sekali, aku mulai kesal padanya. Aku pikir dia teman yang melindungiku dari orang-orang seperti mereka, tapi nyatanya tidak sama sekali.
“Ini pertama kalinya kamu marah tapi sejujurnya itu tidak seperti orang marah.” Celetuk Nathan berusaha mencairkan suasana agar aku tidak terus mengomel. Mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya, rasanya dia benar mengatakan hal itu karena suaraku masih terdengar datar tanpa emosi.
“Aku tidak butuh pendapatmu.” Jawabku jelas tanpa menoleh ke arah bola mata Nathan, namun aku yakin dia sedang menatapku sambil mengulas senyuman tulus. Karena tidak ada orang yang berpihak kepadaku, aku langsung berjalan ke arah dapur dan meninggalkan pelanggan serta Nathan tanpa rasa tanggung jawab. Lantas, beberapa orang dibelakangku yang masih bergosip, mereka memandang sinis tanpa berkedip melihat kepergianku. Aku tahu mereka pasti kesal karena aku meninggalkan tugasku untuk menjaga kasir, tapi aku benar-benar tidak peduli. Saat ini aku sedang duduk dibelakang bangunan kafe, menikmati semilir angin sore yang berusaha melilit tubuhku agar kedinginan. Aku masih saja menikmati kesendirian duduk disini—bangku kayu berwarna cokelat yang sedikit kotor karena debu jalanan, tidak peduli dengan pekerjaan yang sedang menungguku didalam sana. Aku melihat beberapa orang di sudut sana saling tertawa bahagia sambil berjalan sejajar, entah apa yang menjadi obrolan mereka tapi rasanya mereka menikmatinya tanpa beban hidup seperti yang kurasakan. Yang jelas, mereka begitu bahagia tidak seperti yang aku alami sekarang, dan selama aku hidup. Aku yang selalu pasrah dengan keadaan, tidak bisa melawan orang-orang yang berusaha menjatuhkanku setiap saat, mereka selalu mencari celah untuk membuatku terjatuh. Aku ingin mengetahui alasannya, mengapa mereka langsung menganggapku sebagai wanita sim-panan, padahal aku ini perempuan yang sangat tidak menarik sama sekali, selalu berpakaian kaus dan celana jinsnya saja. Dari sudut mana mereka menilaiku seperti itu, toh, mengapa mereka tidak menganggap hubungan kami seperti ayah dan anak, mengingat usiaku masih belia.
Akhirnya hari ini aku sudah menyelesaikan pekerjaan, meskipun ada waktu yang tidak kugunakan untuk bekerja. Lagipula, banyak juga karyawan yang hanya mengobrol santai tanpa peduli dengan tugas masing-masing. Saat ini aku berjalan melangkah keluar dari kafe, sedikit terkejut ketika melihat Tuan Joo sedang berdiri dengan menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Dia sedang melipat kedua tangan, serta menatapku serius ke arahku tanpa berkedip. Entah, alasan apa dia berdiri disana, apakah dia sedang menungguku atau menunggu orang lain. Saat sudah berdiri didepannya, aku berusaha untuk menyapa dan berniat untuk pergi begitu saja agar tidak membuang waktu. Namun tidak kusangka sama sekali, tiba-tiba dia langsung meminta bantuanku untuk menemaninya malam ini. Aku tambah terkejut dan tak habis pikir, kenapa dia meminta bantuan kepadaku. Aku juga penasaran, apakah dia mengetahui rumor yang sedang naik daun antara kita berdua. Lantas kalau dia mengetahuinya, mengapa dia mengajaku pergi berdua saja, seakan membenarkan bahwa rumor itu adalah fakta. Aku menggelengkan kepala, semoga saja dia tidak mengetahui rumornya sehingga dia dengan santai seperti sekarang bisa mengajaku pergi tanpa beban.
“Aku ingin kamu menolongku sebentar,” Tuan Joo berkata sambil membuka pintu mobil untukku. Aku hanya menyungging senyum polos sambil menganggukan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata—bersikap pasrah, tidak berani menolak permintaan bos. Tak lama kemudian, aku sudah duduk didalam mobil bersama Tuan Joo dengan suasana yang mencekam. Saat ini kami mengendarai mobil menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia memintaku untuk memilih beberapa pakaian, entah untuk siapa ia akan berikan pakaian tersebut. Mendengar permintaan yang menurutku sangat aneh, aku hanya bisa pasrah mengiyakannya. Bagaimana tidak aneh, aku yang selalu berpakaian sederhana dan tidak modis sama sekali, bisa dipercayakan oleh seseorang untuk menemaninya belanja. Jujur, aku ingin melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya, mengapa dia begitu mempercayakan aku untuk menemaninya. Tapi begitu aku melihat raut wajahnya yang begitu dingin dan datar, aku segera mengurungkan niatku. Lebih baik aku menikmati pemandangan malam dari dalam dengan membuka sedikit kaca jendela mobil. Udara dingin langsung menerobos masuk melalui jendela yang terbuka, sehingga rambut yang sengaja tidak kuikat langsung berterbangan. Spontan, aku sedikit menggerakan bola mata ke sudut, menatap Tuan Joo untuk mengetahui keadaannya setelah jendela mobil aku buka. Nyatanya dia menikmati dengan terdiam saja, atau mungkin dia ingin melarangku tapi sungkan.
“Apakah kamu sudah makan?” Tanya Tuan Joo, pertama kalinya dia mengeluarkan pertanyaan saat kita didalam mobil. Suaranya menandakan kalau dia baik-baik saja, tidak menyimpan emosi, membuatku aku sedikit lega. Bola matanya masih fokus ke depan tanpa menoleh sedetikpun ke arah aku. Aku dengan santai, menatapinya dengan seulas senyum tipis.
“Sudah Tuan,” Jawabku masih melihat wajahnya dari samping. Aku segera memposisikan duduk agar nyaman, setelah Tuan Joo tidak melontarkan kata-kata lagi. Kulihat dia sedang mengalami sedikit masalah, atau mungkin masalah yang begitu besar sehingga keadaan sekarang benar-benar membingungkan. Ingin rasanya aku memulai pembicaraan, tapi begitu melihat wajahnya aku selalu mengurungkannya. Karena merasa lelah seharian bekerja, pikiranpun juga lelah, aku mendongakkan kepala ke atas, memejamkan kelopak mata untuk tidur sebentar saja. Ya, aku sungguh ingin tertidur beberapa menit.
Sebuah tangan berusaha mengusap bahuku berulang kali secara lembut, lantas aku bisa terbangun setelah hitungan ke sepuluh. Aku segera memundurkan tubuh, menjauh sedikit dari wajah Tuan Joo saat dia mendekatiku. Astaga, sudah berapa lama aku tertidur pulas didalam mobil. Sontak, aku langsung menutupi dadaku dengan kedua tangan, memasang wajah penuh selidik saat menatap Tuan Joo. Dia langsung tertawa, sedikit mengeluarkan suara tawa setelah melihat sikapku. Cekatan, tangan Tuan Joo meraih kenop pintu mobil, lalu segera mengeluarkan tubuhnya. Melihat dia keluar dari mobil, aku segera menyusulnya juga.
“Dimana kita sekarang, Tuan?” Aku menyipitkan mata, melihat ke seluruh arah sambil mengusap kelopak mata berulang kali. Kali ini kami berada di sebuah lobi hotel yang sangat mewah, entah apa yang akan dia lakukan kepadaku, membawa anak sekolah masuk ke dalam hotel. Setelah sadar, aku melihat Tuan Joo membawa beberapa tas belanja yang begitu banyak. Aku segera berteriak, namun kedua tanganku dengan sigap langsung menutup mulut. Sejak kapan dia belanja, apakah aku sangat lama tertidur di dalam mobil. “Ngg..Maaf, apakah Tuan sudah belanja?”
“Kita akan makan malam,” Tuan Joo menjawabnya dengan berjalan mendahuluiku. Aku sedikit menahan nafas, melihat sekitar hotel, berharap tidak bertemu dengan orang-orang yang aku kenal. Untuk apa dia membawaku kesini hanya untuk makan malam. Dalam sejarah hidupku, ini pertama kali aku menginjakan kaki ke hotel, terlebih lagi aku melakukannya bersama pria paruh baya. Sekali lagi, aku menahan nafas, lalu menghelainya dengan panjang. Perutku saat ini memang butuh asupan makanan, tapi mengapa dia harus mengajak aku kesini. Karena terlalu berpikir lama dan tidak mengikuti langkah Tuan Joo, aku sedikit tertinggal. Kulihat Tuan Joo sudah memesan tempat duduk, dan melambaikan tangan ke arahku begitu bola mata kami langsung bertemu. Tak lama kemudian, aku menyusul Tuan Joo. Aku langsung duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan Tuan Joo.
“Ada apa denganmu, Yoona?” Tuan Joo kembali bertanya, tatapan dari bola mata gelap itu penuh dengan selidik, memperhatikan setiap gerakanku yang terlihat seperti gelandangan masuk ke hotel. Aku segera membenarkan posisi duduk, merapikan rambut yang masih berantakan karena tertidur lama.
“Mengapa kita berada disini, Tuan?” Suara sedikit berbisik, agar orang-orang disekitar tidak mendengarnya. Tapi tanpa kuduga, Tuan Joo malah menjawabnya dengan suara menggelegar. Demi Tuhan, aku tidak ingin memberikan pengampunan kepadanya, andai saja dia bukan bosku. Yang kulakukan hanya merutuk kesal, menahan nafas sambil mengulas senyum malu.
“Aku hanya ingin mencoba menu baru ditempat ini.”
“Tapi aku baru pertama kali berada disini,”
“Berarti aku pria pertama yang mengajakmu kencan disini?” Aku menggelutukan gigi, jengkel mendengar Tuan Joo mengatakan hal itu, aku sendiri tidak bisa membedakan apakah itu becanda atau tidak. Berusaha mungkin aku menyunggingkan senyum palsu sambil menjawabnya dengan menyeimbangkan perasaan yang masih sedikit kesal.
Namun, beberapa detik kemudian, menu makanan yang dipesan Tuan Joo telah sampai dihadapan kami, membuat aku sedikit lega karena tidak perlu menjawab pertanyaannya. Aku melirik pelayan menyodorkan Spaghetti Aglio Olio Udang ke arahku, lalu dia berganti menyodorkannya ke Tuan Joo dengan menu yang sama. Setelahnya, pelayan itu mengambil sebotol anggur merah dari meja dorong dengan memamerkan sederet gigi bagian depan sambil menaruhnya di tengah meja. Melihat minuman yang belum pernah membasahi kerongkongan, aku sedikit menelan air ludah karena membayangkan bagaimana rasanya. Semua orang disini terlihat sedang memegangi gelas berisi anggur, lalu tertawa bahagia setelah menghabiskannya. Baiklah, sebentar lagi aku bisa menikmati, dalam hitungan bulan aku akan berumur 18 tahun.
“Cepat habiskan,” Tuan Joo menepuk ringan ke punggung tangan, membuatku sedikit berjengit kaget.
“Ngg….baiklah.” Pupil mataku sedikit membesar menatap Tuan Joo, kedua tanganku segera sibuk mengambil garpu disamping piring makanan. Suara pria itu terdengar mengintimidasi namun terlalu hangat bagiku layaknya seorang Ayah.
Setelah makanan diatas meja telah habis, Tuan Joo segera menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Bibirku baru saja akan bergerak untuk mengeluarkan suara, menolak tawaran itu karena aku ingin menikmati perjalanan pulang dengan jalan kaki. Setidaknya dia mau mendengarkan jawabanku terlebih dahulu, tapi bunyi ponsel terdengar dari saku celana yang akhirnya memenangkan perhatian Tuan Joo. Tangan berotot itu segera menelusup ke dalam saku celana, tubuh yang tidak terlalu tinggi itu segera mendorong bangku yang sedari tadi menopang tubuhnya. Tak lama kemudian, dia meninggalkan aku sendiri dengan wajah yang begitu panik, alis tebalnya saling bertautan seakan mengalami masalah besar, bibir merahnya sesekali merengut disela pembicaraannya melalui ponsel. Aku berusaha memainkan tisu makan dihadapanku seraya menunggu Tuan Joo selesai menelpon seseorang, mungkin membutuhkan waktu lima menit dia akhirnya datang menemuiku. Melihatnya sedang berjalan mendekatiku, aku ingin mengatakan bahwa Tuan Joo tidak perlu mengantarku pulang. Namun sekali lagi, gerakan bibirku sangat lama, karena menunggu dia berdiri mendekatiku, akhirnya dia memintaku untuk pulang sendiri. Dia tidak bisa menemaniku pulang karena ada sesuatu hal yang mendesak.
“Maafkan aku, sepertinya aku harus segera pergi.” Tuan Joo mengelus rambutku dengan lembut seraya membalikan tubuh, lalu dia berjalan pergi ke arah pintu keluar. Bola mataku memandangi punggungnya yang dibalut kemeja putih yang semakin lama memudar dari pandangan. Sedangkan aku masih berdiri belum meninggalkan meja tempat kami menghabiskan makan malam. Aku mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan santai, kedua tanganku segera meraih tas selempang di bangku. Setelah pandanganku menyapu disekitar tempat aku berdiri, memastikan ada barang yang tertinggal atau tidak, aku menemukan beberapa tas belanjaan milik Tuan Joo. Bergegas aku menyahut barang itu, lalu lari ke arah pintu keluar untuk menyusul Tuan Joo. Sepertinya aku telat satu detik, mobil yang ditumpangi Tuan Joo sudah melaju saat tubuhku berhasil keluar dari lobi. Tangan-tangan yang sudah dipenuhi oleh tas belanja, segera melambai ke arah mobilnya, berharap Tuan Joo menghentikan laju mobilnya. Namun keberuntungan sedng tidak memihaku kali ini, tentu saja dia mengabaikan aku, membiarkan aku berteriak seolah-olah aku ini wanita yang ditinggal pergi oleh kekasihnya begitu saja. Aku sudah berdiri kurang lebih lima menit di depan lobi hotel, menunggu Tuan Joo yang masih aku harapkan untuk kembali mengambil barang-barang miliknya. Kurasa tubuh mungil yang sudah terisi oleh makanan mahal masih saja tak berdaya berdiri beberapa menit, sambil menopang barang-barang yang kurasa berat. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah dan mengembalikan barang-barangnya besok lusa.
Author’s Point of View
Yoona berdiri dibawah pohon cemara berdaun lebat, sedikit memberinya kenyamanan karena hembusan angin yang membuatnya merasa segar setelah menghabiskan waktu seharian bergulat di dalam kafe, ya meskipun ruangan itu memilik pendingin ruangan. Kedua tangannya sibuk memegangi kantong belanjaan yang berukuran besar bagi gadis mungil sepertinya. Dia tidak berani meletakan barang milik bosnya itu di bawah tanah, seakan dia menyepelekan atasannya. Sering kali Yoona melirik jam tangan hitam melingkari pergelangan tangannya sambil menanti kehadiran Tuan Joo yang biasanya mengunjungi kafe pada sore hari, meskipun dia menyadari akhir-akhir ini Tuan Joo jarang datang kesini. Yoona saat ini sudah menyelesaikan pekerjaannya di Hari Senin, berharap dia segera bertemu dengan bosnya. Kali ini Yoona berusaha tidak memasang wajah penuh kecewa karena dirinya sudah menanti kehadirannya hampir satu jam tanpa duduk dibangku. Betapa lemasnya kaki Yoona menopang tubuhnya sejak lima jam yang lalu. Seharusnya yang dilakukan Yoona saat ini cukup duduk santai, atau mungkin dia tidak perlu menemui Tuan Joo yang entah sampai kapan dia datang.
Tak lama kemudian, setetes air turun dari dedaunan yang masih menjadi tempat Yoona menunggu Tuan Joo. Saat Yoona mendongakan kepala, melirik untuk mengetahui asal air itu, hujan deras langsung mengguyur tubuh Yoona. Gadis itu keteteran, berusaha mengamankan barang-barang milik Tuan Joo. Saat dia berniat membalikan tubuh untuk berteduh didepan kafe, sebuah tangan dengan gerakan kasar menahan kaus Yoona agar tidak melangkah pergi. Sontak, Yoona menoleh ke samping, melirik tangan yang menempel dibahunya. Sebelah alisnya terangkat, bola matanya penuh dengan selidik. Dengan penuh rasa penasaran, akhirya Yoona membalikan tubuh dan melihat seorang pria muncul dibelakangnya. Menyadari akan kemunculan seseorang yang tak ia kenal, terlebih lagi dia berbuat kasar, Yoona melupakan bahwa tas belanja milik Tuan Joo terbuat dari Papper. Lantas, semua isi dari tas tersebut berserakan di atas aspal yang mulai tergenangi air hujan. Melihat kejadian yang sangat tidak ia inginkan, Yoona langsung memungut pakaian-pakaian yang terlihat mahal itu, bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Yoona sangat tidak menyangka mengalami hal ini, saat tangannya mulai bergerak meraih pakaian, pria dihadapannya menahan gerakan tangan Yoona—dengan gerakan kasar lagi, membuat Yoona meringis kesakitan. Yoona mengerutkan kening sambil menatap tajam ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Teriak Yoona, ditengah suara petir yang menggelegar, dia masih belum sadar, tubuhnya masih berdiri dibawah pepohonan yang lebat. Hembusan angin mulai menerbangkan beberapa helai rambut Yoona yang basah, menandakan bahwa cuaca saat uni sedang tidak bersahabat.
“Kamu jangan berharap bisa lepas dari aku,” pria itu berwajah songong, seperti menyimpan dendam kepada Yoona yang bahkan gadis itu sendiri tidak mengenalinya. Pria itu mengerahkan kedua tangan untuk menyeret tubuh Yoona menjauhi pepohonan, mendekat ke arah kafe tapi tidak berteduh. Bola mata Yoona melotot, memperhatikan pakaian-pakaian itu sudah tidak berbentuk lagi. Mungkin dia membutuhkan beberapa bulan dari gajinya untuk membeli semua pakaian itu, dan Yoona yakin bahwa dia memang harus mengganti semuanya dari potongan gajinya.
“Maksud kamu apa?” Yoona berusaha bersikap santai, membuang tangan pria yang masih mencengkram lengannya, tapi upaya Yoona tidak berhasil karena dia semakin memperkuat gerakannya. Yoona mengerang kesakitan sambil mendesah pelan, tidak membuat pria itu mngendurkan tangannya. Dia tersenyum puas melihat gadis kecil itu kesakitan.
“Kamu segera pergi dari kafe itu dan jangan pernah berhubungan lagi dengan Tuan Joo,” tiba-tiba pria itu mendorong tubuh Yoona ke tengah jalan, tentu saja tubuh Yoona langsung terpental jauh mengingat dorongan dari pria itu sangat kuat. Posisi gadis itu sekarang tertelungkup tak berdaya, wajahnya terbenam menempel ke aspal. Orang-orang sekitar hanya melihat pemandangan menyedihkan itu tanpa melakukan pertolongan, setidaknya membantu Yoona untuk bangkit dan membawanya berteduh dari hujan yang masih setia mengguyur daerah itu.
Pria yang berhasil mempermalukan Yoona dihadapan umum itu, pergi begitu saja dengan melemparkan senyum puas menatapi Yoona terbaring, masih tidak bergerak sama sekali. Dia langsung masuk ke sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari kafe tempat Yoona bekerja. Beberapa kali kendaraan besar melewati jalanan dimana Yoona terjatuh, namun tetap saja tidak ada yang mau merelakan diri untuk basah kuyup demi menolong gadis itu. Sudah beberapa menit, pria itu tidak menyalakan mesin mobil, dia masih mengawasi gerakan Yoona dari dalam mobilnya. Bola mata gelap itu tidak berkedip sambil menelusuri keadaan sekitar, berharap orang-orang memangil ambulans, dan wajahnya sekarang memasang raut kasihan mengetahui kondisi Yoon. Pria itu menghembuskan nafas kesal, sedikit terbebani akibat sikap kurang ajarnya tadi kepada Yoona. Sikapnya semakin gelisah ketika jumlah volume air hujan bertambah banyak. Berulang kali dia menggigit bagian tengah bibir, mengurangi rasa bersalahnya. Tiba-tiba dia langsung teringat kejadian tadi malam, dimana ibunya mengalami sakit parah namun ayahnya tidak ada disampingnya. Kepalanya menggeleng, berusaha menyingkirkan rasa bersalahnya kepada Yoona. Gadis tak tau malu itu memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, dan memang seharusnya dia tidak ada yang menolongnya. Sekarang dia sudah sadar apa yang harus dilakukannya saat ini, yaitu pergi meninggalkan kafe ini, begitu juga gadis itu.