Pertemuanku Dengan Nathan

1744 Kata
Yoona menjejalkan sepasang sepatu kets yang sudah tidak berbentuk lagi ke kaki mungilnya, sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah potongan roti yang ia beli di supermarket dengan harga murah karena sudah kadaluarsa dua hari yang lalu. Setelah selesai mengikat tali sepatu, ia meraih ransel yang tergeletak di atas lantai. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju arah kota untuk menemui seorang pria paruh baya. Yoona biasa memanggil pria itu dengan panggilan Tuan Joo. Gadis itu tidak sengaja bertemu dengan Tuan Joo di sebuah tempat les, tanpa basa-basi Tuan Joo langsung menawarkan Yoona sebuah pekerjaan karena ia membutuhkan karyawan untuk bekerja di kafe miliknya. Yoona sebenarnya keberatan menerima tawaran itu karena dia harus belajar agar lulus sekolah. Terlebih lagi dia harus fokus masuk ke perguruan tinggi demi beasiswa. Mendengar penjelasan Tuan Joo bahwa Yoona bisa bekerja selama empat jam dalam sehari dan bisa menyempatkan waktu untuk belajar, Yoona dengan semangat langsung mengiyakan untuk bekerja di kafe Tuan Joo. Gadis mungil itu terus tersenyum kecil saat mengingat pertemuannya dengan Tuan Joo. Tanpa disadari Yoona, akhirnya tubuhnya sudah berada di depan sebuah bangunan tua namun ramai pengunjung di dalamnya. Ia mengerutkan kening, membayangkan saat dirinya mulai bekerja. Rasanya Yoona ingin membalikan tubuh dan kembali ke Apartemen Studio miliknya. Niat itu langsung hilang begitu saja karena Yoona melihat Tuan Joo sedang melambaikan tangan ke arahnya dari dalam kafe dan memberikan kode agar Yoona segera masuk. Yoona dengan berat hati melaksanakan perintah Tuan Joo dan mulai memasuki kafe itu. Dari dalam kafe, Tuan Joo segera menyambut kedatangan Yoona dan langsung memberikan Yoona sebuah seragam. Yoona sedikit bingung, karena pemilik kafe itu tanpa mengatakan sepatah kata langsung menyuruh Yoona masuk ke dalam. Bola mata cokelat itu nampak bingung dan berjalan sesuai permintaan Tuan Joo. Sesampai di dalam, Yoona bertemu dengan seorang pemuda bernama Nathan. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangan mengajak Yoona berkenalan sembari melemparkan senyum manis. Melihat Nathan mengajaknya berkenalan, Yoona langsung terfokus pada bola mata Nathan seraya membalas uluran tangannya. “Hai, aku Nathan. Senang bertemu denganmu.” Suara Nathan terdengar semangat meski ia sedikit malu-malu. “Aku Yoona.” Jawabnya dengan singkat. Kedua tangan Yoona masih memegang seragam. “Mau ganti baju ya?” Nathan bertanya dengan meraih tangan Yoona, lalu membawanya ke sebuah ruang ganti baju. Sontak, Yoona mendelik menatap punggung Nathan saat mereka berjalan ke ruang tersebut. “Silakan masuk.” Nathan mendorong masuk pundak Yoona dengan lembut, lalu pemuda itu masih berdiri didepan pintu untuk menunggu Yoona selesai mengganti bajunya. Setelah beberapa menit, Yoona keluar ruangan dengan seragam yang sudah melekat ditubuhnya. Kepalanya sibuk melirik bagian rok yang menurutnya terlalu kecil. Kedua tangan Yoona sibuk menarik kain rok itu ke bawah. Nathan yang melihat tingkah gemas Yoona, berkacak pinggang dengan menarik sudut bibirnya, membiarkan gadis didepannya bersikap seperti itu. Bukan maksud Nathan menyukai penampilan seksi Yoona, melainkan pemuda itu hanya menyukai sikap Yoona yang begitu menggemaskan layaknya seorang anak kecil. Nathan sebenarnya merupakan karyawan terbaik kafe itu dan mendapatkan perintah oleh Tuan Joo untuk membantu Yoona dalam pekerjaannya. Nathan sendiri berusaha menuruti Tuan Joo tanpa mengenal Yoona sama sekali sebelum nya. Begitu Nathan melihat dan bertemu Yoona, pemuda itu mulai tertarik dengan Yoona. “Kau boleh memakai celana panjangku,” Nathan pergi ke arah loker yang tak jauh dari mereka berdiri, dan mengambil celana panjang hitam dari dalam tas saat dia sudah membuka pintu loker. Pemuda langsung memberikan kepada Yoona agar dia segera mengganti celana. “Ini sudah dicuci.” “Ngg…terima kasih.” Sekali lagi Yoona hanya menjawab singkat dan kembali masuk ke ruang ganti. Saat dia keluar, Yoona terkejut karena Nathan sudah pergi meninggalkannya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Kepalanya menoleh ke segala arah, berharap ada seseorang yang mau membantunya. Tapi kedua bola mata Yoona tidak menemukan orang sama sekali. Akhirnya dia keluar dari ruang dapur dan melihat para pengunjung sedang mengantri membeli beberapa minuman dan makanan ringan. “Kemari lah.” Teriak Nathan dari jarak jauh, tangannya memberikan isyarat agar Yoona mendekatinya. Wajah Yoona langsung berubah ceria begitu dia menemukan seseorang yang membutuhkannya. Jujur, ini pertama kalinya Yoona diperlakukan baik oleh anak laki-laki yang baru ia kenal. Dilihat dari sikap Nathan, pemuda itu bersikap hangat meskipun banyak tingkah. Yoona berharap dia bis berteman akrab dengan Nathan. “Apa yang harus aku lakukan?” “Kamu hanya perlu berdiri disebelahku, melihat apa saja yang aku lakukan. Khusus hari ini kamu tidak perlu melakukan apapun.” “Ngg…serius aku tidak perlu melakukan apapun?” Tanya Yoona dengan mata berbinar. “Ya, tapi kamu harus berjanji untuk menemaniku makan siang nanti?” kali ini Nathan menatap ke arah Yoona dengan senyum manis, berharap gadis itu mau menerima ajakan Nathan. “Ngg…baiklah. Terima kasih sebelumnya.” “Tidak perlu bilang terima kasih. Seharusnya aku yang bilang terima kasih karena kamu sudah mau menemaniku makan siang.” Lantas Yoona hanya menganggukan kepala menatap Nathan yang begitu tampan dan baik hati. Pada kenyataannya, Tuan Joo muncul dari belakang mereka berdiri dan meminta Yoona untuk menemaninya makan siang. Yoona yang sangat bingung karena sudah mempunyai janji dengan Nathan, masih bepikir sambil menahan nafas. Dia juga sempat melirik ke arah Nathan yang terdiam begitu saja. Wajah Nathan menampakan sedikit kekecawaan, tapi kali ini dia harus mengalah kepada atasannya. Nathan segera mengerlingkan sebelah mata kepada Yoona dengan sedikit menganggukan kepala. Setelah mendapatkan jawaban dari Nathan, Yoona menatap Tuan Joo sambil menerima tawaran itu. Beberapa karyawan kafe yang lain sengaja mendengar pembicaraan Tuan Joo dan Yoona, dan mereka sedikit tidak terima atas perlakuan Tuan Joo terhadap Yoona. Mengapa hanya Yoona yang diajak untuk makan siang, apakah dia seseorang yang istimewa bagi Tuan Joo. Setelah Tuan Joo mendapatkan jawaban dari Yoona, pria itu pergi meninggalkan Yoona dan Nathan begitu saja. “Maafkan aku.” Ucap Yoona dengan menggigit bibirnya secara lembut. Dia menatap wajah Nathan yang masih sedikit kecewa, berharap Nathan segera mengakhiri raut wajah jeleknya itu. Namun, Nathan segera membalas senyuman Yoona dan mengelus rambutnya beberapa kali. “Santai saja.” Jawab Nathan, dia langsung memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. Rupanya pemuda itu salah tingkah setelah tidak sengaja mengelus rambut Yoona. Nathan berharap Yoona menganggap sikapnya itu sebatas adik kakak, karena Nathan takut Yoona akan salah paham. “Terima kasih.” **** Yoona segera bergegas membereskan barang-barangnya dari dalam loker dan setelah semuanya selesai dimasukan ke dalam tas, gadis itu berjalan keluar kafe. Saat ini jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Gadis itu melangkahkan kaki seorang diri di kegelapa. Baru kali ini Yoona keluar rumah pada jam segini, karena sebelumnya dia selalu menghabiskan waktu untuk belajar demi bisa masuk ke perguruan tinggi pilihannya. Tiba-tiba saja langkah Yoona terhenti saat dia mendengar suara ringan Nathan dari seberang jalan, sedangkan Yoona langsung bersikap gugup melihat keberadaannya. Apa yang sedang ia lakukan di seberang sana. Apakah pemuda itu mengincar Yoona, yang masih polos untuk mengajaknya bermalam. Yoona berusaha menyipitkan kelopak mata menatap ke arah Nathan, berusaha tidak mengenalinya. Setelah beberapa detik, dia langsung pergi mengacuhkan keberadaan Nathan. Ah, sial. Rupanya Nathan berlari ke arah Yoona. Lantas, begitu Yoona mengetahui seseorang mendekatinya, dia langsung mempercepat langkah kakinya agar menjauh dari Nathan. Usahanya untuk tidak mengenali Nathan sia-sia. Rupanya dia tidak menyerah untuk mengikuti Yoona kemanapun pergi. “Hei, kenapa pergi begitu saja?” Nathan menyentuh pundak Yoona dengan telunjuknya berulang kali. “Aku sengaja menunggumu, karena kamu sudah punya janji denganku.” Mendengar kalimat Nathan, Yoona tiba-tiba saja berhenti dan memutar tubuhnya. “Janji yang mana?” Tanya Yoona, sebelah alisnya sedikit terangkat sambil menatap tajam ke arah Nathan. “Kamu berjanji untuk menemaniku makan siang.” “Sekarang sudah malam.” Jawab Yoona dengan acuh. “Baiklah, intinya kamu berjanji untuk menemaniku makan, hmm?” wajah Nathan sengaja didorong ke depan, mendekati Yoona sambil terkekeh.Yoona dengan cekatan, memundurkan wajahnya agar tidak bersentuhan dengan Nathan, meski sebenarnya detak jantungnya berdetak kencang. “Jangan sekarang.” Yoona mengakhiri kalimatnya dengan memutar tubuhnya kembali dan berjalan meninggalkan Nathan. “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Yoona mengacuhkan kalimat yang keluar dari mulut Nathan, dan tidak bersedia untuk menerima tawaran pemuda itu. Dia tidak menyangka kalau Nathan berusaha mati-matian untuk mendekatinya, bahkan dengan sikapnya yang berlebihan. Detak jantung Yoona semakin berpacu ketika Nathan berjalan disampingnya. Matanya melotot memperhatikan kaki Nathan yang menyamai kecepatan kakinya. “Dasar penguntit,” Yoona meninggikan suaranya, membuat Nathan sedikit terkejut sambil menahan tawa. “Aku hanya  ingin pulang bersamamu, lagipula kita satu arah jalan pulang.” Nathan mengakhiri ucapannya dengan tertawa lepas, membuat Yoona menatap bingung sambil mengerucutkan bibir. Yoona tidak bisa berpikir lagi, alasan apa yang akan Nathan katakan untuk mengikutinya pulang. Saat ini Yoona benar-benar merasa ketakutan, berpikir bahwa Nathan seorang penguntit bahkan orang m***m. Membayangkan hal itu benar-benar terjadi, Yoona bergidik ngeri dengan melipat kedua tangannya. “Baiklah, aku akan menjauhimu.” Lanjut Nathan dengan menghentikan langkah kaki. Lalu dia membiarkan Yoona berjalan sendirian. Yoona menghelai nafas panjang begitu Nathan sudah tidak mengikutinya lagi. Namun kali ini, Yoona merasa sial karena di ujung jalan dia melihat seseorang sedang mabuk. Gadis itu mulai berhenti dan mengambil nafas. Sepertinya dia harus mempercayai Nathan kali ini, tapi…. Dia sungguh tidak ada harga diri apabila meminta bantuan Nathan untuk mengantarnya pulang. Baiklah, Yoona akan mengabaikan orang didepannya, dan berniat untuk berlari. Tapi kenyataannya, langkah Yoona terjatuh karena tubuhnya kecil dan tidak bertenaga. Melihat seorang gadis berjalan sendiri, orang mabuk itu mendekati Yoona dengan menyeringai. Saat Yoona berusaha menegakkan tubuh, orang itu menarik lengan Yoona agar mendekatinya. Yoona rupanya sedang menyulitkan dirinya sendiri, andai saja dia membiarkan Nathan untuk menemaninya pulang, pasti dia akan baik-baik saja. Saat wajah Yoona akan ditempelkan ke wajah orang itu, Yoona langsung terkejut melihat orang didepannya jatuh ke aspal. Rupanya Nathan baru saja memukul bagian belakang tubuh orang itu. Tak perlu menunggu lama, Nathan segera meraih tangan Yoona dan mengajaknya untuk berlari kencang. “Aku lelah.” Teriak Yoona, sedikit tertinggal dengan langkah Nathan yang sangat cepat. “Serius, aku lelah.” “Aku akan menggendongmu kalau kamu pingsan,” Nathan berteriak tanpa menatap e wajah Yoona. Baru kali ini Yoona melakukan olahraga malam, berlari dengan seorang laki-laki. Sungguh, ini baru pertama kali Yoona melakukannya. Dia bersyukur kepada Tuhan yang sudah mengirimkan seorang teman dalam hidupnya. Tak lama kemudian, nafas Yoona saling berlomba untuk menghirup oksigen, begitu juga dengan Nathan. Mereka berdua saat ini sudah berada di depan kawasan Apartemen Studio. “Bagaimana kamu tahu aku tinggal disini?” Tanya Yoona. Nathan hanya mengangkat kedua bahunya sembari pergi meninggalkan Yoona sendirian. Tanpa mengucapkan sebuah kalimat, Nathan menghilang di kegelapan malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN