Matahari tenggelam. Kabut tiba lebih dulu daripada musuh. Ia merayap dari jurang laut, pelan namun pasti—menyelinap di sela kebun zaitun, memeluk dinding villa, menutup halaman belakang seperti kain kafan yang dipasang dengan sabar. Di kejauhan, desir ombak menghantam batu-batu karang menjadi latar suara yang menegangkan. Tak ada lampu yang menyala. Tak ada musik pengiring. Tak pula ada tanda bahwa rumah itu berpenghuni—kecuali mereka yang bergerak dalam kegelapan dan yang menunggu di titik-titik buta. Gyan berdiri di rubanah, tepat di depan meja senjata yang senja tadi ia rapikan sendiri. Ia menutup magazin terakhir dengan bunyi yang terasa memekakkan telinga, lalu mengangkat pandangannya sambil membidik dan membayangkan baj1ngan yang menghabisi ayahnya berdiri di hadapannya—menyerahka

