Matahari pagi itu seolah malas menerangi. Redup. Kabut masih menggantung rendah di perbukitan, lebih tebal dari biasanya, seolah malam masih enggan pergi. Jalan sempit yang mereka tinggalkan beberapa jam lalu kini terlihat mencurigakan, terlalu aneh. Aspal yang sama. Tikungan yang sama. Tebing batu yang sama. Lantas mengapa lima mobil yang mereka kejar tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi? Itulah yang membuat Dante merasakan sesuatu yang sangat salah. Ia berdiri di tepi jalan, mantel hitamnya terbuka, rokok mati di antara jemarinya. Udara pagi cukup dingin, meski tak sampai membuatnya menggigil. Atau mungkinkah karena perasaan dipermainkan yang membuatnya seperti menggenggam bara hingga suhu rendah yang mengelilingi sama sekali tak terasa? “Jejaknya jelas,” ujar Armando, anak buah kep

