Area belakang villa Marbella lebih gelap daripada seharusnya untuk sebuah properti semewah itu. Tak ada lampu taman. Tak ada lampu teras. Bahkan lampu sensor gerak pun tak menyala. Villa itu berdiri seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan, meski jauh dari kata kumuh. Bukan pula karena pemiliknya tak peduli, namun karena tempat itu begitu pribadi bagi Gyan. Fasad bangunan itu berdinding putih pucat, nyaris menyatu dengan kabut. Jendela-jendela besar memantulkan kegelapan. Kebun zaitun di belakangnya bagaikan lautan bayangan. Dan area datar yang menjorok ke jurang seolah membutakan. “Selain senjata, apa yang kamu punya, mon loup?” tanya Belle. “Mmm... makanan instan, yang jauh dari kata sehat,” jawab Gyan. Lorenzo berjalan mendekat. Masih kagum dengan suasana di sana. “Ini… te

