Lorong itu tak ramah. Langit-langitnya rendah, dindingnya lembap, dan bau tanah bercampur besi berkarat mengisi udara. Mereka bergerak cepat, tanpa panik. Itu aturan tak tertulis Famiglia — panik hanya membuat suara, dan suara hanya mengundang kematian. Belle dan Lorenzo berjalan paling depan, tegap, pistol sudah di genggaman meski belum diangkat. Gyan di belakangnya, satu tangan menggenggam senjata, satu lagi sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan atau sekadar ‘merasakan’ situasi. Langkahnya panjang, terkontrol—meski pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di lorong itu. Ia masih membawa suara François di kepalanya. Jangan terluka. Lorong berbelok tajam ke kiri, lalu menurun sedikit. Air menetes dari pipa tua di atas, jatuh ke lantai dengan bunyi menggema yang terasa

