Jam di pergelangan tangan Belle menunjukkan lewat tengah malam. Di atas mereka, kota Málaga masih hidup. Suara kendaraan sesekali melintas, tawa samar yang terasa jauh, bahkan bunyi pintu besi yang beradu dari sekeliling klinik ini. Namun di rubanah, dunia seolah menutup pintunya rapat—menyisakan hanya mereka, yang masih mengatur napas, dan yang tengah mencoba menyingkirkan aroma mesiu dari tubuh. Tak ada perayaan setelah Duval mati. Tak ada ucapan selamat. Tak ada kemenangan. Karena ‘menang’ selalu membawa rasa lega, sementara tak ada yang benar-benar lega malam ini. Belle berdiri di dekat tiang beton, memandangi timnya satu per satu. Mereka menyebar tanpa komando yang perlu diteriakkan. Itu salah satu hal yang ia sukai dari Famiglia. Mereka sama sekali tak berisik saat situasi me

