Pintu ruang operasi terbuka, membawa bunyi engsel tua yang berderit pelan. Gyan bahkan berpikir seakan-akan engsel itu ikutan lelah menahan kekhawatiran terlalu lama. Matteo keluar lebih dulu. Masker bedah diturunkannya ke bawah dagu. Keringat membasahi ikat kepala dan pelipisnya, surainya sedikit basah, wajahnya terlihat letih meski sorot matanya tetap tajam. Ia diam sejenak, menatap wajah-wajah yang menunggu di lorong sempit itu. Tak ada yang langsung bertanya. Semua tau jika satu kata saja bisa mengubah segalanya. “Untuk saat ini, Monsieur François selamat,” ujar Matteo akhirnya. Suaranya sedikit gemetar, seolah ia baru saja berhasil meloloskan diri dari neraka. “Tapi kita belum bisa bernapas lega.” Sesak yang sejak tadi Gyan tahan akhirnya luruh dalam satu helaan napas panjang. Lu

