Deru mesin SUV memecah senyap lorong-lorong sempit Málaga. Di balik kaca depan, bayangan gedung tua, bengkel-bengkel kecil, dan grafiti yang menggerogoti tembok melintas cepat. Bau mesiu masih menempel di tubuh, terbawa keluar dari safehouse—seakan perang mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi. Belle duduk di kursi penumpang depan, tubuhnya condong sedikit, mata menyapu setiap sudut jalan. Getaran dari baku tembak sebelumnya belum sepenuhnya hilang dari tangannya. Ia juga belum sempat membersihkan darah tipis di pipi, dan rambutnya berantakan, namun sorot matanya tetap setajam belati di tangan kirinya. Di belakang kemudi, Afonso—salah satu tim famiglia—menurunkan kecepatan sesuai instruksi Belle. “Matikan lampu utama,” ujar Belle. Headlamp meredup ke mode low, menyisakan sorot sempi

