Di Waktu Yang Sama Suara tembakan pertama menghantam dinding kiri safehouse seperti palu godam menabrak besi tua. Debu beterbangan, lampu gantung bergoyang keras. Gyan dan Belle langsung merunduk, pistol terangkat, punggung bertemu punggung. “Tim dua! Laporkan posisi!” seru Belle. “Ventilasi—mereka menjebol ventilasi! Tiga orang sudah masuk! Kami menahan sisanya—“ “ARGH!” Suara benturan keras mengikuti jeritan itu, disusul dentuman kayu patah. “Laporkan!” ujar Gyan. “Satu dari mereka tumbang, Monsieur.” Gyan mencengkram pistol lebih erat. “Mereka masuk. Dari dalam,” gumamnya. “Itu berarti kita tidak perlu mencari mereka terlalu jauh,” tanggap Belle, dingin. *** Lorong safehouse yang sempit kini menjadi arena pertempuran jarak dekat—ruang di mana peluru tak bisa menari bebas tan

