PENYERGAPAN

1808 Kata

Gyan masih duduk di kursi, tubuhnya condong ke depan, kedua sikunya bertumpu pada meja. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar samar suara kota dan detik jam dinding yang seolah berjalan terlalu cepat. “Bruno....” Gyan akhirnya bersuara. “Waktu Belle bilang melihat pamanku di Loire, aku mencoba menghubunginya, mengajaknya makan malam keluarga.” Ia membuka ponsel, masuk ke aplikasi chat, membuka roomchat dengan François. Kemudian, Gyan menoleh ke Bruno. “Tak terkirim. Saat itu, aku juga mencoba menelponnya. Tidak tersambung. Di luar jangkauan.” Kening Bruno mengernyit. Namun ia diam, tak langsung memberi komentar. “Aku tak ambil pusing, karena kupikir mungkin beliau kebetulan ada di sana. Meski akhirnya aku sadar, pamanku bukan orang yang percaya dan melangkah berdasarkan kebetulan.” Brun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN