Bastian mulai merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena sejak tadi hanya diam dan menatap layar laptop yang hanya berisikan ribuan tulisan dan grafik yang membuatnya muak. Rasanya mual karena setiap hari harus melihat hal semacam itu dan tidak berubah sama sekali. Perlahan, dia bangkit dan melangkah kaki, mencoba menghilangkan bosan dengan sejak tadi menyergapnya. Bastian berhenti melangkah ketika sudah berada di belakang kursi kerjanya, menatap hamparan ibu kota yang terpapar tepat di depannya dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Dia hanya diam dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Hingga sebuah ketukan terdengar, membuat Bastian melirik, tanpa membalik tubuhnya sama sekali. Pintu terbuka, menghadirkan seorang wanita dengan pakaian kerja yang begitu rapi.

