Rintangan Awal

2033 Kata
Degup jantungku kian keras Tiap kali bayangannya melintas di benak Seringkali aku terdiam Merasakan kerinduan yang tak bertepi *** Rintangan Awal Sebuah kamar bernuansa merah muda tengah dihuni oleh beberapa gadis. Hampir seluruhnya berumur tujuh belas tahun. Wajah mereka telah dibaluri masker bengkoang buatan sendiri. Hampir semua memakai penutup mata berwarna hitam. Seorang gadis berada di bawah bersandar pada bantal boneka sedangkan dua lainnya berbaring di tempat tidur. Masa muda memang masa-masa yang indah bukan? Biasanya para gadis pasti sering berkumpul untuk bergosip atau sekadar melakukan perawatan wajah bersama. Hal ini merupakan sebuah tradisi yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pemilik kamar ini menyingkirkan timun yang menutupi matanya. Berjalan dengan hati-hati melewati temannya. “Mau kemana, Rein?” “Hmm? Tentu saja membersihkan masker ini. Tunggu sebentar.” Sekitar tiga puluh menit berlalu, ia kembali dengan wajah yang telah bersih. Masih ada jejak-jejak air menuruni wajahnya dan membasahi baju kaos berwarna putih yang dikenakan. Rein duduk di depan meja rias, menguncir tinggi rambut panjangnya. Lalu, meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajah. Ia mendekat pada cermin besar yang terpampang di hadapan. Cukup lama mengamati lalu tersenyum simpul. Efek masker yang dibuat Rika sangat baik. Selain kulit wajah menjadi cerah, terasa sangat segar. Mungkin karena dicampur dengan timun. “Kamu berbakat,” ujarnya menyenggol kaki Rika yang masih berbaring di tikar. “Apa sih?” “Kamu berbakat di bidang kecantikan. Aku sedang memujimu.” “Haha, aku sudah tahu.” Ia mengulum senyum tipis. Tidak sadar kalau sahabatnya sedikit lebih percaya diri dari yang biasanya. Cukup lama Rein terduduk. Kemudian, memposisikan diri pada tempat tidur dan menyelonjorkan kedua kaki. Ia menarik napas panjang. Entah apa yang mengusik pikirannya. “Hei, sampai kapan kamu memakai masker? Aku ingin menceritakan sesuatu.” “Sebentar saja, Rein. Aku mengantuk,” ujar Rika masih memakai penutup mata. Ia merentangkan tangan kemudian melipatnya di depan d**a. “Bangunkan aku lima belas menit lagi.” Rein hanya menggeleng lemah. Padahal waktu berbicara di telepon, mereka berjanji untuk bertemu karena ingin berdiskusi mengenai percintaan. Sekarang malah berbeda, justru kedua gadis itu tertidur pulas. Bagaimana bisa Rein mengatakan kedua temannya tertidur pulas? Tentu saja setelah menengok ke sebelah. Ia mendengar Gita mendengkur pelan dengan kaki yang saling bertumpukan. Kebanyakan gadis terbiasa tidur siang. Setidaknya hal ini berlaku pada kedua teman sekelasnya. Tapi, Rein berbeda. Ia belum mengantuk sama sekali. Ada sekelebat wajah pemuda yang mengusik tidurnya. Padahal semalam ia tidak bisa tertidur nyenyak, tetap saja melewatkan tidur siang. Sebelah tangan digunakan untuk merogoh celah di ujung kasur. Setelah beberapa lama mencari, ia menemukan sebuah notebook sebesar telapak tangan. Ia menengok ke bawah, memastikan Rika masih tertidur lelap. Saat menengok ke sebelah ia mendapati Gita masih belum terbangun juga. “Nah, ini dia.” Perlahan-lahan ia mengeluarkan notebook itu dan membuka halaman pertama. Sebuah senyum terkembang waktu melihat gambar seekor kelinci. Kalau tidak salah ingat gambar ini saat pertama kalinya mulai menggambar. “Lucunya..” Rein bergumam sendiri. Lalu, membalikkan halaman selanjutnya. Ketika sampai di halaman tengah, segera saja sebuah senyum lebar mengukir di wajah. Gambaran itu tidak lain adalah wajah seorang pemuda yang ditemui beberapa waktu lalu. Ia memeluk erat sekali gambaran yang dibuat. Jujur, Rein menyukai momen-momen pertemuan mereka berdua. Meski pun dari kedua belah pihak tidak bisa dikatakan ramah. “Seharusnya aku tidak galak waktu itu,” gumamnya kecil. Takut kalau terdengar oleh mereka dan akan membangunkannya. Tangan Rein kembali menjauhkan gambar yang dibuat. Lama sekali memandangi gambaran di tangan. Ia menghela napas panjang, kemudian menaruh notebook itu di meja. “Mungkin aku bisa mencarinya di dunia maya.” Ia mengambil tablet di sebelahnya. Mengetikkan beberapa huruf hingga muncul akun miliknya. Dan tersenyum menuliskan salah satu nama pada mesin pencari internet. Segera saja senyum itu pudar saat yang dicari tidak ada pada akun-akun yang muncul. “Hmm, ini lebih susah dari pada yang kukira.” Sekali lagi, ia mengetikkan sebuah nama. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun pemuda yang mirip dengan orang yang dicarinya selama ini. Apa pertemuan kemarin memang untuk pertama dan terakhir? Entah mengapa ia tidak dapat mempercayainya. .+.+.+.+.+. Seorang pemuda tengah berbaring di atas rerumputan hijau di seputaran halaman rumah. Bukan tanpa sebab melakukannya. Ia tengah berjuang mengusir bayang-bayang seseorang yang mengganggu tidurnya selama ini. Apakah mungkin menyukainya? Berulang kali menampik kenyataan manis itu. Ia hanya tidak dapat berpikir jernih. Dan menghilangkan pernyataan tidak enak dari hati terdalamnya. Kemungkinan besar di mana ia menyukai gadis belasan tahun yang ternyata bernama Rein Astuti Putri. Bagaimana bisa mengetahui namanya? Hal itu tercetak jelas pada kartu pelajar yang tidak sengaja ditemukannya. Semua tercatat sangat jelas. Letak sekolah, alamat rumah sampai tanggal lahir dari gadis itu terdapat pada kartu pelajar miliknya. Beberapa kali menimbang-nimbang, Rey memutuskan untuk menemuinya besok. Jika tidak ada halangan sama sekali. Sambil menatap langit malam, ia bersenandung kecil lalu tersenyum lebar. “Besok, aku akan menemuimu,” gumamnya sembarangan. Ia bahkan tidak peduli ada yang menyebutnya gila. Biarlah, toh memang benar kenyataannya. Bahwa ia mulai gila karena menyukai seorang gadis yang baru ditemui beberapa menit saja. Apa yang dirasakannya bisa dikatakan suka? Ia pun bingung mengenai hal ini. Seringkali ia bertanya pada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Namun hanya suara jangkrik mendominasi jawaban itu. Sama seperti sekarang. Bintang-bintang seakan tidak menghiraukan resah yang dirasakannya. Bukannya menjawab, hanya berkerlap-kerlip di gelapnya malam. Seandainya saja ada orang yang melihat sudah bisa dipastikan mereka mengira Rey mempunyai masalah dengan kepalanya. Karena sedari tadi berteriak kepada langit di atas. Apakah Rey waras? Tentu saja. Ia hanya merasakan hal yang biasa dialami dewasa muda, biasanya disebut sebagai cinta pertama. “Kak Rey!” Suara seseorang yang terdengar familiar menyerukan namanya. Tanpa menoleh ke sumber suara, ia yakin sosok itu mulai mendekat. Kedua sudut bibirnya tertarik merasakan keberadaan orang itu di sebelahnya. “Ngapain sendirian di sini?” Ia menoleh, lalu kembali tersenyum. “Menghitung bintang, kamu? “Aku baru saja pulang dari rumah temanku. Hah, menghitung bintang? Kamu sedang bercanda?” “Tidak Drey. Aku bersungguh-sungguh,” Bola mata kehitaman itu menatap penuh selidik terhadap kakaknya. Ia menyusuri seluruh wajah dan terpaku pada kedua bola mata cokelat milik Rey. “Aku tahu..” Tangan Rey menyentuh hidung Audrey dan mencubitnya gemas. “Apa yang diketahui anak kecil sepertimu, hm?” “Kak Rey! Lepaskan tanganmu! Aku bukan anak kecil lagi.” “Kamu baru berumur lima belas tahun bulan Februari lalu dan aku akan berumur dua puluh tahun bulan Agustus ini. Jadi, sudah jelas ‘kan siapa yang anak kecil?” Ia beragumen lalu melepaskan cubitannya pada Audrey. “Huh, terserah saja. Yang pasti aku mengetahui satu hal penting.” “Apa memangnya?” “Kenyataan bahwa kakakku yang kaku ini sedang jatuh cinta. Hahahaha,” ujarnya lalu mengerling pada Rey. Melihat bagaimana Audrey menggodanya membuatnya tersenyum malu-malu. Berbeda dari penilaiannya. Ternyata Audrey cukup mahir membaca ekspresi seseorang. Ia bahkan tidak sadar kalau tadi tengah diamati. “Jadi, aku benar ‘kan?” “Yup, seratus persen benar.” Sontak saja ia tersenyum pada Audrey. Menepuk-nepuk pelan kepalanya. Audrey balas tersenyum lebar, bersyukur karena Rey bisa menemukan gadis yang pas dengannya. Ia sempat cemas kalau Rey menolak semua kehadiran gadis yang ingin mendekati. “Lalu, seperti apa gadis yang telah menarik perhatianmu, Kak?” “Gadis yang bahkan tidak dapat kubayangkan, Drey.” “Bisa perjelas maksudmu?” Rey kembali tersenyum tertahan. Pandangannya kembali memandangi langit luas. Tangannya meraih setinggi mungkin. Lalu, memeluk erat seolah langit adalah gadis yang telah mencuri hatinya. “Ia seperti langit luas di atasku ini, Drey.” Audrey hanya memandang penuh tanya. Tidak mengerti maksud perkataan kakaknya. “Ah, perjelas lagi.” “Ia seperti langit luas yang dikagumi banyak orang. Meski aku memandangnya berkali-kali, tidak akan pernah bosan. Karena keindahan pada dirinya mempunyai ciri khas yang jarang dimiliki gadis lain.” “Wah, bukan hanya sifatmu yang berubah Kak. Melainkan cara pandangmu benar-benar berbeda. Aku kagum mendengarnya. Apa memang ada gadis seperti itu?” “Tentu saja ada, dia adalah salah satunya. Nanti, jika hubunganku dengannya sudah resmi. Aku akan memperkenalkanmu padanya.” “Tunggu.” Ia menoleh kepada Rey yang masih memandangi langit luas. Jadi, ia belum mengenal gadis tersebut? “Kamu belum berkenalan dengannya?” “Ya, aku mengetahui namanya dari kartu pelajar yang tidak sengaja dijatuhkannya. Audrey menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Padahal tadi sudah sungguh-sungguh mendengarkan. Bahkan, Rey belum mengenalnya. Bagaimana bisa kakaknya ini jatuh hati padanya? Sungguh aneh. “Jadi, Kak Rey menyukainya sejak melihat foto di kartu pelajarnya?” “Bukan.” “Lalu?” “Aku tidak sengaja mengambil foto dengan lensa kameraku, Drey. Dan, percakapan itu terjadi.” “Oh, seperti itu. Apakah mendapatkan nomor telepon atau emailnya?” “Tidak. Aku bahkan belum sempat memperkenalkan diri.” Giliran Audrey menarik napas panjang mendengar penuturan Rey. Bisa bayangkan betapa tidak pekanya kakaknya ini? Jika memang menyukai gadis itu, setidaknya harus bertindak. Biar bagaimana pun seorang gadis lebih suka sebuah tindakan langsung. Bukannya berlama-lama seperti sekarang. Siapa tahu saja gadis itu menunggu kehadiran Rey. “Ya ampun. Kamu benar-benar payah, Kak.” “Payah? Aku belum sempat memperkenalkan diri, dan gadis itu berlalu begitu saja. Waktu berniat untuk mengejar, sosoknya telah hilang di keramaian.” “Aku kira tidak berusaha sama sekali. Lalu, apa yang akan Kak Rey lakukan untuk menemuinya? Ke rumah atau sekolahnya?” “Masih bingung, Drey.” Lengan pendek itu menyentuh sebelah bahu kakaknya, kemudian tersenyum lebar. “Besok temui dia di sekolah, aku tidak menerima alasan apa pun!” Berbanding terbalik dengan Audrey. Justru Rey hanya mengulum senyum tanpa membalas perkataannya. Ia menarik telapak tangan Audrey setelah bangkit berdiri. Dan, mengajaknya menuju ruang makan. Baru saja memasuki ruang makan. Suasana menjadi sunyi dan sepi. Tidak terdengar lagi suara alat makan yang beradu. Atau, gumaman ayah mengenai bisnis keluarga. Pandangan mata ibu mengekori langkah kaki mereka berdua. Sampai akhirnya mengalihkan pandangan sewaktu duduk bersebelahan. “Kalian dari mana?” Suara beratnya memecah keheningan. Ia mengambil tisu untuk membersihkan bekas saus yang menempel di bibirnya. Audrey berinisiatif untuk menjawab, “Kami melihat bintang bersama-sama, Ayah” “Hmm?” “Kami memandangi bintang sampai melupakan makan malam. Maafkan kami,” ucap Rey menunduk. Tangan ibu mengambil sebuah piring dan meletakkan beberapa jenis makanan di atasnya. Lalu, mengambil pisau dan garpu makan. Dengan tersenyum simpul memberikan masing-masing piring kepada Audrey dan Rey. “Baiklah, jangan diulangi lain kali.” Ruang makan yang semula didominasi oleh percakapan ayah, Rey, dan Audrey menjadi sepi. Hanya terdengar denting suara alat makan yang bertubrukan atau suara kunyahan pelan dari masing-masing penghuni ruang makan. Audrey berulang kali memandangi ayah dan Rey secara bergantian. Setelah mengambil segelas air mineral dan meminumnya. Ia menaruh kedua alat makan dan mulai mengalihkan perhatian yang lain. “Ayah, Kak Rey sudah mendapatkan gadis idamannya lho,” ujarnya disertai cengiran kecil. Hal ini cukup membahagiakan mengingat tidak ada satu gadis pun yang menarik di mata Rey setelah hubungannya kandas dulu. Mendengar penuturan putrinya, ayah kembali menaruh alat makannya. “Jadi, siapa gadis beruntung itu, hm?” Rey menatap ayahnya. Tidak lupa seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya. “Ia terpaut tiga tahun dariku. Hanya saja ia belum terlalu dekat denganku.” “Hahaha, baguslah kalau kamu sudah menemukannya. Tidak masalah belum mengenalnya, nanti kan bisa pelan-pelan mendekati. Dia dari keluarga mana?” “Maksud ayah?” “Iya, keluarga mana? Apa ada hubungan jauh dengan keluarga kita, Van Gorg?” Kedua pupil mata cokelat miliknya mengecil. Ia mengingat beberapa percakapan di Belanda –satu bulan sebelum kembali ke Indonesia. Tiba-tiba saja tangannya berkeringat dingin. Apa yang harus dilakukan sekarang? ibu menyentuh telapak tangan Rey yang berkeringat dingin. Merasakan kecemasan anaknya, ibu pun menengahi. “Sudahlah, Ayah. Nanti pasti dikenalkan kepada kita. Jangan mendesak Rey seperti ini.” “Bukan seperti itu Dewi, aku hanya ingin tahu gadis itu berasal dari keluarga mana. Nah, gadis itu berasal dari mana, Rey?” Susah payah ia menelan ludah, entah mengapa sangat sulit untuk mengatakan satu kalimat itu. Akhirnya setelah membulatkan tekadnya pun berbicara. “Ia adalah keturunan pribumi, Ayah.” “Apa?” “Maafkan aku. Tapi, aku bersungguh-sungguh menyukainya.” Audrey terdiam mendengar penuturan kakaknya. Orang pribumi katanya? Memangnya ada masalah apa? Bukankah separuh darah yang mengalir di dalam darahnya adalah keturunan yang sama. “Jangan banyak bicara. Masuk ke kamarmu sekarang!” “Ayah, tolong mengerti Kak Rey.” Audrey ikut-ikutan merajuk, tidak tega melihat tatapan sedih kakaknya dan tatapan penuh amarah dari Ayah. “Kamu jangan ikut campur, Drey. Apa mau ikut-ikutan seperti kakakmu?” “Ayah!” Audrey berseru. Ia benar-benar kecewa. Tidak terasa air mata telah menganak sungai di wajahnya. Rey pergi begitu saja meninggalkan ruang makan. Ia menunduk selama menaiki anak tangga. Diikuti dengan Audrey yang masih menangis sesenggukan. Memangnya apa yang salah? Seingatnya, teman-teman di sekolah juga orang pribumi. Mereka semua adalah orang baik. Setelah menutup pintu Rey membenamkan wajah di bantal. Apakah salah mencintai seseorang? Atau, peraturan di keluarga mereka memang sekeras ini? Ia bahkan tidak dapat membayangkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN