Takdir yang Digoreskan

1588 Kata
Pekatnya langit malam menggetarkan rasa Terasa hangat tiap kali mengingatnya Wajah tampan terkasih di dalam hati Menyesakkan d**a karena tak kunjung berjumpa *** Takdir yang Digoreskan Penghujung bulan April datang lebih awal. Hal ini membuat pengunjung lapangan Bajra Sandhi yang terletak di kawasan Renon menjadi lebih ramai dari biasanya. Seperti yang diketahui banyak orang. Bulan April adalah bulan di mana para siswa SMA baru saja selesai menempuh ujian nasional. Hari libur mereka digunakan untuk hal semacam ini. Ya, jika orangnya adalah gadis tujuh belas tahun yang sedang mengikat tali sepatu olahraganya. Rambut hitam panjangnya dikuncir tinggi. Menyisakan beberapa helai membingkai wajah oval miliknya. Hingga terlihat manis. Entah disadari atau tidak, beberapa pemuda memandanginya. Ia berlari menyusuri jalan setapak bagi pengunjung. Ada banyak hal yang menyita penglihatannya. Di sebelah kiri lapangan sekumpulan pemuda bermain sepakbola dan sebelah kanan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan. Baru berlari lima puluh meter, seorang pemuda jangkung menghentikannya. Ia merentangkan kedua tangan menghalangi jalan. Dan, memasang wajah sok kenal yang tersenyum lebar. Kalau diamati lebih seksama, pemuda tersebut mirip seseorang. Tapi, siapa? "Minggir." Pemuda itu justru tersenyum dan mengulurkan tangan kanan. Ia menggenggam telapak tangan Rein erat. Saat maju selangkah, maka Rein mundur juga. Takutnya pemuda ini memiliki maksud lain. "Lepaskan tanganku." "Aku ingin berkenalan," potong pemuda itu, masih mempertahankan senyumannya. Kalau saja Rein tidak menerapkan sopan santun, ia pasti sudah membentak karena tanpa permisi menyentuh tangannya. "Aku tidak ingin berkenalan," jawab Rein dengan wajah ditekuk. "Ayolah. Aku ‘kan tidak meminta nomormu," celetuknya. "Hah? Memangnya aku ingin memberitahu nomor ponselku? Kamu terlalu percaya diri." "Percaya diri adalah kelebihanku," jawabnya membela diri. Lalu, menarik salah satu sudut bibir. "Namamu Rein 'kan? Sampai bertemu di lain waktu." Sebelum Rein sempat menjawab, pemuda misterius itu buru-buru berlari menuju lapangan bola. Rein hanya melihat punggung bidangnya menjauh. Ada beberapa hal yang ingin dipastikan, namun ia justru meninggalkannya dengan banyak tanda tanya di dalam pikiran. "Hah, lumayan juga ya," gumamnya menyentuh pelipis. Rein berlari mengitari lapangan tanpa berhenti. Ini adalah ketiga kalinya Rein berlari. Waktu melihat jam tangan, jarumnya menunjukkan pukul lima sore. Ia memutuskan untuk beristirahat dan berteduh pada salah satu bangku yang dipayungi sebuah pohon besar. Mata sehitam giok itu menyipit hingga membentuk bulan sabit saat sinar matahari tidak sengaja mengenainya. Rein melengkungkan seulas senyum tipis karena kembali teringat seseorang. Ia meluruskan kakinya yang terasa pegal. Meregangkan otot-otot lengan dan kaki. Beberapa kali menekuk lalu meluruskan kaki dan tangan. Katanya hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa pegal. Rein pun telah membuktikan kebenarannya. Wajah manis itu menengadah memandang langit yang masih saja cerah. Padahal hari sudah sore tapi sinar matahari enggan untuk meredupkan cahayanya. Terlihat jelas wajah itu memerah karena kelelahan –sangat kontras dengan corak kulitnya yang kuning langsat. Baju olahraga dan trening yang dikenakan hampir sepenuhnya basah. Hembusan napas juga ngos-ngosan. Beberapa kali meminum air mineral –baru saja dibeli dari pedagang pinggir jalan. Barulah setelah beberapa menit berlalu, kulit wajahnya kembali normal. Ia melirik kembali jam tangannya. Ia mengerjap beberapa kali sampai akhirnya melangkahkan kaki menuju parkiran motor. Bukankah sudah waktunya untuk pulang? Tidak ada hal yang lebih baik dari mandi setelah menguras keringat karena olahraga. Rasanya pasti menyenangkan. Dengan membayangkan saja membuat Rein mengulas tersenyum. .+.+.+.+.+. Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar hari sabtu? Atau, kebanyakan orang menyebutnya malam minggu. Jalan-jalan dengan kekasih atau teman? Ya, hampir sebagian orang menghabiskan malam minggu bersama orang terkasih. Entah itu pacar atau teman dekat. Biasanya tempat yang dikunjungi adalah mal, taman, bahkan bioskop. Tempat-tempat itu sangat ramai dan Rein tidak terlalu nyaman berada di tempat yang ramai. Karena Rein termasuk orang berkepribadian introvert. Ia memilih berdiam diri pada kamar miliknya. Mengabaikan ajakan Rika untuk melihat baju-baju ngetren di mal. Cukup lama perdebatan yang terjadi di telepon. Setelah mengatakan alasan sesungguhnya, barulah dimaklumi. Setengah berbaring, ia bersandar pada tempat tidur. Sebuah bantal digunakan untuk menyangga punggung. Di tangannya ada sebuah novel terjemahan bergenre romansa. Buku itu sangat tebal, banyaknya sampai ratusan halaman. Entah kalimat apa yang ada di sana, hingga Rein tidak kebosanan walaupun telah membaca puluhan halaman. Sepasang matanya sibuk membaca kalimat-kalimat manis di dalam buku. Sesekali tangan kanannya digunakan untuk meraih kue almond kering di meja, lalu meminum perlahan segelas air. "Hmm, manis dan renyah." Ia terlihat menikmati momen ini. Padahal bagi sebagian orang terasa membosankan. Alunan musik pop terdengar dari speaker di meja. Jika situasinya seperti sekarang, Rein pasti betah berjam-jam berdiam diri di kamar. Sudah satu jam berlalu sejak pertama membaca novel. Terlihat gerakan tangannya menutup novel dan menaruh di sebelah gelas. Pandangan mata itu menerawang jauh di balik jendela kamar. Tanpa sadar melangkahkan kaki menuju balkon. Hembusan angin malam menerpa helaian rambut panjang dan piyama merah muda. Garis wajah itu menyiratkan kesedihan. Tatapan matanya memandangi langit malam yang kelam tanpa adanya bintang dan bulan. Ia masih diam walaupun tangannya memeluk diri sendiri –merasakan dingin yang menyentuh kulitnya. Ada hal yang dirindukan olehnya, maka dari itu berperilaku seperti sekarang. Seringkali ia masih bingung dengan yang dirasakannya. Beberapa saat lalu Rein berhasil terhanyut membaca novel romansa terjemahan. Baru satu jam berlalu detak jantung menyesakkan itu kembali. Terasa nyata dan dalam. Lebih cepat setiap kali ia mencoba memahaminya. Kenangan sewaktu di pantai kembali teringat. Bagaikan sebuah rekaman video yang terus-menerus berputar di dalam otaknya. Rein berpegangan pada pinggiran balkon karena merasakan sesak di rongga dadanya, mengingat betapa tatapan mata pemuda itu penuh misteri. Seorang pemuda yang tidak ketahui nama maupun tempat tinggalnya. Apa yang harus dilakukannya setelah ini? Apakah harus mencari tahu tentangnya? Atau, membiarkan waktu yang menjawab pertanyaannya? Pertemuan itu sangat singkat. Percakapan yang mereka lakukan hanya beberapa kalimat tidak berarti. Ada yang bisa jelaskan maksud semua ini? Seharusnya memang aneh. Namun berbeda jika yang dimaksud adalah pemuda itu. Ia memiliki pesona pada keindahan matanya. Seperti perkataan kebanyakan orang. Dari mata pasti turunnya ke hati. Rein jatuh terduduk memegangi dahinya. Berbeda dengan tadi, justru sekarang merasakan hangat –tepat di dasar hatinya. Hangat, menusuk, bahkan tercekat di d**a. Perlahan ia melangkah masuk ke kamar. Mendudukkan diri pada kasur empuk, lalu mengambil tablet. Mulanya terdiam menatap layar tablet di tangan yang telah menyala. Namun, tiba-tiba menuliskan sesuatu. “Hmm, belum ketemu juga.” Berulang kali mengulang hal yang sama. Ia mengetikkan beberapa nama berbeda pada akun sosial media miliknya. Berharap di antara sekian banyak nama yang ditebak, salah satunya adalah pemuda itu. Mencari pemuda itu melalui akun jejaring sosial memang tidak mudah. Mencari dengan nama yang diketahui saja sulit, apalagi tanpa mengetahui namanya? Hal ini seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. "Argghh!" gadis itu menggeram kesal. Tidak ada hasil yang pas. Ia cukup lama terdiam. Tanpa sadar menghela napas panjang, karena merasa yang dilakukannya sekarang adalah hal sia-sia. "Rein! Ada temanmu yang berkunjung!" seru Ibu dari lantai satu. "Siapa, Bu?!" "Memangnya siapa lagi kalau bukan sahabatmu, Rika." "Suruh saja langsung ke kamar Bu, pintunya tidak Rein kunci." Ia menggeleng lemah. Tidak biasanya Rika meminta ijin masuk ke kamar. Dulu, sahabatnya itu selalu menerobos masuk. Bahkan tanpa permisi dari pemilik kamar. TokTokTok. Benar saja tanpa aba-aba dari pemilik kamar, Rika langsung membuka pintu. Berdiri dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan memakai dress merah muda sebatas lutut. Ada sebuah senyum tipis di wajah. Bugh. Sebuah bantal boneka berbentuk kelinci berhasil mengenai wajahnya. Sang korban hanya terdiam, namun menautkan kedua alisnya. Mungkin percampuran antara raut wajah marah dan kaget. Padahal tadi ia tersenyum lebar seakan memenangkan perlombaan nyanyi. "Rein! Berani-beraninya!" setengah berteriak Rika menahan amarah. Apalagi melihat sahabatnya tengah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, aku hanya bercanda, Ka. Ayo sini," ujar Rein menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Wajah muram itu berganti tersenyum ceria. Ia mendudukkan diri di sebelah Rein lalu menaruh seluruh tas belanjaan di depannya. "Kamu.. Membeli semua ini?" "Ya, tentu saja." Tanpa ada wajah penyesalan apa pun, senyum Rika semakin lebar. Tidak heran jika teman-teman mengomentarinya sebagai gadis penggila belanja. Rika tidak keberatan dijuluki seperti itu. Toh, semua memang benar. "Sebanyak ini?" ujar Rein kembali bertanya. Meragukan julukan bagi sahabatnya di sekolah. Mungkin saja itu semua hanya gosip belaka. Namun sekarang menjadi yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya. "Ya begitulah, tapi tidak semuanya milikku. Aku juga membelikanmu." "Hah?" "Iya, aku juga memilihkan sesuatu untukmu." Tangannya merogoh salah satu plastik berwarna merah, mengeluarkan sepasang dress model sama dengan warna berbeda. Yang satunya merah menyala dan satu lagi berwarna merah muda. "Ini untukku?" "Ya, tentu saja.” “Aku sangat menyukainya." "Aku sengaja membeli model yang sama, kita sudah cukup lama berteman. Dan, tidak satu kali pun pernah memberikanmu hadiah. Ini adalah hadiah yang pas untukmu," ujar Rika panjang lebar. "Terima kasih, Ka. Kamu benar-benar sahabatku yang perhatian. Bahkan, memilihkan warna kesukaanku, merah muda." Ia merangkul sahabatnya untuk mendekat. Rein sangat senang dengan hadiah pemberian Rika. Ia bahkan berpikir untuk memakainya pada saat prom night dua bulan lagi. Rika melepaskan rangkulannya saat mendengar bunyi dari tablet sahabatnya. "Rein, punyamu." Tangannya meraih tablet yang sempat ditaruh. Beberapa saat kemudian terdiam membaca pemberitahuan dari akun f*******:. Ada seorang pemuda yang ingin berteman dengannya. "Thunder Wind Uchiha?" tanya Rein entah kepada siapa. Tumben ada seseorang memakai nama akun tokoh anime. Dan pemuda yang tidak pernah berteman dengan salah satu teman di akun sosial media miliknya, tiba-tiba menambahkan sebagai teman. Cukup lama ia menimbang-nimbang hingga akhirnya menyentuh tulisan konfirmasi pertemanan, lalu menaruh menaruh kembali tablet di sebelahnya. "Siapa?" "Entahlah, Ka." Merasa bahwa orang tersebut bukan orang penting, Rein segera melanjutkan percakapan yang sempat tertunda. Mungkin sekarang memang belum penting. Andai saja ia tahu siapa sebenarnya pemuda tersebut. Seandainya saja paham bahwa takdir telah menuntun. Membawanya kepada seseorang yang akan dicintai sepenuh hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN