Perasaan Tak Menentu

2043 Kata
Sayup-sayup kudengar alunan nada Mengusik batin memanjakan diri Terbuaiku dalam lamunan panjang Akan hadirnya sosok cantik di dasar hati *** Perasaan Tak Menentu Julian menapaki jalan putih berkilauan –efek cahaya matahari terpantul di pasir pantai. Di sekitarnya terdapat banyak pohon kelapa. Hari ini pengunjung pantai cukup ramai, ada yang hanya sekadar memandangi ombak bergulung, ada pula yang berenang di kedalaman pantai. Dipejamkannya kedua mata, menikmati hilir angin yang menyejukkan. Angin bertiup dengan kencang menyentuh tengkuk. Julian merasa kedinginan untuk sesaat. Terlihat ombak terus-menerus menghantam pesisir pantai. Lalu, membenarkan letak topi yang dipakai olehnya. Sesekali melemparkan pandangan pada air jernih pantai berwarna biru tua membaur dengan oranye –perpaduan warna laut dangkal dan bias cahaya matahari terbenam. “Mengapa aku masih sering memikirkannya?” Tanya Julian entah kepada siapa. Julian terus menerus memikirkan gadis yang telah bertemu dua minggu lalu. Pertemuan itu sangat singkat. Seharusnya waktu itu Julian lebih memberanikan diri sehingga bisa mendapatkan email atau pun nomor ponselnya. Memang yang namanya penyesalan selalu datang terakhir. Julian berbincang hanya sekilas. Lebih tepat dikatakan sebagai protes daripada sebuah percakapan hangat. Dalam waktu kurang lebih tiga menit memandangi wajahnya. Dan, ketagihan akan hal itu. Julian benar-benar berpikir agar bisa bertemu dengannya lagi. Apa yang terlihat berbeda pada dirinya? Berbeda dari gadis lainnya, ia memiliki ciri khas yang tidak mudah dijabarkan. Bahkan oleh dua puluh enam alfabet dan puluhan paragraf. Intinya hanya satu. Ada aura yang memancar darinya, hingga senyum itu terlihat mempesona. Ia cukup tinggi di antara para gadis muda seusianya. Mungkin sekitar seratus enam puluh delapan sentimeter. Warna kulitnya kuning langsat namun karena waktu itu tersengat matahari berubah menjadi sedikit kemerahan. Bibir mungil kemerahan dan sepasang mata hitam kelamnya menjadi hal yang paling dirindukan oleh Julian dibandingkan yang lain. Julian merasa ada sebuah celah kosong di dasar hati yang merindukan dirinya. “Di mana harus mencari?” Hal ini membuatnya terus-menerus mengumbar senyum terbaik. Ada rasa bahagia dan penasaran akan pertemuan selanjutnya. Walaupun belum tahu pasti kapan akan bertemu lagi. Kalau tidak salah, Julian baru saja sampai di Pantai Kuta. Dengan bertelanjang kaki menyusuri pantai tanpa tahu hendak kemana. Julian bahkan tidak sadar sudah sampai pohon kelapa terdekat. “JR!” Julian terdiam di tempat. Tidak biasanya ada yang memanggil seperti itu. Hingga beberapa menit berlalu, Julian mulai mengingatnya. Seseorang yang biasa memanggil namanya seperti itu hanya Made, teman sekolah dasar. Ia menengok ke sumber suara dan dikagetkan dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. “Hahaha, kamu rupanya,” tegur Julian dengan tertawa. Ia berjalan mendekat menyunggingkan senyum lima jari khas milik Made. Made tidak berubah sama sekali. Kulit hitam itu kemerahan –efek tersengat sinar matahari. Rambutnya pendek berwarna pirang. Ia menggunakan kacamata hitam dan di tangan kanannya terdapat papan surfing. “Aku kira salah orang. Ternyata benar kamu rupanya. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Julian tersenyum lalu menjabat uluran tangannya. Kalau dulu ia lebih tinggi dari Julian, sekarang malah terbalik. Ia jauh lebih tinggi dari Made. Tingginya kira-kira seratus enam puluh senti. Ternyata pertumbuhan sahabatnya jauh berbeda dari Julian. “Ya, sudah sangat lama sekali..” jawab Julian. Kemudian mengajaknya untuk duduk di salah satu tikar pinggir pantai. Tentunya setelah membayar dengan beberapa lembar uang rupiah. Made menurunkan kaca mata dan menaruh papan surfing di sampingnya. Tangannya merogoh kotak yang ternyata berisi beberapa rokok. “Aku sempat marah sekali padamu,” ucapnya memulai percakapan. Masih dengan sebatang rokok menyala di tangannya. “Marah? Karena hal apa? Kamu perokok sekarang?” Ia hanya tertawa kecil lalu menyesap penuh rokok dan asap mengepul keluar dari hidungnya. Mata itu mengerjap beberapa kali lalu menatap Julian kesal, “Siapa yang tidak marah mengetahui teman baiknya kembali ke negara asal tanpa memberitahu?” Julian tersenyum simpul. Paham maksud dari teman masa kecil. “Kamu kan orangnya? Yang tidak marah pada temannya yang pikun itu.” “Heh, mimpi kamu, bocah.” “Aku bukan bocah lagi. Umur kita hampir kepala dua.” Julian merebut rokok yang masih tersisa. Lalu melemparkannya asal. Merasa jengah karena Made terlalu menikmati zat berbahaya di dalam rokok tersebut. Julian memasukkan bungkusan rokok itu ke dalam saku celana. “Kita? Aku sudah berkepala dua, sedangkan kamu belum. Sini kembalikan rokokku.” “Aku tidak ingin berakhir dengan mengantarmu ke rumah sakit terdekat. Satu rokok sehari kurasa lebih dari cukup.” “Ya sudah, terserahmu saja.” “Hahaha kalau seperti ini benar-benar mirip seperti sepuluh tahun yang lalu. Made yang selalu mengalah pada JR,” jawab Julian penuh kemenangan. Made menatap Julian dengan pandangan meremehkan lalu menepuk-nepuk puncak kepala. Kebiasaan ini selalu dirindukan oleh Julian saat berada di Belanda. Sosok Made sudah seperti kakak kandung sendiri. Semenjak awal masuk kelas satu di sekolah dasar. Julian mengikutinya kemana saja. Bermain hal yang sama. Berbagi makan siang. Bahkan, Made sering bermain ke rumah hanya untuk mengajari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Made merupakan blasteran Inggris. Ibunya asli Inggris dan ayahnya berdarah Bali. Percampuran inilah yang membuatnya seperti sekarang. Ia jadi teringat waktu beberapa teman mengejeknya bule gagal. Karena kulit hitam dan rambut pirang yang dimiliki. Meskipun begitu Made tidak pernah malu. Dulu saat pertama kali masuk ke sekolah dasar, Julian tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Made yang memang jago bahasa inggris sejak kecil berkomunikasi dengan Julian. Kemudian mengajari berbicara bahasa Indonesia. Karena seluruh siswa-siswi di sekolah mengejek Julian sebagai bule primitif. ‘Kamu kan berdarah penjajah, apa masih ada yang bisa menerimamu?’ Julian ingat sekali pertanyaan ini. Pertanyaan retoris yang membakar emosi. Ia benar-benar paham alasan mereka menjauhi. Saat itu Julian menjadi pusat perhatian. Kalau saja Made ikut-ikutan berpaling. Dapat dipastikan Julian akan segera kembali ke Belanda. Made tertawa tertahan. Mungkin mengingat hal-hal lalu saat mereka masih berada di bangku sekolah dasar. Sesudahnya, menoleh pada Julian lalu tersenyum simpul. Ia masih belum mengerti maksud dari ekspresi yang ditujukan. “Apa kamu ingat pertama kalinya berbicara bahasa Indonesia? Benar-benar hancur sekali, haha.” “Berhenti mengejekku seperti ini De, aku sudah cukup malu dengan menyimpan memori itu.” “Baiklah. Hmm, aku dari dulu penasaran dengan satu hal.” “Penasaran? Hal apa?” “Tentang kepulanganmu ke Belanda. Apakah ada hal mendesak yang membuatmu kembali? Bahkan tanpa memberitahu kami?” “Nenekku tiba-tiba mengalami sakit parah, maka dari itu ayahku bergegas ke Belanda. Bahkan ijasah dan nilai ujian nasionalku dikirim ke sana.” “Oh begitu rupanya, banyak yang bertanya-tanya kepergianmu. Dan aku hanya menjawab dengan gelengan kepala lemah karena tidak mendapat kabar apa pun darimu.” “Maafkan aku yang pergi secara tiba-tiba. Juga, terima kasih karena sudah menjadi satu-satunya temanku selama di sekolah dasar.” “Jangan sungkan. Aku berdarah campuran sepertimu. Maka dari itu aku tahu rasanya.” Made mengakhiri perkataannya dengan seulas senyum. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa menit. Bukannya menikmati kesunyian yang tercipta. Melainkan menikmati momen sunset di Pantai Kuta. Angin bertiup kencang dan gulungan ombak tidak hentinya menyapu pesisir pantai. Gumpalan awan-awan putih keabuan saling berarak di langit. Warna oranye terlihat jelas di langit terbawah. Bersamaan dengan itu matahari semakin menghilang di balik air laut yang meninggi. “Benar-benar indah ya,” ucap Julian pada Made yang menatap panorama di hadapannya. “Tentu saja. Itulah alasan wisatawan asing berkunjung ke tempat ini, Kuta.” “Kamu benar. Sewaktu di Belanda, aku benar-benar merindukan momen-momen ini. Aku bahkan sampai browsing videonya di internet hanya untuk menikmati keindahan sunset.” “Benarkah?” Made menatap Julian tidak percaya. Seakan yang dikatakan adalah sebuah kebohongan. Matanya memicing mencoba menginterogasi Julian. Entah didapatnya sebuah kebenaran atau bahkan kebohongan. “Oke, kali ini dapat kulihat kamu tidak berbohong.” “Sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak berbohong mengenai hal penting.” “Hahaha, aku tahu kok. Hanya mengujimu saja. Ah ya, aku hampir lupa. Apa yang membuatmu kembali ke Indonesia?” “Keluarga dari ibuku. Seperti yang kamu ketahui, ibuku sangat dekat dengan keluarganya.” “Begitu rupanya. Tapi, apakah ada kemungkinan untuk kembali lagi ke Belanda?” “Entahlah, sekarang hanya mengikuti keinginan orangtuaku.” “Heh, begitu ya? Oh ya, kurasa kamu pasti melajang sekarang.” “Tunggu. Memangnya tahu dari mana?” “Terlihat jelas dari penampilanmu, bahkan kamu tidak memakai parfum kan? “Hehe, memang benar, aku malas merawat diri. Lagipula pemuda mana yang merawat diri seperti seorang gadis?” “Kebanyakan gadis suka pemuda wangi. Sudahlah, lebih baik kamu mulai berbenah diri. Wajah tampanmu itu tidak berguna jika jorok.” “Aku bukan jorok, hanya saja malas.” “Hahaha itu sama saja, bocah. Aku yakin jika nanti memiliki kekasih, pribadimu akan berubah.” “Hmm.. Jangan terlalu percaya diri.” Julian segera berpamitan karena hari mulai gelap. Baru beberapa langkah, sudah berada di depan mobil. Sewaktu memasukinya, kembali menerawang jauh. Berharap bisa bertemu dengan gadis itu di sini. Bukan berarti tidak menyukai pertemuan Julian dengan teman lama. Hanya saja jika bertemu sekali lagi dengan gadis pujaan, enggan melewatkan kesempatan emas itu. Langkah-langkahnya adalah seperti ini; bertemu dengannya, mengobrol, mengajak makan bersama, memberitahu nomor telepon. Ya, kalau Julian tidak melupakan satu pun langkah-langkah untuk mendapatkan kekasih. Kali ini ia benar-benar bertekad menjadikan gadis yang baru ditemui sebagai kekasih. Memang sedikit aneh. Namun, Julian sudah merasakan ketertarikan sejak awal. ‘Aku tidak bisa berangan-angan terus. Harus mewujudkannya menjadi kenyataan!’ gerutu Julian di dalam hati. Ia tidak akan menyerah pada perang yang baru saja dimulai? Atau, mengalah pada musuh yang belum terlihat. Ia memegangi rongga d**a yang bergemuruh keras. Rasanya menyesakkan sekaligus menyenangkan. Hal ini dikarenakan kupu-kupu transparan yang berterbangan di perut. Membuat Julian menyunggingkan seulas senyum tipis setiap mengingat keindahan senyum dari gadis itu. Dengan segera Julian menarik napas dan menghembuskannya. Dilakukan hal ini berulang-ulang. Sampai perasaan geli di perut dan menyesakkan menghilang. Sudah lebih membaik setelah melakukannya lebih dari lima kali. Segera saja Julian memasang sabuk pengaman dan berlalu meninggalkan parkiran. .+.+.+.+.+. Padahal Julian pulang lebih awal dari biasanya, namun pintu gerbang rumah belum juga terbuka. Beberapa kali ia menelepon Audrey untuk membukanya. Namun, segera terhubung dengan pesan suara dari operator. Dengan kesal Julian mengklakson berulang-ulang sampai akhirnya pintu gerbang terbuka lebar. Audrey muncul dengan mata setengah terpejam. Menyilangkan kedua tangannya. Masih terlalu awal untuk bergegas tidur. Rasanya hari ini Audrey tidak bisa di ajak kerja sama. Biasanya adiknya tertidur larut malam. Hanya saja sekarang jauh berbeda. Sepertinya ada yang disembunyikan olehnya. “Kamu. Mengganggu. Waktu. Tidurku,” ujarnya penuh penekanan. Justru hal ini membuat Julian tertawa tertahan. “Sudah bercermin?” “Apa?” “Kamu sudah bercermin, Drey? Wajahmu terlihat sangat lucu, hahaha.” Wajahnya pucat pasi dengan kelopak mata bawah sedikit bengkak. Poni panjangnya ia kuncir, namun masih banyak yang tersisa. Hal ini membuatnya terlihat berantakan. Audrey merogoh ponsel layar sentuh dalam baju tidurnya. Sesudah berkaca, menatap Julian dengan amarah. “Berhenti meledekku!” Julian tidak menjawab melainkan tersenyum simpul. Rupanya begini rasanya meledek seorang adik. Jika biasanya Audrey selalu menang, kali ini berbeda. Audrey segera berbalik meninggalkan Julian di halaman. Melihat kepergian Audrey, ia tertawa kecil. Kemudian bergegas masuk ke rumah. Langkah kaki Julian melewati ruang tamu, ruang keluarga lalu menuju dapur. Satu persatu menaiki anak tangga di lantai dua. Mata Julian tertumpu pada sebuah pintu kayu besar di sebelah timur tangga. Tangannya memegang gagang pintu dan memasukkan kunci untuk membukanya. Setelah itu menghempaskan tubuh ke kasur empuk favorit Julian. Sesaat kemudian menatap langit-langit kamar yang bergambarkan sebuah kota di Belanda, Amsterdam. Julian ingat, waktu masih kecil ayah sengaja menyuruh seorang seniman untuk melukisnya. Dulu, Julian selalu memandangi lukisan itu sebelum berlayar ke dalam dunia mimpi. ‘Sudah lama sekali rupanya,’ gumamnya sendiri. Mungkin pada tembok atau benda mati apa pun di sekitar. Julian tidak mempedulikan hal itu, karena sendirian di kamar luas ini. “Ah! Sudah malam rupanya,” ucapnya lagi melihat jam tangan. Sudah waktunya untuk mandi. Sebenarnya Julian sangat malas. Tapi, mengingat perkataan Made membuatnya bergegas. Ia bukan pria jorok seperti kata temannya. Dingin terasa menyentuh permukaan kulit wajah dan seluruh tubuh saat air mengucur dari shower. Julian mengacak-ngacak rambut secara asal dan menengadah. Mungkin karena jarang mandi malam membuatnya sedikit kedinginan. Setelah membersihkan rambut dan seluruh tubuh, lalu mengambil handuk. Langkah Julian menuju kamar, menyusuri ruangan. Lalu, duduk di tempat tidur. Tetesan air menetes dari helai rambutnya yang basah. Cklek. “Audrey!” “Wow, sixpack ya?” “Memangnya kenapa? Ah ya, kalau masuk ke kamarku biasakan mengetuk pintu.” “Tidak, hanya kaget karena baru melihatnya. Heh, kuno tahu. Lagipula kamu kakakku, tidak ada peraturan untuk mengetuk pintu sebelum masuk.” “Aku baru saja membuatnya. Memangnya kamu tidak malu, masuk ke kamar pemuda yang beranjak dewasa?” “Hahaha, kamu bilang apa? Sampai sekarang belum mempunyai kekasih, dan menyebut dirimu apa? Pria dewasa?” “Audrey!” Julian berseru keras karena kesal oleh ucapan adiknya. Audrey segera berlari keluar, tidak lupa dengan sebuah cengiran sangat lebar. Perkataan Audrey mengingatkannya kembali pada gadis itu. Julian bukannya belum mempunyai kekasih melainkan belum menjadikannya sebagai kekasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN