Setelah mengakhiri pertemuannya dengan Desi, Alin melangkahkan kaki menuju kamar yang di sewa Bu Dewi. Mamanya sudah siap dengan sebuah koper besar berwarna hitam dan sebuah tas tangan. "Sudah?" tanya wanita berusia lebih dari setengah abad. Alin hanya mengangguk setelah itu menghela napas panjang. Kurang dari dua jam lagi ia akan meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan. Kota yang mengajarkan banyak hal, termasuk pengorbanan dan rasa sakit. Alin berusaha menguatkan hati, menepis segala keraguan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Dia duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah jendela. Menatap hamparan sungai dengan tatapan mata kosong. Sakit, itulah yang dirasakan. Ia tak menyangka jika biduk rumah tangganya akan karam diterjang badai. Ternyata dia tidak cukup kuat

