Dalam perjalanan pulang, Randi bungkam. Perkataan sang ibu memenuhi kepala. Bertanya-tanya bagaimana jika itu bukan sekadar ancaman? Sanggupkah ia menolak jika wanita yang paling dihormati memintanya untuk berpoligami demi kehadiran buah hati? Bagaimana jika Alin meminta … astaga membayangkan itu saja sudah membuat dadanya sesak. Alin pun begitu, pikirannya berkelana. Ini bukan pertama kali sang mertua mendesak untuk segera memiliki momongan. Usaha dan doa sudah mereka lakukan, tetapi Tuhan belum berkenan menitipkan keajaiban dalam rahimnya. Apakah ini salahnya? Perjalanan menuju rumah terasa sangat lama. Pasangan suami-istri itu larut dalam pikiran masing-masing. Randi menggenggam tangan sang istri yang melingkari perutnya, sedangkan Alin hanya diam sambil menyembunyikan air matan

