“Halo, Ma,” sapa Alin riang dengan suara sedikit sengau saat wajah Bu Dewi terlihat di layar ponsel. Bu Dewi memicingkan mata, memperhatikan lekat-lekat wajah anaknya. “Kamu habis nangis? Kok, mata kamu sembab, hidung kamu juga merah,” tanyanya curiga. “Lagi flu, Ma. Hidungnya mampet,” jawab Alin manja. Jika saja jaraknya dekat, mungkin dia sudah berlari menghampiri dan berlindung dalam dekapan hangat wanita yang telah melahirkannya. Sebenarnya Alin merasa bersalah karena telah berbohong, tetapi mau bagaimana lagi. Menceritakan masalah yang sedang dihadapi hanya akan membuat sang ibu khawatir. Bu Dewi menghela napas, lalu bertanya, “Sudah ke dokter?” Alin menggeleng dengan bibir manyun. “Belum. Minum obat aja. Kalau tiga hari nggak sembuh baru ke dokter.” Setelah pu

