03 Pernikahan

1855 Kata
Jasmine menatap datar layar ponselnya setelah membaca chat yang dikirim oleh Alvaro, benar-benar muak. Kenapa sejak awal lelaki itu tidak bicara jujur saja padanya? Jadi mereka tidak perlu sejauh ini melangkah. "Woii, bengong lagi nih anak!" Cika menelisik raut wajah Jasmine yang terlihat berbeda dari biasanya. Tatapan Jasmine terlihat redup membuatnya curiga. "Nggak kok, perasaan lo aja kali." Kilah Jasmine, mengalihkan tatapan ke arah lain. Saat ini mereka sedang berada di salon langganan mereka. Setelah berdebat cukup serius. Ahh tidak, lebih tepatnya hanya Desi dan Cika yang berdebat. Jasmine sendiri memang lebih banyak diam. "Lah, terus kenapa lo diem aja?" Cika lagi masih belum puas dengan jawaban Jasmine, sahabatnya itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? "Lagi baca chat dari, Al." Jika biasanya Jasmine akan senyum-senyum sendiri seperti anak SMP yang sedang kasmaran begitu mendapatkan chat dari Alvaro. Kali ini dia hanya diam malas meladeni atau sekedar menjawabnya. "Tumben, biasanya kayak lagi kesambet jin perawan aja lo. Senyum-senyum sendiri kayak orang stress kalo Alvaro nge-chat." Desi terheran-heran, lalu menoleh ke arah Cika yang ternyata sedang memperhatikan Jasmine. Jasmine mengangkat kedua bahunya. "Lagi males aja." Sahutnya acuh. Desi dan Cika saling tatap, kemudian menatap dalam mata Jasmine mencari sesuatu yang mungkin di sembunyikan oleh sahabatnya itu. "Apa?" tanya Jasmine seraya menghindari tatapan mengintimidasi kedua sahabatnya. "Wah nggak beres, lo." Cika geleng-geleng kepala. "Ck, dia cuma mau ngomong sama gw entar." Sahut Jasmine setengah kesal. Dia beneran lagi malas membahas apapun yang berkaitan dengan Alvaro. **** Jasmine duduk dalam diam sambil menatap kosong langit malam di taman belakang rumah Alvaro. Sebetulnya dia enggan, jujur saja mood Jasmine sedang saat ini. Pikiran Jasmine sudah berkelana kemana-mana. Pikiran negatif lebih mendominasi. Setelah apa yang dia dengar dari mulut Alvaro membuatnya hatinya gundah. Sampai detik ini Jasmine masih tidak menyangka jika Alvaro selama ini hanya merasa kasian dan terpaksa menerimanya. Lalu pertanyaannya, untuk apa mereka harus menikah? Bagi Jasmine pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat sakral, yang akan dia lakukan dan jalani sekali seumur hidupnya. Lalu bagaimana nasib pernikahan mereka ke depan? Kalau lelaki itu saja mencintai perempuan lain. Jasmine menghela nafas sesak, untuk saat ini dia benar-benar kalut dan bingung dengan langkah yang harus dia ambil. Lamunan Jasmine buyar saat merasakan seseorang duduk disampingnya. Jasmine hanya melirik Alvaro dalam diam. Malas sekali rasanya jika harus duduk bersama dengan lelaki yang jelas-jelas sudah mempermainkan hatinya selama ini. Alvaro menatap Jasmine lekat-lekat, sebab Jasmine hanya diam tidak menyambutnya seperti biasa, menatapnya pun tidak. "Mine." Mine adalah panggilan khusus dari Alvaro. Hanya lelaki itu saja yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Jasmine tetap diam tanpa menjawab panggilan dari Alvaro atau sekedar menoleh pada lelaki itu. Kening Alvaro terlipat dalam. Hatinya bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan perempuan riang disebelahnya saat ini? Karena biasanya jika sudah bertemu dengannya, Jasmine akan lebih banyak berbicara dan bercerita atau sekedar bertanya, berceloteh hingga lelah sendiri. "Jasmine." Panggil Alvaro sekali lagi namun lagi-lagi Jasmine tidak meresponnya. "Kamu kenapa? Tumben diem aja? Biasanya udah kayak kereta, ngoceh gak berhenti." Alvaro terheran-heran dibuatnya. Kini Jasmine memusatkan tatapannya pada Alvaro tapi dia bingung harus menjawab apa. "Kamu mau ngomong apa, Al? Ada hal penting apa?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Alvaro diam seraya menatap lekat sepasang mata bening yang biasanya memancarkan cahaya riang. Tapi, kali ini yang terlihat hanya ada keraguan dan ketakutan. Alvaro menghela nafas berat sebelum berucap. "Sebentar lagi kita akan menikah Mine. Aku mau nantinya kamu nggak akan larang-larang aku. Aku bakal jarang banget ada di rumah, kamu tau kan kalau Safira juga butuh aku untuk nemenin dia pemotretan baik di dalam maupun luar kota. Jadi aku harap kamu bisa mengerti posisi aku." Dia berkata dengan wajah datar dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Jasmine menghembuskan nafas sesak, tersenyum getir seraya menatap lekat sepasang mata lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Al, memang kalaupun nantinya aku larang, kamu bakalan mau dan dengerin aku? Aku paham kok posisi aku disini, jadi kamu nggak perlu khawatir." Setelah mengatakan itu, Jasmine membuang muka. Hatinya sesak mendengar permintaan Alvaro. "Bagus kalau kamu sudah paham, karena aku nggak mau ini akan menjadi masalah kita nanti kedepannya. Lebih baik kamu sekarang pulang, sudah larut malam. Maaf aku nggak bisa antar kamu, hari ini aku capek banget" 'Jelas capek lah, Al. Kan seharian kamu nemenin Safira' sayangnya itu hanya terucapa dalam hati saja. Jasmine tidak memiliki nyali untuk mengatakannya. "Nggak pa-pa kok, Al. Aku bisa pesan ojek online kok. Lagian udah biasa begitu juga kan?" Sindir Jasmine telak. Tidak ingin membuang waktu, Jasmine segera bangkit dari duduknya dan pergi berlalu begitu saja. Alvaro tersentak, merasa tertohok dengan ucapan Jasmine. Namun, dia lebih memilih diam tanpa berniat menahan perempuan itu. Dengan langkah lebar Jasmine keluar dari rumah Alvaro. Jasmine sudah cukup muak dengan keadaan yang menghimpitnya saat ini. Lelaki itu memilih tetap berdandiwara dibandingkan mengatakan yang sejujurnya. Jika saja Alvaro mau mengatakan yang sebenarnya, mungkin pernikahan ini bisa dibatalkan. Jasmine juga tidak mau dinikahi oleh lelaki karena rasa kasihan. Jasmine lebih memilih menunggu pesanan ojek online di depan gerbang, dari pada harus duduk berlama-lama dengan lelaki pembual yang baru saja dia tinggalkan. **** Sepi, selalu seperti ini setiap kali Jasmine membuka pintu rumahnya. Jasmine membuang nafas pahit, kenapa Allah memberikan cobaan seberat ini padanya? Jasmine tidak bisa bergantung terus pada keluarga Alvaro. Dia harus segera mencari pekerjaan. Karena dia sadar suatu saat nanti, cepat atau lambat Alvaro akan meninggalkannya dan memilih Safira. Memang, selama ini kebutuhan Jasmine ditangung oleh Renata dan Juan. Mereka memaksanya untuk menerima semua bantuan dengan dalih dia adalah calon menantu mereka. Jasmine sadar betul bahwa hubungan yang terjalin atas dasar kasihan hanya akan menyakiti hati salah satu dari mereka, dan hatinya yang pasti akan tersakiti nantinya. Namun, lagi-lagi dia terjebak pada posisinya saat ini. Selama ini Jasmine selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh Renata dan Juan. Tidak mungkin jika Jasmine membatalkan pernikahannya secara sepihak dan mengecewakan mereka. Lagipula, dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk diberikan. Biarlah, untuk saat ini Jasmine akan mengorbankan hatinya. Dia harus siap dan kuat untuk menghadapi dan menjalani takdirnya. Jasmine menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan kacau. Air matanya tiba-tiba saja mengalir. Pedih rasanya jika harus hidup bersama lelaki munafik yang sialnya masih sangat dicintainya hingga detik ini. **** Hari ini adalah hari yang seharusnya paling membahagiakan dan dinantikan oleh setiap pasangan pengantin pada umumnya. Namun, tidak untuk dua orang yang sebentar lagi akan merubah status mereka. Jasmine sibuk dengan ketakutannya sedangkan Alvaro sibuk dengan keraguannya. Hari ini mereka akan menikah. Namun, tidak ada binar kebahagian yang terpancar dari wajah keduanya. Sejak malam terakhir pembicaraannya dengan Alvaro membuat Jasmine menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya. Dia jadi jarang menghubungi Alvaro atau mengirimkan chat untuk sekedar menanyakan keberadaan lelaki itu. Hatinya sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran Alvaro. Toh, ada atau tidak ada dirinya sama saja. Jasmine merasa seperti pajangan hidup bagi Alvaro. Pernikahan mereka mungkin hanya sekedar status belaka untuk lelaki itu. Jasmine sudah tampak cantik dengan gaun pengantin putih yang membalut tubuh indahnya. Untuk rambut dijepit kesamping sehingga memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Penampilannya sudah sangat cantik dan elegan. Riasan natural pada wajahnya membuatnya terlihat lebih menawan. "Jass, akhirnya hari yang udah lo tunggu-tunggu datang juga! Gw sama Desi doain yang terbaik untuk pernikahan kalian. Jangan lupa bikin ponakan yang lucu buat kita ya, Jass." Oceh Cika, setelahnya dia terkekeh geli dengan kalimatnya sendiri. "Lo harus bahagia ya, Jass! Sekarang kan udah ada orang tua Alvaro yang akan gantiin posisi orang tua lo. Kalau gw liat, mereka nerima lo dan sayang banget sama lo, Jass." Desi berkata dengan wajah serius. Jasmine tersenyum tulus pada kedua sahabatnya, "Makasih ya guys, lo berdua emang sahabat terbaik gw." Ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. "Yah, jangan nangis dong, Jass. Entar makeup lo berantakan gimana?" Desi kalang kabut, membuat Cika ikutan panik karena melihat Jasmine yang hampir menangis. Jasmine tertawa kecil karenanya, lalu menghapus cairan bening yang menggenang di sudut matanya. "Pokoknya, hari ini lo harus kasih senyuman terbaik lo buat semua orang!" Seru Desi dengan semangat. "Nah, tumben otak lo pinter, Des." Ucap Cika dengan wajah minta di hujat. "Gw emang pinter ya!" Sungut Desi tidak terima. Kenapa Cika selalu mengajaknya ribut? Tak bisakah sekali saja sahabatnya itu kalem. Jasmine kembali tertawa melihat perdebatan kedua sahabatnya. Selalu seperti ini, keduanya mampu mengalihkan rasa sedihnya dengan kelakuan alamiah mereka. "SAH" Seruan lantang dan serempak itu membuat Desi dan Cika kompak tersenyum lebar. Kecuali Jasmine yang tersenyum kecut karena menyadari fakta bahwa dia sudah menjadi istri sah Alvaro. Lelaki yang menikahinya hanya karena rasa kasihan saja. "Akhirnya....." Seru Desi dan Cika serempak sambil tersenyum pepsodent. Sementara Jasmine, batinnya menjerit kencang. Pintu kamar terbuka, Renata masuk dengan binar cerah. Wajahnya masih cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda. "Duh, mantu Mami emang nggak ada yang ngalahin deh cantiknya." Puji Renata heboh sambil memeluk erat tubuh Jasmine. Jasmine tersipu malu mendengar ucapan gamblang Renata. "Mami juga nggak kalah cantik kok, Mih," ucapnya malu-malu. Jasmine tidak pernah membayangkan akan menikah di usia yang masih sangat muda menjelang dua puluh tahun dengan lelaki yang dia kagumi sejak dulu sekaligus lelaki yang berhasil melubangi hatinya. 'Aku pasti bisa membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku, Al.' "Ayo kita keluar, sayang. Proses ijab kabul sudah selesai. Sekarang kamu udah jadi istri sahnya Alvaro. Mami bahagia banget." Ungkap Renata tersenyum senang. Renata tidak dapat menutupi rasa bahagianya. Baginya, hanya Jasmine yang pantas mendampingi Alvaro. Renata yakin kesabaran Jasmine bisa mengimbangi keras kepala putranya. Kalimat itu berhasil membawa Jasmine keluar dari lamunannya. Jasmine mengangguk lalu mulai melangkah keluar dari kamar didampingi oleh Renata yang mengapit lengannya erat dan kedua sahabatnya mengekor dibelakang. Mereka keluar berjalan beriringan. Jasmine berjalan dengan kepala menunduk menunduk ketika melihat tatapan alvaro yang sempat terkunci dengan tatapannya. Alvaro terpaku, menatap takjub dan kagum pada perempuan cantik yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Hatinya mengakui bahwa Jasmine sangat cantik, tapi egonya menepis keras hal itu. 'Gw nggak boleh sampai kebawa perasaan, ini cuma sementara aja. Perempuan yang gw sayang dan gw cinta tetap Safira' Alvaro segera memutuskan pandangannya dari Jasmine dan kembali berwajah datar. Mencoba menepis semua perasaan yang baru saja menyambangi hatinya. Jasmine menghela nafas pahit. Takdir sudah mulak memainkan perannya mulai hari ini. Dengan perasaan tak menentu Jasmine duduk persis disebelah Alvaro. Dengan wajah datar Alvaro memakaikan cincin ke jari manis Jasmine lalu mengecup singkat dahinya. Begitupun dengan Jasmine, dengan ragu meraih tangan Alvaro lalu memakaikan cincin ke jari manis Alvaro kemudian mengecup punggung tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Bulir air mata tidak bisa ditahan, Jasmine menangis bukan karena bahagia tapi karena fakta bahwa suaminya menikahinya hanya karena kasihan semata. Tetapi dia tetap berusaha tersenyum tulus pada semua orang yang hadir di pesta pernikahannya, terutama pada Renata dan Juan dan kedua sahabatnya yang saat ini juga sedang menangis haru. 'Semoga ini pernikahan pertama dan terakhirku.' Kedua bola mata Jasmine memindai sekeliling. Banyak senyum bahagia yang membuatnya menjadi semakin dilanda dilema. Terutama senyuman Renata dan Juan. Ahh, rasanya ingin sekali semua acara menyakitkan ini berakhir dengan cepat. Semakin lama berada ditempat ini, rasanya hatinya semakin terhimpit perih. Alvaro, lelaki itu hanya diam tanpa senyum yang menghiasi wajah tampannya. Tidak ada raut bahagia sedikitpun yang dia tunjukkan. Karena memang pernikahan ini hanya karena paksaan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN