Acara resepsi diadakan sangat mewah dan meriah di salah satu hotel ternama milik keluarga Alvaro. Mengingat Alvaro adalah anak semata wayang membuat Renata dan Juan memberikan yang tebaik untuk anak mereka.
Saat ini, Jasmine dan Alvaro sedang berada di dalam salah satu kamar hotel yang berada dilantai tiga puluh. Lantai khusus untuk kamar Alvaro beserta keluarganya. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk acara resepsi.
Alvaro sudah nampak gagah dengan balutan jas bludru biru tua. Sementara Jasmine menggunakan gaun yang warnanya senada dengan tuxedo Alvaro. Gaun dengan model sabrina yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna dengan model duyung di bagian bawahnya serta ekor yang menjuntai panjang di bagian belakangnya. Kulit Jasmine yang putih bersih sangat kontras dengan warna gaun yang dia pakai, sehingga penampilan Jasmine jauh terlihat lebih sempurna.
Lagi, kedua kali Alvaro merasakannya, jantungnya berdebar kencang begitu melihat penampilan istrinya. Tapi, segera dia tepis jauh perasaan aneh itu.
'Nggak! Ini nggak boleh dibiarin terjadi. Tenang, Al, tenang! Jangan sampai kebawa perasaan!'
Alvaro memejamkan kedua matanya sejenak mencoba untuk menyatukan kinerja otak dan hatinya yang tidak pernah sejalan.
"Udah?" Tanya Alvaro datar.
Jasmine memperhatikan Alvaro dari pantulan cermin, lelaki itu sangat tampan. Pada kenyataannya memang lelaki itu sudah menjadi suaminya. Namun, jika hanya raga yang dia miliki tanpa jiwa, semuanya terasa hambar.
"Udah." Jasmine mengangguk pelan. Kemudian berdiri sembari merapikan gaunnya agar mudah untuk berjalan.
"Ayo." Alvaro kembali bersuara masih dengan wajah datar.
Jasmine bergumam nyaris tanpa suara, berjalan dibelakang Alvaro sampai di depan pintu kamar Hotel.
Jasmine menarik nafas dalam ketika Alvaro mengulurkan lengannya untuk dia dekap. Ragu-ragu Jasmine meraih lengan kekar itu, melingkarkan tangannya di sana.
Mereka berjalan beriringan menuju ball room tempat dilaksanakannya acara resepsi pernikahan. Jasmine melingkarkan tangannya pada lengan kokoh suaminya dengan senyum yang mengembang sempurna begitu tiba di pintu ball room.
Para tamu menatap takjub pada mempelai wanita. Tidak bisa di pungkiri hampir semua tamu khususnya kaum adam yang ada di sana terpaku melihat kecantikan perempuan itu. Aura kecantikannya keluar dengan sempurna, apalagi dengan penampilannya yang sangat anggun malam ini. Bahkan banyak dari mereka sampai tidak berkedip menatap kagum padanya.
Jasmine tertawa kecil ketika melihat Renata bertepuk tangan heboh saat mereka tiba.
Alvaro mendengus kesal,. "Ck, Mami bikin malu aja."
Jasmine melirik malas pada suaminya. "Cuma malam ini doang, Al. Biarin orang tua kamu seneng kenapa sih?" Tegurnya sedikit kesal. Lama kelamaan Jasmine gerah melihat tingkah Alvaro. Jasmine sadar pernikahan mereka membebani lelaki itu. Tapi, bisakah Alvaro berpura-pura bahagia sebentar saja.
Mereka melangkah menuju pelaminan, melewati karpet merah yang terbentang luas dengan tiang-tiang yang kelilingi bunga. Ada kue penganting empat tingkat yang menjadi pemanis, lampu-lampu kristal tergantung cantik menambah kesan mewah.
Dari arah depan, terlihat lima orang laki-laki berwajah tampan dengan penampilan yang sangat menawan sedang berjalan ke arah mereka dengan tatapan jahil serta menggoda. Dibelakang mereka ada dua sahabat Jasmine yang turut serta mengantri untuk memberikan selamat.
Rian, Akbar, Dean, Jordan dan Bayu. Kelima lelaki tersebut adalah sahabat baik Alvaro. Mereka satu sekolah semenjak SMP. Begitupun dengan Cika dan Desi, mereka adalah sahabat terbaik yang Jasmine miliki sejak SMP hingga sekarang.
"Widih, gak nyangka gw, Bro! Bisa-bisanya lo ngedahuluin gw." Akbar terkekeh dengan kedipan mata menggoda ke arah Jasmine.
"Yeuhh, ganjen amat tuh mata! Inget, udah ada yang punya ini!!" Jordan menoyor keras kepala Akbar. Kini tatapannya beralih pada pasangan pengantin di hadapannya. "Selamat ya, Jass. Lo harus bahagia! Dan lo, Al! Harus bahagian Jasmine karena Jasmine udah gw anggap kayak adik gw sendiri. Kalau lo nyakitin dia, lo akan berhadapan dengan gw." Jordan serius dengan ucapannya, bahkan dari sorot matanya saja dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Ckckck, serius amat muka lo tong! Pastilah dia bahagiain Jasmine, dodol." Dean mencibir, tumben sekali Jordan berbicara seserius itu. Karena biasanya hanya saat sedang makan sahabatnya itu terlihat serius.
"Selamat ya Bro! Semoga samawa, jangan lupa pelan-pelan pas awalnya." Ucap Rian ambigu lantas terkekeh geli.
"Woii Bro, gw udah siapin kado spesial nih buat lo." Bayu menaik turunkan alisnya menggoda. Masih tak menyangka jika teman kakunya akan resmi menajdi mantan perjaka, mungkin?
Alvaro, lelaki itu hanya diam tanpa menjawab atau membalas ucapan dari kelima sahabatnya. Dia hanya melirik malas, telinganya sakit mendengar ocehan semua sahabatnya yang sama sekali tak ada faedahnya.
Desi dan Cika berseru heboh begitu kaki mereka menapaki pelaminan. "Selamat ya, Jass. Bahagia selalu." Cika memekik tertahan yang diangguki antusias oleh Desi.
Jasmine tertawa kecil melihat kelakuan kedua sahabatnya. Mereka menerjangnya dengan pelukan dengan senyum yang tak luntur dari wajah mereka. Jasmine pun dengan senang hati membalas pelukan kedua sahabatnya, baginya pelukan kedua sahabatnya adalah penguat di awal pernikahannya.
"Semoga Samawa." Desi berkata dengan tulus.
"Selalu bahagia hingga mau memisahkan." Tambah Cika tak mau kalah.
Jasmine tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "makasih ya." Hanya kalimat itu yang mampu dia ucapkan sebagai balasan.
Hati jasmine berdesir nyeri mendengar ungkapan tulus dari kedua sahabatnya. Bagaimana mungkin semua doa mereka bisa terjadi? Jika lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu mencintai perempuan lain.
"Ck, bikin malu aja lo berdua pake pelukan begitu." Cibir Rian, yang mendapatkan lirikan tajam dari Jasmine dan kedua sahabatnya.
Tepat dibelakang Desi dan Cika ada seorang perempuan cantik yang tanpa malu langsung menerjang Alvaro dengan pelukan erat, dan disambut dengan senyum hangat dari Alvaro.
Para sahabat yang masih berada di sana hanya menatap datar perempuan itu. Entah mengapa mereka juga tidak menyukai Safira. Mungkin karena perempuan itu terlalu sombong, bahkan dengan kelima sahabat Alvaro pun Safira tidak pernah bertegur sapa. Boro-boro tegur sapa, melirik merekapun Safira enggan.
"Selamat ya, Al. Kamu ganteng banget malam ini." Ungkap Safira gamblang, tanpa perduli lirikan sinis dari orang disekitarnya. Tak ada doa yang disematkan bahkan melirik Jasmine pun tidak.
Entahlah, Safira juga bingung dengan perasaannya sendiri. Ada yang mengganjal dalam hatinya seolah takut akan kehilangan sosok Alvaro yang sudah menemaninya sejak dulu. Tapi, yang pasti Safira memang tidak berniat melihat Jasmine. Safira datang kesini murni hanya untuk menghargai Alvaro, padahal sebenarnya dia malas setengah mati.
"Makasih Fir, kamu juga cantik malam ini." Alvaro membalas dengan pujian yang sama. Karena, pada dasarnya Safira selalu terlihat cantik dimatanya.
"Nggak usah lama-lama pelukannya! Masih banyak yang antri di belakang!" Sindir Renata jutek lengkap dengan lirikan sinis.
Para sahabat mati-matian menahan tawa karena suara Renata yang lantang itu. Sejak dulu memang Renata tidak pernah menyukai Safira. Mungkin perasaan seorang ibu, begitupun dengan Juan.
Jasmine yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa tersenyum getir. Istri atau perempuan mana yang bisa menerima kenyataan pahit, jika suaminya lebih memilih memberikan senyuman lembut pada perempuan lain daripada istrinya sendiri.
"Mih.." Tegur Alvaro memohon, disambut tatapan tajam dari Renata dan Juan. Alvaro menghembuskan nafas berat menghadapi kelakuan kedua orangtuanya. Entah karena apa mereka selalu saja menatap Safira dengan tatapan benci, padahal Safira itu anak sahabat mereka sendiri.
Mendapatkan teguran serta tatapan tak bersahabat dari kedua orang tua Alvaro, membuat Safira balas menatap keduanya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin untuk menghargai Alvaro padahal dalam hatinya sudah dongkol setengah mati.
"Kuy, lah makan kita." Seru Jordan mencairkan suasana tegang diantara mereka.
"Ck, dasar perut karet." Maki bayu dengan teganya.
"Makan mulu yang ada di otak lo, Dan. Nggak kasian emang sama perut lo itu?" Rian heran sendiri melihat sahabatnya yang satu itu.
"Tau, nggak kasian emang sama makanan yang ada di lambung lo itu udah pada desak-desakan sangking sempitnya." Sindir Akbar pedas.
"Dia sih lambungnya kembar tiga, Bro! Jadi muat banyak." Dean tertawa geli begitu melihat wajah masam Jordan.
"Setan lo semua! Awas aja kalau pada ngikut makan!" Sungut Jordan berang.
Jasmine tidak dapat menahan tawanya karena melihat wajah jengkel Jordan sekaligus geli melihat kelakuan semua sahabat Alvaro. Bagi Jasmine, mereka sangat menghibur ditengah kesedihan yang melanda perasaannya saat ini. Mereka selalu bersikap baik, ramah dan lebih perduli terhadapnya dibandingkan dengan Alvaro sendiri.
"Ayo elah, buru." Jordan merengek tak sabaran lalu berjalan mendahului semua temannya.
"Kambing emang tuh nafas naga! Bikin malu aja kerjaannya!" Rian menatap gerah Jordan yang sudah berjalan cepat meninggalkannya.
Mereka menuruni pelaminan dengan langkah cepat terutama Jordan yang sudah menatap penuh minat pada semua hidangan yang tersedia.
Sementara Safira dengan senyum manis berpamitan pada Alvaro tanpa melirik atau menatap pada Jasmine, seolah perempuan itu kasat mata. "Aku pamit ya, Al. Semoga kamu bahagia." Ucapnya dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
Alvaro tersenyum masam, "hem." Matanya tak lepas menatap kepergian Safira.
Dengan langkah sangat anggun dan dagu yang terangkat angkuh Safira menuruni tangga pelaminan tanpa menghiraukan tatapan bengis yang dilayangkan oleh Renata dan Juan.
Renata dan Juan saling pandang, sedikit heran karena seingat mereka, Safira tidak masuk dalam daftar tamu undangan.
Jasmine hanya mampu tersenyum pahit menatap kepergian Safira. Cika dan menepuk pundaknya membuatnya tersadar dari rasa sedihnya.
"Smile.. smile.." Cika menunjukkan deretan gigi putihnya agar Jasmine ikut ternyum seperti dirinya. Pada akhirnya, Jasmine tertawa dan mengacungkan jempolnya. Desi melihat semuanya dalam diam, entah apa yang dia pikirkan.
****
Malam semakin larut dan para tamu undangan sudah beranjak pulang sejak tadi. Acara resepsi sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Banyak yang hadir di acara tersebut, khususnya kolega bisnis dan para sahabat Renata dan Juan. Juga beberapa teman kuliah Alvaro yang turut serta hadir untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan mereka.
Tidak ada senyum bahagia yang dilemparkan oleh Alvaro. Lelaki itu tetap dengan wajah datar dan dingin saat menyambut para tamu yang berdesakkan ingin memberikan selamat dan doa atas pernikahannya. Jasmine hanya mampu mendesah pasrah, wanita itu tersenyum tulus pada semua tamu yang hadir untuk menutupi luka hatinya yang menganga.
Jasmine dan Alvaro sudah berada di dalam kamar hotel, tepatnya kamar khusus tempat Alvaro biasanya beristirahat. Lantai tiga puluh adalah lantai khusus untuk seluruh anggota keluarga Alvaro yang ikut menginap malam ini. Karena memang lantai ini didesign khusus hanya untuk keluarga mereka saja. Keluarganya, terutama Renata sudah menyiapkan kamar pengantin yang dihias dengan khusus dan sempurna untuk mereka berdua.
"Al, aku atau kamu duluan yang mandi?" Jasmine bertanya dengan suara gugup. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar tak karuan, terlebih mereka akan tidur dalam satu kamar yang sama.
"Kamu aja duluan." Alvaro menyahut datar. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur setelah melempar asal jasnya ke sofa.
Jasmine menghela nafas sesak, merutuki kegugupannya. Memangnya apa yang dia harapkan? Malam pertama seperti pengantin normal lainnya? Tentu saja itu tidak akan pernah mungkin terjadi, mengingat seperti apa perasaan Alvaro padanya.
Dengan langkah gontai, Jasmine masuk ke dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan riasan makeup yang menempel pada wajahnya serta mengambil pakaian gantinya. Di dalam kamar mandi Jasmine menangis dalam diam. Kenyataan pahit membuatnya tersadar bahwa saat ini dia telah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya. Bahkan lelaki itu dengan jelas mencintai perempuan lain.
Cukup lama Jasmine berada di dalam kamar mandi. Selain membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, Jasmine juga merenungi nasibnya dibawah guyuran dinginnya air shower yang menetes deras di atas kepalanya yang jatuh bersamaan dengan air mata yang sejak tadi tidak berhenti menetes. Jasmine harus bisa menerima dan mengikhlaskan takdir yang sudah ditetapkan untuknya.
Menerima Alvaro sebagai suaminya apa adanya, mencintai segala kebaikan maupun keburukan lelaki itu. Jasmine memantapkan dirinya sendiri, mencoba untuk mejalani takdirnya dengan lapang d**a.
Sudah sangat terlambat jika Jasmine harus menyesal sekarang. Nasi sudah menjadi bubur. Toh, dia sendiri yang menerima dan menyetujui untuk melanjutkan pernikahan ini walaupun dia tau betul fakta yang sebenarnya.