05 Bukan Malam Pertama

1594 Kata
Selama Jasmine membersihkan diri, Alvaro menunggu dan duduk termenung sambil meratapi nasibnya di atas kasur yang sudah dihias khusus oleh Renata untuk mereka. Alvaro memperhatikan dengan seksama ke sekeliling kamar. Banyak kelopak bunga mawar bertebaran di lantai dan di atas kasurnya. Lilin kecil menambah suasana romantis, serta wine yang sudah disiapkan khusus untuk dinikmati. Semua seharusnya sudah sangat sempurna untuk pasangan pengantin pada umumnya, suasana yang romantis dengan design yang pas untuk menikmati malam pertama. Tapi tidak untuk Alvaro, baginya ini semua sangatlah memuakkan. Tarikan nafasnya terdengar berat. Nasibnya tidak sesuai dengan ekspetasinya. Memulai kehidupan baru dengan orang yang tidak diinginkannya adalah suatu beban. 'Sekarang gw udah jadi suami sah Jasmine. Gw harus omongin semuanya sama Jasmine sekarang juga. Gw nggak bisa bohongin diri gw sendiri dan nahan perasaan gw terus menerus seperti ini. Gw harus buat perjanjian sama dia dan menceraikan Jasmine setelah satu tahun pernikahan ini' Setelah cukup lama berdiam diri dalam kamar mandi, pada akhirnya Jasmine keluar. Tubuh dan otaknya sudah lebih segar dari sebelumnya. Begitu membuka pintu, Jasmine menemukan Alvaro yang sedang duduk entah melamunkan apa. Jasmine menghela nafas berat. Atensinya teralihkan pada dekorasi kamar yang di penuhi kelopak bunga mawar dan juga lilin kecil. Alvaro yang menyadari kehadiran Jasmine sontak langsung mengalihkan perhatiannya penuh pada istrinya. "Ada yang mau aku omongin sama kamu dan ini sangat penting, jadi kamu jangan tidur dulu tunggu aku sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Alvaro melewati Jasmine begitu saja. Di dalam kamar mandi Alvaro sibuk berfikir menimbang kata-kata yang pas untuk disampaikan pada jasmine nantinya. Agar ucapannya bisa diterima dengan baik. Bagaimana caranya, agar Jasmine tidak tersinggung dan marah dengan apa yang akan disampaikan olehnya nanti. "Anjir! Kenapa susah bener nyusun kata-kata doang!" Gerutunya sambil mengusap kasar wajahnya. Alvaro mengacak rambutnya frustasi, merasa menjadi orang bodoh dadakan saat ini. Kenapa disaat yang penting seperti sekarang ini otaknya sulit sekali diajak kerjasama? Berulangkali dia berfikir dan mecari kata-kata yang pas untuk diucapkan. Kemana otak pintarnya itu pergi? Alvaro mendengus kesal lalu mengangkat kedua bahunya tak perduli. Terserah apa yang akan keluar dari mulutnya saja nanti. "Bodo lah! Sialan emang! Liat entar aja, pusing pala gw!" Keluhnya kesal. Sambil menunggu Alvaro, Jasmine mencoba mengalihkan pikirannya dengan membersihkan seluruh bunga-bunga dan lilin kecil yang bertaburan di atas kasur dan lantai kamar. Sungguh tak berguna sama sekali semua dekorasi ini. Namun, dia tidak bisa melayangkan protes, ini semua sudah di atur oleh Renata dan Juan. "Duh, kenapa perasaan gw jadi nggak enak gini ya?" Gumam Jasmine gusar. Jasmine duduk dengan gelisah di atas kasur. Masih menebak-nebak hal penting apa yang akan Alvaro sampaikan padanya. Hatinya tidak tenang sejak tadi, ada perasaan tak enak yang mengganjal. Sampai akhirnya Alvaro keluar dari kamar mandi dengan tampang lebih segar. Alvaro berjalan ke arah Jasmine dan duduk persis di sebelahnya. Matanya menjelajah ke seluruh sudut kamar, rupanya Jasmine sudah membersihkan semua bunga yang bertebaran dan lilin yang tampak menyebalkan di matanya. Mereka saling tatap untuk beberapa saat, sebelum Alvaro membuka suaranya terlebih dahulu. "Mine, ada yang harus kamu ketahui." Alvaro mengambil nafas sejenak untuk memantapkan hatinya. "Aku nggak bisa bohongin perasaan aku dan memendam ini lebih lama lagi. Semenjak awal aku nggak pernah punya perasaan yang lebih sama kamu. Pernikahan ini murni aku lakukan atas dasar paksaan dari Papi dan Mami. Ada perempuan lain yang aku cintai dan itu pastinya bukan kamu." Alvaro menatap lamat wajah sendu Jasmine, tidak ada reaksi terkejut dari perempuan itu. Hal itu membuatnya kebingungan. "Kamu paham kan apa yang aku omongin? Aku mau kita buat kesepakatan dan perjanjian pernikahan. Setelah satu tahun menikah dari sekarang aku akan menceraikan kamu. Aku akan berikan kompensasi untuk kamu. Soal harta gono gini kamu nggak perlu khawatir, kamu akan tetap mendapatkan hak kamu sebagai istri aku, tentunya tanpa hak lahir seperti pasangan pada umumnya. Kamu akan tetap mendapatkan tunjangan dari aku setiap bulannya, baik sekarang atau setelah kita bercerai nantinya. Aku harap kamu nggak akan ikut campur urusan pribadi aku, begitupun sebaliknya aku nggak akan larang kamu untuk dekat dengan lelaki lain. Maaf Mine, kalau kenyataan ini sangat menyakitkan buat kamu tapi aku harus bilang diawal agar kamu tidak berharap lebih sama aku." Tanpa Alvaro duga sama sekali perempuan disebelahnya justru tersenyum dengan sangat tulus walaupun matanya tidak bisa menyembunyikan luka dan kekecewaan yang mendalam. Jasmine sudah menduganya. Cepat atau lambat Alvaro pasti akan mengatakannya. Namun, dia tidak pernah menyangka akan secepat ini. Belum ada satu hari mereka menikah, baru pagi tadi Alvaro mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan para saksi dengan suara lantangnya dan mereka sah menjadi sepasang suami-istri. Dan malam ini, yang seharusnya adalah malam pertama untuknya, menjadi malam yang paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Dimana suaminya dengan jujur berkata mencintai perempuan lain. Hatinya hancur, statusnya hanya akan menjadi topeng selama satu tahun kedepan. Jasmine menghirup banyak udara menekan semua perasaan sesak yang menghimpit dadanya. Dengan lekat dia menatap lelaki yang duduk di sebelahnya dan sialnya sudah menjadi suami sahnya saat ini. "Oke, Al. Kalau memang begitu kenyataannya aku nggak bisa berbuat banyak. Tapi izinin aku untuk tetap sayang sama kamu ya, Al. Aku nggak minta balasan apapun dari kamu, dan izinin juga aku tetap menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri untuk tetap mengurus kamu sampai waktunya tiba nanti." Suara Jasmine tercekat dengan sorot mata yang begitu pilu. Alvaro tertegun sesaat mendengar jawaban Jasmine. Terbuat dari apa hati perempuan ini? Setelahnya Alvaro menatap dalam kedua bola mata Jasmine. "Kamu baik Mine, kamu berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada aku." Ungkapnya jujur dan tulus dari dalam hatinya. Jasmine hanya mampu tersenyum getir, meratapi takdirnya. Dia sama sekali tidak menyangka akan sesakit ini rasanya. Pertanyaannya, kenapa baru sekarang, disaat mereka sudah terikat tali pernikahan. "Udah malam Al, lebih baik kita istirahat aja." Tanpa menunggu jawaban lagi, Jasmine segera merebahkan dirinya, membelakangi Alvaro lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Hatinya sudah terlalu sakit dan sesak mendengar kenyataan pahit itu keluar dari bibir Alvaro secara langsung. 'Secepat inikah? Tidak bisakah kau perpanjang kebahagiaanku sebentar saja?' Jasmine menutup matanya pedih menangis dalam diam, kenyataan yang baru saja dia dengar begitu menamparnya, hatinya sangat sakit dan sesak. Lelaki itu seperti mendorongnya jatuh ke atas ribuan paku, tanpa belas kasihan sedikitpun. Kelopak matanya kembali terbuka saat mendengar derap langkah kaki. "Sakit, Al. Sakit banget rasanya." Jasmine terisak sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. "Ya Allah, kenapa sesakit ini?" Sementara itu, Dengan langkah lebar Alvaro berjalan ke arah balkon kamar hotelnya. Ada apa ini? Kenapa hatinya juga ikut merasakan sakit? Kenapa ada perasaan tak nyaman ketika dia mengungkapkan fakta itu? Harusnya dia lega, harusnya dia senang Jasmine tidak menuntut lebih padanya. Tapi kenapa justru sebaliknya? Perasaan ini begitu asing. Alvaro mengacak rambutnya frustasi, berkacak pinggang sambil menatap lurus ke depan. "Ck, kenapa gw jadi ikutan melow gini sih? Nggak! Nggak bisa kayak gini! Gw cuma kasian doang sama Jasmine! Gak mungkin gw punya perasaan lebih sama dia" "Arghh b*****t!!" Alvaro harus tetap fokus pada tujuan awalnya menceraikan Jasmine setelah satu tahun pernikahan mereka. Dia harus bisa melawan keras perasaan aneh yang merayap dalam hatinya saat ini. Dia tidak boleh terhanyut dan terbuai dengan perasaan asing yang tumbuh dihatinya. "Fokus Al fokus! Lo cuma cinta sama Safira doang! Iya cuma sama Safira!" Saat ini tujuannya akan tetap sama mengejar wanita pujaan hatinya Safira, cinta sejatinya. Bukan! Bukan Jasmine. Dia hanya iba! Iya, dia hanya iba pada perempuan itu. Wanita malang yang hidup sebatang kara, otaknya mengelak tegas apa yang hatinya rasakan saat ini. Mengabaikan segala jeritan protes dari dalam hatinya. Egonya terlalu tinggi, gengsinya terlalu besar. Setelah berpikir cukup lama dan meyakinkan hatinya agar sejalan dengan otaknya, Alvaro memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Alvaro juga sudah sangat lelah dan mengantuk sejak tadi tapi entah mengapa rasanya sulit untuk memejamkan mata. Alvaro berjalan kembali ke dalam kamar dengan langkah pelan setelah berperang dengan batinnya. Alvaro bisa melihat Jasmine sudah tidur nyenyak, walaupun samar dia masih bisa melihat dengan jelas jejak air mata yang ada di pipinya. Hatinya kembali merasakan perih, ingin sekali dia mendekap tubuh Jasmine erat dan menghapus jejak air mata itu dengan kedua tangannya, tapi lagi-lagi egonya begitu tinggi. "Nggak bisa! Nggak boleh sampai terjadi!" Alvaro menggeleng tegas, mencoba menetralkan perasaannya. Lebih baik dia ikut tidur sekarang. Dari pada otaknya harus terus berperang dengan hatinya sendiri. Rasanya kepalanya mau pecah saja, rumit sekali perjalanan cintanya. Alvaro bergerak gelisah dalam tidurnya. Ada rasa tidak nyaman harus tidur satu kasur dengan Jasmine. Biasanya dia hanya tidur sendiri ditemani oleh pacar halalnya, guling. Sekarang ditemani oleh Jasmine, istri halalnya tapi dia malah bingung sendiri. "Ck, b*****t tidur doang susah amat, elah!" Alvaro memaksakan matanya untuk terpejam, agar bisa ikut tidur. Jujur tubuh dan hatinya sangat lelah saat ini, dia sangat membutuhkan istirahat setidaknya untuk menyegarkan kembali otaknya. **** "Kira-kira, Al lagi ngapain ya sekarang?" Gumam Jordan sambil menerawang. "Anjir, kepo banget lo, bangke!" Rian menjawab tanpa melepas pandangannya dari layar TV di depannya. "Kiri b*****t!" Geram Bayu terus memainkan stick PS ditangannya. "Mata lo kotak! Lo nggak liat ada musuh tuh di sono." Sahut Rian tak terima. "Arghh kampret! Kena tembak kan gw!" Seru Bayu histeris. "Lagi enaena lah gembul, apaan lagi emangnya yang dilakuin pengantin baru pas malam pertama, d***o!" Dean menjawab pertanyaan bodoh Jordan. "Yee, kan bisa aja langsung molor, kecapean gitu." Semprot Jordan menyuarakan isi kepalanya. "Lagian ngapain lo pikirin, oon! bukan urusan lo juga, geblek!" Akbar menggeleng tak habis pikir. "Udah diem-diem bae aja lo, bagong! Kunyah aja tuh semua makanan." Bayu berucap santai setelah menegak minuman. "Anjing..." Umpat Jordan tepat di depan wajah Bayu. "b******n! Nggak usah nyembur juga, setan!" Pekik Bayu tak terima, wajahnya banyak menempel chiki kunyahan Jordan, iyuhh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN