06 Kembali Ke Awal

1700 Kata
Pagi kembali menjemput. Jasmine menggeliat pelan, perlahan kelopak matanya terbuka. Dia menguap lebar mencoba untuk mengambil kesadarannya secara penuh. Rasa lelahnya cukup terbayar setelah seharian kemarin melangsungkan acara pernikahannya. Terbukti Jasmine terbangun dari tidur lelapnya saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Saat menoleh kesamping pemandangan pertama yang dia lihat adalah Alvaro, suaminya. Tapi, hanya suami sementaranya saja selama setahun ke depan. Dibilang suami kontrak bukan tapi dibilang suami sungguhan juga tidak. Sudahlah Jasmine malas pagi-pagi harus memikirkannya. 'Aku pasti bisa melewati semuanya' Dimulai dengan senyum yang mengembang sempurna. Jasmine merenggangkan tangannya, kakinya menapak pada dinginnya lantai. Jasmine bergegas membersihkan dirinya. Setelah cukup rapih, dia berjalan ke arah kasur untuk membangunkan Alvaro. Dengan pelan Jasmine menepuk lengan Alvaro. "Al bangun dulu," panggilnya dengan hati-hati. Merasakan tepukan halus di lengannya membuat Alvaro menerjapkan kedua matanya. Awalnya dia sempat tersentak saat melihat Jasmine berdiri di depannya. Namun, begitu melihat ke sekeliling kamar dia sadar mengapa Jasmine bisa berada satu kamar dengannya. "Bangun dulu Al, terus sarapan," ucap Jasmine yang masih setia memperhatikan Alvaro. "Hem." Alvaro bergumam pelan. Dia beranjak dari kasur dan berjalan gontai ke arah kamar mandi dengan wajah yang masih sangat mengantuk. "Mau makan apa?" Tanya Jasmine sebelum Alvaro masuk ke dalam kamar mandi. Alvaro menoleh sejenak. "Nasi goreng sama s**u aja." Setelahnya kembali melanjutkan langkah kakinya yang tertunda. Jasmine memang memutuskan sarapan terlebih dahulu. Perutnya sedikit perih karena hanya sedikit makanan yang masuk ke perutnya. Banyaknya tamu undangan membuatnya tidak bisa menikmati makanan dengan tenang. Dan Jasmine lebih memilih untuk sarapan di dalam kamar saja. Sambil menunggu Alvaro mandi dia memesan makanan untuk mereka. Suara bel pintu berbunyi membuat Jasmine dengan segera membukanya. Dengan sopan Jasmine meminta petugas hotel untuk menata makanan di atas meja. Tak lupa mengucapkan terimakasih dan memberikan uang tip sebelum kembali menutup pintunya. Alvaro menghampiri Jasmine setelah keluar dari kamar mandi. Lalu duduk di sofa di depan istrinya. Mereka makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar. Setelah sarapan, Jasmine bergegas untuk membereskan semua barang bawaan mereka. Dia sudah meminta izin pada Alvaro semalam untuk tetap melayaninya sesuai dengan keinginannya. Jadilah saat ini tangannya sibuk memasukkan pakaian termasuk barang lainnya ke dalam tas. "Udah semua, Al." Jasmine, menatap semua barang bawaan mereka yang sudah dia masukkan ke dalam tas mereka masing-masing. Alvaro mengalihkan tatapan dari ponsel pada istrinya lalu mengangguk. "Ayo, nanti kita bersikap seperti pengantin baru di depan karyawan Hotel, karena mami pasti akan menanyakan kita pada pihak Hotel." Peringat Alvaro saat hendak membuka pintu kamar, yang hanya Jasmine tanggapi dengan anggukan kepala saja. Mereka berjalan beriringan menuju lobby Hotel dan disambut senyum ramah dari seluruh karyawan di sana. Keduanya melangkah berdampingan seperti pasangan pengantin sungguhan. Bahkan Jasmine memeluk lengan kekar suaminya untuk menyempurnakan akting mereka. Dan Alvaro pun hanya diam membiarkan. Keadaan kembali seperti semula saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Alvaro mengendarai mobilnya dalam diam. Begitupun dengan Jasmine yang duduk diam di kursi penumpang, matanya sibuk melihat ke arah luar jendela disampingnya. Tak ada satupun dari mereka yang mengangkat suara, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Setibanya di rumah, mereka disambut dengan senyum ceria Bik Imah selaku art yang sudah lama bekerja di kediaman Alvaro dan juga Pak Husein satpam rumah Alvaro. Mereka memang sudah cukup akrab dengan Jasmine. "Selamat datang, Non. Bibi nggak nyangka akhirnya Non Jass jadi istrinya Den Alvaro." Bik Imah tersenyum bahagia. Hatinya lega, akhirnya perjuangan Jasmine selama ini terbayarkan. Jasmine terkekeh kecil. "Makasih, Bik Imah." "Kalau gitu Bibi kembali kebelakang ya Non, kalau butuh bantuan jangan sungkan panggil Bibi." Peringat Bik Imah yang dibalas anggukan pasti dari Jasmine. Alvaro, lelaki itu sudah berjalan duluan setelah berbincang sebentar dengan Pak Husein. Dengan alasan lelah dia mendahului Jasmine untuk berlalu ke kamarnya yang sekarang menjadi kamar Jasmine juga. Setelahnya, Jasmine menyusul Alvaro. Sebenarnya agak risih juga kalau harus sekamar dengan lelaki itu untuk satu tahun ke depan. Tapi, Jasmine tidak bisa berbuat banyak selain menurut. Karena ini memang bagian dari rencana mereka berdua agar semua orang tidak curiga dengan kesepakatan yang telah mereka bicarakan semalam. Hal pertama yang Jasmine tangkap setelah membuka pintu kamar adalah rapih, bersih. Jasmine menghirup nafas kuat-kuat sebelum melangkah masuk ke dalam kamar. Alvaro memang lelaki penyuka kebersihan. Rasanya Jasmine insecure kalau harus membandingkan kebersihan kamar Alvaro dengan kamarnya dulu. Tidak ingin membuang waktu, Jasmine bergerak menuju walk in closet, memasukkan pakaiannya ke dalam ruang yang terlihat kosong. "Aku mau pergi, mungkin pulangnya malam. Kamu nggak perlu nungguin aku." Alvaro tiba-tiba masuk ke dalam walk in closet menghampiri Jasmine yang sedang sibuk berkutat dengan pakaiannya. Jasmine mengalihkan perhatian sepenuhnya pada suaminya sambil tersenyum kecut. Baru sehari saja sudah seperti ini. Mampukah dia bertahan sampai satu tahun ke depan? "Kamu mau kemana, Al? Maaf bukannya aku mau ikut campur. Tapi, jaga-jaga aja kalau nanti mami atau papi tanya, jadi aku tau harus jawab apa. Dan bisa nggak kalau kamu mau pergi atau terlambat pulang bahkan kalaupun kamu nggak pulang sekalipun kamu kasih tau ke aku, via chat aja biar jawaban kita kompak aja." Jasmine memberikan penjelasan agar Alvaro tak salah paham dengan permintaanya yang mungkin terlihat ikut campur. Alvaro terdiam sesaat sebelum mengangguk samar. "Safira mau pemotretan hari ini, nanti kalau ada yang tanya bilang aja aku ada kerkom tugas kampus" Jasmine terhenyak, dia sadar betul bahwa Alvaro akan lebih memprioritaskan Safira. Tapi tetap saja, ini baru satu hari dan lelaki itu dengan entengnya berkata akan pergi dengan perempuan lain. Bahkan statusnya saat ini pun tak bisa merubah apapun. "Oke" pada akhirnya, Jasmine hanya bisa mengiyakan. Jasmine harus segera merencanakan sesuatu, tidak mungkin dia terus bergantung hidup pada Alvaro secara terus-menerus. Apalagi hanya atas dasar kasihan, jujur saja dia benci fakta itu. "Aku berangkat, Mine." Suara Alvaro berhasil menarik Jasmine dari lamunannya. Jasmine mengangguk, kembali memfokuskan dirinya pada pakaian yang belum sepenuhnya rapih. Dia tidak ingin suaminya sampai mengamuk saat melihat pakaiannya disusun secara asal. Sepertinya Jasmine harus memulai rencananya besok. Dia tidak bisa terlalu lama mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Kalau Alvaro saja tidak perduli dengannya buat apa dia harus perduli dengan lelaki itu. Masa bodo! Yang penting Jasmine telah menjalankan tugasnya sebagai istri, itu saja poinnya! Dengan gesit Jasmine memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam lemari. Otaknya harus berfikir cepat, usaha apa kira-kira yang akan dia bangun untuk menghasilkan uang. Setidaknya dia tidak harus bergantung dengan uang yang Alvaro berikan nantinya. Malah kalau bisa dia tidak perlu memakai uang pemberian lelaki itu. Harta satu-satunya yang Jasmine miliki adalah rumah peninggalan kedua orangtuanya. Otaknya berperang keras dengan batinnya yang tidak rela jika harus menjual rumah penuh kenangan itu. Mudah-mudahan nanti jalannya dipermudah kedepannya. **** "Ck, gw kepo amat ini. Kira-kira si Jasmine udah buka segel apa belom ya?" Desi tidak dapat menahan rasa penasarannya. "Lah, iya juga ya? Gimana ya rasanya? Gw denger-denger sih sakit pas diawal, sampai susah jalan gitu katanya." Cika ikut membayangkan Jasmine yang kesulitan berjalan. "Menurut lo, si Alvaro itu romantis nggak sih, Cik? Soalnya, gw gak pernah denger Jasmine cerita hal-hal yang romantis gitu tentang lakinya." "Kagak tau gw, kaku gitu sih orangnya. Ck, tuh anak berasa married sama kulkas dua belas pintu." Cika tertawa, Desi pun ikut tertawa mendengarnya. "Gw juga mau kali punya suami yang ganteng kayak Alvaro. Kaya pula, tapi gw maunya yang romantis, baik, perhatian nggak kaku gitu." Cika senyum-senyum sendiri membayangkannya. Desi memutar bola matanya malas, menoyor keras pipi Cika. "Khayalan lo kejauhan, neng." Cika mendelik, lagi enak-enak mengkhayal dipatahkan begitu saja. "Emangnya elo! Cita-cita punya suami kayak Rian noh, yang mesumnya tanpa batas." Dia tertawa kencang begitu melihat bola mata Desi hampir keluar dari sarangnya. Desi melotot galak. "Heh amit-amit! Mending gw jadi jomblo terhormat deh, dari pada harus sama si rimes itu!" Sahutnya sambil mengetuk kepalan tangannya dimeja. "Hahahaa.... Bae-bae kemakan omongan sendiri, lo!" Cika memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. "Dasar temen laknat, lo!" Teriak Desi berapi-api. Sementara Cika tidak dapat menghentikan tawanya melihat wajah jengkel Desi. "Udahlah bacot lo! Kita telepon gak nih si Jasmine?" Tanya Cika setelah berhasil meredakan tawanya. "Menurut lo, enaknya gimana? Ganggu nggak kita, nyet?" Desi malah balik bertanya. Bingung juga, takutnya pasangan itu lagi enak-enaknya malah keganggu. Cika menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ganggu kali yah? Besok aja lah, kasian lagi istirahat mungkin mereka sekarang." Desi mengangguk setuju. "Hem, iya juga sih, pasti masih kecapean mereka sekarang." **** "Bik." Jasmine mencolek bahu Bik Imah membuat Bik Imah tersentak. "Astaga! Kaget Bibi, Non Jass" Jasmine terkekeh, "maaf Bik, lagi masak apa?" "Lagi masak soto ayam Non, tapi cuma sedikit aja, soalnya den Al tadi bilang pulangnya telat jadi nggak makan di rumah." Jasmine mengangguk, "iya, dia ada tugas kampus Bik" sahutnya, membuat kebohongan pertama. "Emang gak capek, Non? Kemarin kan acaranya seharian, udah kerjain tugas kampus aja." Bik Imah geleng-geleng kepala. Harusnya kan pengantin baru lagi seneng-senengnya ngedekem di kamar. "Iya, ada kerkom Bik, ngejar tugas yang belum selesai. Eum, aku bantu ya, Bik." "Ehh.. nggak usah, Non Jass diem aja disitu, udah cantik entar jadi kotor lagi." Cegah Bik Imah, menghalangi Jasmine membantunya. "Ya ampun Bik, aku biasanya juga masak sendiri di rumah, udah biasa Bik santai aja." Jasmine mengambil alih ayam yang sedang di suir-suir kecil oleh Bik Imah. Jasmine mencoba kuah soto buatan Bik imah setelah dirasa sudah matang. "Gimana Non? Ada yang kurang nggak?" Bik Imah menunggu dengan perasaan was-was. Takutnya, racikannya tidak sesuai dengan lidah Jasmine. Jasmine menggeleng lalu mengacungkan jempolnya. "Top Bik, enak banget." Jasmine tidak berbohong, memang kuah soto buatan Bik Imah pas rasanya. Setelah selesai makan soto bersama Bik imah dan Pak Husein, Jasmine memutuskan kembali ke dalam kamar. Tadi mereka sempat menolak ketika Jasmine mengajak mereka makan di satu meja yang sama. Mereka merasa tidak pantas. Namun, Jasmine merengek, kesepian jika harus makan sendirian itu sebabnya mereka mau menyetujuinya. Membaca novel adalah pilihan Jasmine untuk mengalihkan rasa bosannya. Setelah lelah membaca, dia membuka laptopnya mencari situs penjualan rumah. Jasmine menghitung dengan teliti, berapa uang yang akan dia dapatkan jika dia menjual rumahnya nanti. "Masih cukup lah untuk modal, sewa Apartemen dan sisanya ditabung untuk keperluan kedepannya." Gumam Jasmine lega. "Duh, kira-kira gw bisnis apa ya yang nggak cepet mati?" Jasmine menutup laptopnya, beralih berseluncur dengan ponsel, tangannya bergerak lincah mencari bisnis yang pas yang akan dia bangun nantinya, hingga tanpa sadar dia terlelap sangking lelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN