Sudah terhitung hampir tiga bulan usia pernikahan Jasmine dengan Alvaro. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Alvaro masih dengan sifat acuhnya seakan tidak pernah menganggap Jasmine ada.
Pagi ini Safira datang dan sukses membuat Jasmine terkejut bukan main. Bukan hanya Jasmine saja yang terkejut, bahkan Bik Imah pun sampai tidak bisa berkata-kata.
"Pagi, Jass." Sapa Safira dengan senyuman cantik yang terpatri di wajahnya. "Gw numpang sarapan disini ya, Al tadi hubungin gw supaya sarapan bareng disini aja, soalnya dia bangun telat jadi nggak bisa ke Apartemen gw." Dengan wajah tidak perduli Safira menarik salah satu kursi, duduk seperti pemilik rumah.
Belum sempat Jasmine menjawab suara lembut Alvaro mengalihkan perhatiannya.
"Pagi, Fir." Alvaro memberikan senyum hangat pada Safira, tanpa perduli wajah cengo Bik Imah.
Safira cemberut, "Kenapa telat bangun sih, Al?" Rajuknya terdengar manja.
Alvaro berjalan ke arah safira lalu dengan santai mengecup pucuk kepalanya sekaligus mengusapnya. "Sorry, aku kerjain tugas kampus semalem karena harus aku email pagi ini ke dosenku, jangan marah dong."
Jasmine tersenyum pahit, kini bola matanya bergulir pada Bik Imah yang sedang memamerkan senyum canggung padanya. Rasanya harga dirinya habis terlindas, dan yang lebih parah Alvaro lah yang melakukannya.
Apalagi ini ya Allah?
Bisa-bisanya mereka bersikap seperti itu tanpa menghiraukan keberadaannya, seolah-olah Jasmine kasat mata. Sesakit ini ya ternyata kenyataannya?
Kenapa Alvaro bisa sekejam itu padanya? Apa lelaki itu tidak memiliki sedikit saja perasaan untuk menghargainya?
Safira menghela nafas. "Yaudah, sekarang kita sarapan dulu, abis itu kita langsung jalan aja ya, Al."
"Siap princess" Alvaro tersenyum manis lalu tatapannya beralih pada Bik Imah. "Bik tolong siapin sarapan untuk Safira."
Bik imah mengangguk, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti keinginan majikannya. "Baik den," setelahnya dia melirik Jasmine yang masih setia di tempatnya.
Karena sudah tidak tahan lagi pada akhirnya Jasmine berdiri. "Aku duluan." Tanpa menunggu jawaban, Jasmine berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan dengan perasaan dongkol.
Bik Imah memandang kepergian Jasmine dengan tatapan sendu namun dia tidak dapat berbuat lebih.
Jasmine menutup pintu kamar dengan perasaan berkecamuk. Tidak ingin berlama-lama lagi, dia segera mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi. Apa yang Alvaro lakukan benar-benar membuatnya sadar akan statusnya. Hatinya terlalu rapuh tidak sanggup menghadapi siksaan ini.
Menuruni tangga dengan wajah datar lantas menuju ruang makan. Walau bagaimanapun Jasmine harus tetap berpamitan pada suaminya bukan? Meskipun hatinya panas karena harus melihat dua manusia tak tau malu yang berada di sana.
"Aku pergi dulu, Al." Pamit Jasmine datar. Setelah mengatakan itu dia segera pergi tanpa memperdulikan lagi respon serta jawaban dari suaminya. Alvaro yang melihat Jasmine pergi begitu saja, mengangkat kedua bahunya acuh.
"Al, Jasmine nggak marah kan kalau kamu anterin aku gini?" Tanya Safira begitu melihat sikap Jasmine barusan.
"Nggak pa-pa." Alvaro meyakinkan. Lagipula dia sudah membicarakan hal ini dengan istrinya seharusnya Jasmine tidak perlu marah.
"Ya, tapi, tetep aja aku nggak enak liat mukanya." Keluh Safira cemberut.
Alvaro menggeleng, "udah nggak usah dipikirin" katanya sembari menyantap makanannya.
"Bener ya, Al. Pokoknya aku nggak mau gara-gara hal ini kalian jadi ribut."
Alvaro mengangguk. "Hem, tenang aja, dia biar jadi urusan aku nanti."
Safira meletakkan sendok dan garpu dengan cara elegan. "Oke. Yuk aku udah selesai, langsung jalan aja." Katanya, lantas berdiri sembari merapikan penampilannya.
"Ayo." Alvaro menggandeng tangan Safira dengan mesra. Setibanya di mobil dia langsung membukakan pintu, memastikan Safira masuk dan duduk dengan nyaman lalu menutup kembali pintunya.
****
Jasmine harus cepat melaksanakan rencananya, dia tidak ingin terjebak lebih lama lagi dalam pernikahan yang menyiksa batinnya.
Pagi ini tujuannya berkunjung ke makan kedua orangtuanya. Dia harus minta izin pada mereka terlebih dahulu. Walau tidak akan pernah mendapatkan balasan setidaknya dia sudah mengatakannya.
Jasmine menatap kosong bahu jalan memalui kaca mobil, terlintas dalam benaknya untuk pisah kamar dengan Alvaro.
Tapi apa mungkin bisa? Apa yang dikatakan oleh Bik Imah dan Pak Husein nantinya? Bagaimana jika Renata dan Juan sampai tau? Jasmine dilema, terjebak dalam kegamangan yang tak berujung.
Angin berhembus menerpa wajah dan rambut panjangnya. Luruh sudah semua pertahanannya kala Jasmine melihat dua gundukan dengan batu nisan bertuliskan nama kedua orangtuanya. Jasmine menangis terisak mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Jasmine menghirup nafas dalam-dalam, mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Air matanya berderai, sejuta rasa sakit dia curahkan. Rasanya begitu nyeri, mendapat perlakuan tak sepantasnya dari Alvaro. Setelah memanjatkan doa, Jasmine bergegas pergi untuk melaksanakan rencananya.
Jasmine sudah memotret rumahnya sebelumnya dan membuat iklan melalui situs online. Setelah melakukan negosiasi dengan beberapa pembeli, akhirnya dia menemukan pembeli yang pas untuk menjual rumahnya.
Hari ini, sesuai dengan kesepakatan mereka bersama sebelumnya melalui chat. Mereka akan bertemu langsung di rumahnya.
Jasmine mengedarkan pandanganya ke setiap sudut ruangan. "Aku pasti akan sangat merindukan suasana ini, terlalu banyak kenangan indah bersama kedua orangtuaku." Gumamnya pelan sambil tersenyum sendu.
Suara ketukan pintu membuat Jasmine tersadar. Tidak ingin membuat orang menunggu lama dia segera berjalan menuju pintu. Dihadapannya sudah berdiri dua orang paruh baya, sepertinya mereka suami-istri.
"Dengan Bapak Indra?" Sapa Jasmine sambil tersenyum sopan.
"Ya benar, kamu yang bernama Jasmine?"
"Betul, Pak"
"Kenalkan, ini Mira istri saya." Kata Indra sambil merangkul mesra istrinya.
Jasmine tersenyum, "silahkan masuk Pak, Bu silahkan dilihat dulu rumahnya." Ujarnya sopan.
Jasmine sudah berniat dan bertekad untuk menjual rumah peninggalan orangtuanya untuk memulai rencana yang sudah dia susun rapih.
"Sesuai kesepakatan ya nak Jasmine, istri saya juga sepertinya menyukai rumah ini." Indra tersenyum ramah.
"Baik Pak, kalau begitu beri saya waktu satu minggu untuk membereskan semua barang-barang saya," pinta Jasmine pada pasangan suami istri itu.
Indra dan Mira mengangguk setuju. "Baiklah kalau begitu, saya akan melakukan setengah dari pembayaran rumah ini. Sisanya saya akan bayar lunas setelah kamu menyerahkan kunci."
"Baik, Pak."
"Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Mira dengan senyuman hangatnya.
"Silahkan Pak, Bu hati-hati dan terimakasih." Jasmine membalas senyum kedua paruh baya itu.
****
"Ini sebulannya dua juta, belum termasuk biaya listrik dan maintenance." Ucap seorang pria bernama Rudi.
"Baik Pak, saya akan mengambil unit ini." Jasmine menatap sekeliling ruangan yang masih kosong.
"Baik kalau begitu, anda bisa menyelesaikan pembayarannya segera." Setelah mengatakan itu, Rudi menyerahkan sisanya pada anak buahnya.
Setelah menimbang dengan baik Jasmine memutuskan untuk menyewa Apartemen saja. Lebih baik dan lebih aman menurutnya. Lagipula, dia juga akan jarang berkunjung kesini. Ini hanya tempat persinggahan sementara dan yang terpenting ada tempat untuk menyimpan barang-barang milik orangtuanya. Jasmine memegang erat besi pinggiran balkon unit Apartemen yang akan dia sewa.
"Semangat!! Gw pasti bisa ngelewatin semuanya." Matanya terpejam, membiarkan angin menembus kulit wajahnya. Dengan senyum dia akan memulai kembali semuanya dari nol.
****
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Jasmine baru saja tiba. Rumah yang selalu terasa dingin dan hampa.
Hari yang cukup melelahkan untuknya. Jasmine ingin segera mandi sebab tubuhnya sudah lengket oleh keringat setelah seharian memindahkan sebagian barang miliknya dan barang kedua orangtuanya ke Apartemen yang baru saja dia sewa.
"Baru pulang, Non?" Bik Imah tiba-tiba bertanya membuat Jasmine terperanjat.
"Loh, belum tidur, Bik?" Jasmine sedikit heran melihat Bik Imah yang masih berkeliaran di jam semalam ini.
"Ini, tadi Bibi haus, jadi ambil minum dulu di dapur. Non Jass mau makan biar Bibi panasin?"
"Nggak usah Bik, tadi aku udah makan diluar. Bibi istirahat aja udah malam gini"
"Yaudah Non, Bibi duluan ya." Bik Imah memberikan senyum hangat.
Jasmine balas tersenyum, "iya, Bik."
Setelahnya, Jasmine melanjutkan langkah kakinya yang tertunda sembari memijat pundaknya yang terasa remuk. Mungkin karena sudah lama tidak olahraga jadi sekujur tubuhnya merasakan pegal.
"Dari mana aja jam segini baru pulang?" Tanya Alvaro begitu melihat pintu kamar terbuka, pasalnya Jasmine pergi seharian tanpa memberitahunya.
Mendengar suara berat itu cukup membuat Jasmine terkejut. Jasmine bisa melihat Alvaro yang sedang duduk di sofa sambil memperhatikannya. Sebetulnya dia sedikit heran melihat lelaki itu sudah berada di rumah di jam seperti ini. Karena biasanya Alvaro pulang jika sudah tengah malam.
"Ada urusan." Jasmine menjawab datar karena masih kesal dengan kejadian pagi tadi.
Alvaro mengernyit heran karena biasanya Jasmine tidak pernah pergi seharian apalagi tanpa memberitahunya. "Urusan apa?" tuntut Alvaro penasaran.
"Ada urusan penting." Jasmine menyahut seenaknya, setelah mengatakan itu dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Rahang Alvaro mengeras. Ada rasa tak nyaman dihatinya. Seperti ada yang hilang saat Jasmine menjadi lebih cuek kepadanya. Dan Alvaro tidak menyukainya.
Belum lagi tadi dengan santainya Safira mengenalkan pria bernama Leo sebagai kekasihnya. Dan yang lebih membuatnya syok ternyata keduanya sudah menjalin hubungan hampir satu tahun. Marah dan kecewa tentu saja saat mengetahui fakta itu. Lalu selama ini Safira hanya menganggapnya sebagai ban serep saja ketika kekasihnya sibuk? Ck, menyebalkan.
Dengan santai Jasmine keluar dari kamar mandi, masih menggunakan bathrobes dia menuju walk in closet lalu memakai pakaian santainya. Pakaian favoritnya untuk tidur yaitu celana pendek dan tanktop.
Jasmine bisa melihat Alvaro menyusuri tubuhnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi Jasmine tidak perduli, dia lebih memilih menyisir rambutnya dan melakukan ritual malamnya di depan meja rias.
Alvaro memperhatikan Jasmine dalam diam. Sebetulnya ada rasa penasaran besar dihatinya tentang urusan yang istrinya bilang penting tadi. Tapi dia cukup sadar, pasti istrinya masih kesal setengah mati dengan kejadian tadi pagi. Jadi Alvaro lebih memilih jalur aman saja, lebih baik diam.
Setelah menyelesaikan ritual malamnya. Jasmine segera menuju ranjang agar bisa mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk. Hembusan nafasnya terdengar lega saat tubuhnya sudah berbaring di aras kasur, rasanya plong dan nyaman.
Merasa terus di perhatikan akhirnya Jasmine memutuskan untuk bertanya. "Kenapa? Ada yang mau diomongin?"
"Nggak." Alvaro ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Jika sebelumnya mereka tidur saling memunggungi, tidak dengan malam ini. Karena malam ini hanya Jasmine yang tidur memunggungi Alvaro. Sementara lelaki itu tidur menghadapnya dan itu cukup membuatnya sedikit salah tingkah.
Tunggu! Untuk apa dia harus salah tingkah? Mungkin saja Alvaro merasa pegal karena harus tidur menghadap kanan terus kan? Sudahlah, dia malas mencari tau lagipula matanya sudah berat ingin segera beristirahat.
Sebelum Jasmine benar-benar terlelap samar-samar dia mendengar Alvaro berucap. "Good night Mine, sweet dream." Kata Alvaro lembut.
Jasmine pasti berkhayal! Mana mungkin seorang Alvaro mengucapkan kalimat semanis itu padanya. Tidak mungkin!