Sejak malam itu sikap Alvaro semakin terlihat aneh. Lelaki itu akan selalu bertanya tentang semua kegiatan yang Jasmine lakukan seharian.
Tapi, Jasmine hanya menanggapi semua pertanyaan Alvaro dengan seadanya. Dan lagi untuk apa dia harus bercerita? Seperti pasangan sungguhan saja. Menggelikan.
Lagipula, mana mungkin Alvaro mulai perhatian padanya? Ck, bisa hujan badai kalau itu sampai terjadi. Bertahun-tahun Jasmine menjalin hubungan dengan Alvaro, tak pernah sekalipun lelaki itu memberikannya perhatian lebih.
Terkadang Jasmine sampai jengah sendiri dibuatnya. Karena Alvaro sekarang selalu membombardirnya dengan berbagai macam pertanyaan saat dia tiba di rumah.
Seperti yang terjadi malam ini. Setelah pergi keluar seharian Jasmine baru tiba saat malam menjelang. Dan Alvaro ternyata sudah menunggunya.
"Kamu dari mana aja sih, Mine? Kenapa sekarang kamu jadi keluar setiap hari dan pulangnya malam terus?" Alvaro bertanya dengan wajah kesal. Karean setiap hari ada saja kegiatan istrinya itu.
Jasmine memutar bola matanya malas. Kenapa Alvaro jadi bawel begini sih? Biasanya dia ada atau nggak juga lelaki itu tak pernah perduli. "Aku ketemu sama teman SMP aku."
Mengabaikan sepasang mata yang terus memperhatikannya, Jasmine bergerak santai menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Alvaro sendiri sudah berada di rumah sejak sore tadi menurut informasi dari Bik Imah.
Alvaro mengepalkan kedua tangannya begitu melihat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi. Sudah beberapa hari ini dia dibuat uring-uringan dengan sikap acuh istrinya. Rasa kesalnya semakin bertambah besar karena istrinya selalu berangkat pagi dan baru kembali malam hari.
Sebenarnya apa saja yang di lakukan oleh perempuan itu seharian? Bahkan sekarang Jasmine sudah tidak lagi mengabarinya jika hendak pergi membuatnya semakin jengkel saja.
Memang sekarang Alvaro jadi lebih sering berada di rumah. Kalau sedang free dan tidak ada kelas kuliah maka dia akan menghabiskan waktunya tidur seharian atau menyelesaikan tugas kampusnya. Paling mentok nongkrong bersama dengan kelima sahabatnya.
"Ngapain sih nanya mulu? Ck, berasa abis selingkuh aja! Pertanyaannya detail amat!" Dumel Jasmine kesal sembari melepas pakaiannya. "Nggak usah sok perduli dan perhatian deh, lo!"
Jasmine keluar dari kamar mandi dengan tubuh lebih segar. Dengan santai kakinya melangkah menuju walk in closet memakai pakaian tidur favoritnya. Setelahnya Jasmine menuju meja rias untuk melakukan ritual malamnya. Jasmine bisa melihat dengan jelas jika Alvaro sedang memperhatikannya, namun dia tidak perduli dan tetap melanjutkan kegiatannya.
Begitu selesai menyisir rambutnya, kini kakinya mengayun menuju ranjang, Jasmine langsung merebahkan dirinya, memunggungi Alvaro seperti biasanya.
Semua gerak-gerik istrinya tak luput dari penglihatannya. Alvaro menghela nafas, ada yang mengganjal dalam hatinya yang harus segera dia tanyakan.
"Mine kamu udah mau tidur?" Alvaro mengintip istrinya yang hendak memejamkan mata.
"Hem."
Karena sudah terlampau kesal, akhirnya Alvaro menarik tangan Jasmine sehingga tubuh istrinya berbalik menghadapnya.
Diperlakukan seperti itu membuat Jasmine kebingungan. Pada akhirnya dia duduk sembari menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Kenapa?" Jasmine terheran-heran, mendapati wajah Alvaro yang tak bersahabat.
"Kamu kenapa cuekin aku kayak gitu, sih?" Protes Alvaro tidak terima.
Jasmine menaikkan satu alisnya. Semakin tak mengerti dengan sikap Alvaro. Dan apa-apaan sih lelaki itu? Bukankah biasanya lelaki itu yang tidak pernah menganggapnya ada? Lalu kenapa tiba-tiba sekarang bertanya hal aneh semacam itu?
"Maksudnya?"
"Kamu seharian pergi dan nggak kasih kabar ke aku pergi kemana!" Ketus Alvaro.
Jasmine memutar bola matanya. Menurutnya semakin hari tingkah Alvaro seperti seorang bocah yang mencari perhatian dari ibunya. Lagian, untuk apa juga dia harus memberitahu? Biasanya juga Alvaro tidak pernah perduli.
"Bukannya kita udah sepakat untuk nggak ikut campur urusan pribadi masing-masing?" Jasmine menjawab dengan wajah tak perduli.
Mendengar jawaban dari istrinya membuat darah Alvaro mendidih. Rasa kesalnya semakin menjadi-jadi. "Maksud kamu apa, Mine? Aku tetap SUAMI kamu dan berhak tau apa aja yang udah kamu lakuin seharian diluar!" Alvaro sengaja menekan kata SUAMI, kalau-kalau saja Jasmine lupa sekarang dia masih suaminya.
Jujur saja Jasmine semakin bingung dibuatnya. Satu sisi lelaki itu seperti mengakui kalau dia istrinya, ya walaupun faktanya memang begitu. Tapikan lelaki itu sendiri yang memintanya seperti ini. Untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Sebelumnya Alvaro tidak pernah perduli sedikitpun kegiatan apa saja yang dia lakukan seharian, bahkan seandainya Jasmine tidak pulang pun mungkin suaminya itu tidak akan perduli. Lalu kenapa tiba-tiba Alvaro menjadi seperti ini?
"Al, aku kayak gini juga kan karena mau kamu. Emang bener status aku itu istri sah kamu, tapi hanya di atas kertas aja kan? Lagian juga kita akan cerai nantinya."
Kalimat bernada sindiran itu berhasil membawa Alvaro pada puncak emosinya.
"Mine!!!" Bentak Alvaro.
Jasmine terkejut bukan main mendengar Alvaro membentaknya dengan suara tinggi. "Apa? Kenapa?"
Alvaro memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening. Sepertinya urat sarafnya menegang semua sekarang. Lagipula, ada apa dengan dua perempuan ini? Bisa-bisanya membuat kepalanya ingin pecah disaat bersamaan. Safira yang jelas-jelas membohonginya selama setahun ini dan Jasmine yang tiba-tiba menjadi acuh bahkan sekarang jarang di rumah.
"Setidaknya kamu bilang kemana kamu pergi, bukannya kamu sendiri yang minta biar jawaban kita kompak."
"Tadi pagi aku ke makam orangtua aku, terus ada urusan sama temen SMP aku, udah kan?"
"Urusan apa sampai selama itu?" Alvaro masih saja penasaran.
Kening Jasmine terlipat dalam. "Kenapa jadi kepo gini sih, Al? Biasanya juga kamu nggak pernah perduli! Lagian juga aku nggak pernah nanya sedetail itu kalau kamu keluar rumah. Udahlah, aku capek mau tidur!" Ketus Jasmine lalu setelahnya dia kembali membaringkan tubuhnya memunggungi Alvaro.
'Dasar aneh! Bikin kesel aja malam-malam gini!' batin Jasmine mengoceh.
Alvaro mendengus kesal. Dengan perasaan dongkol akhirnya dia ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Lama-lama dia bisa komplikasi terkena penyakit vertigo dan hipertensi melihat kelakuan istrinya sendiri.
Dengkuran halus istrinya membuat Alvaro menarik nafas kuat-kuat. Alvaro masih ingat betul permintaan istrinya malam setelah pernikahan mereka. Wanita itu meminta izin untuk tetap menyayanginya dan mengurusnya. Tapi lihatlah sekarang?
'Sayang versi apaan yang cueknya kayak gitu? Gimana mau ngurusin suami kalo seharian di luar!' Alvaro membatin dengan perasaan dongkol.
****
Ponsel Jasmine sudah berisik, padahal masih pagi. Desi dan Cika ribut di group memaksanya untuk bertemu mereka.
Sambil mengunyah Jasmine membalas pesan kedua sahabatnya. Tentu saja dia tidak akan menolaknya. Selain merindukan ocehan mereka, Jasmine juga membutuhkan refreshing.
"Kamu lagi chat sama siapa sih?" Tanya Alvaro masih dengan wajah kusut. Semalam dia tidak bisa tidur tenang memikirkan perubahan drastis istrinya.
Jasmine menoleh sejenak. "Desi sama Cika." Jarinya terus bergerak, membalas pesan kedua sahabatnya.
"Happy banget kayaknya!" Sindir Alvaro jutek. Jelas saja Alvaro badmood. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja, tapi Jasmine malah sibuk dengan dunianya sendiri. Dasar istri tidak peka.
"Iya, ini pada ngajakin ketemuan." Beritahu Jasmine seadanya.
"Kapan?"
"Nanti siang."
Lihat saja kan? Gimana mau ngurusin suami kalau sudah punya planning pergi lagi. "Mau kemana? Terus mau pulang jam berapa?"
Jasmine menelisik wajah suaminya dengan tatapan bingung. "Nggak tau balik jam berapa, cuma kita pada mau jalan ke Mall. Kenapa emangnya? Tumben kamu nanya sampai segitunya?" Jelas saja Jasmine dibuat heran sekaligus bingung. Alvaro sekarang terlihat lebih cerewet.
Alvaro menggeleng setelah menghela nafas. "Nggak pa-pa, jangan pulang malam-malam"
Jasmine mengangkat kedua bahunya, "hem, entar diusahain"
****
"Duh kangen banget gw, udah lama kita gak ngumpul kayak gini." Pekik Desi hiperbola. Sangking senangnya, dia sampai tak sadar jika sekarang mereka sedang berada di tempat umum.
"Hem... Sorry ya guys, gw sibuk banget akhir-akhir ini." Jasmine memberikan tatapan bersalah pada kedua sahabatnya. Namun, Desi dan Cika justru merespon dengan tatapan jahil.
"Yang udah nikah mah beda. Iya nggak, Des? Sibuk dia berduaan mulu sama lakinya." Goda Cika sambil menaik turunkan alisnya.
Jasmine tersenyum pahit menanggapi perkataan Cika. 'Dari segi mananya berduaan? Lah, tuh lelaki sibuk sama yang onoh!'
"Apaan deh lo! Nggak gitu juga ya!" Tentu saja jawabannya berbeda dengan suara hatinya.
"BTW udah ada tanda-tanda belom, Jass?" Desi tersenyum jenaka.
Jasmine menatap Cika dan Desi bergantian dengan kening berkerut. "Tanda apaan?" tanyanya bingung.
Cika mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol Jasmine. Masa yang kayak begitu aja nggak paham! Haruskah dia menjabarkan cara reproduksi manusia untuk menghasilkan anak? "Tanda-tanda hamidun, Jass! Nggak peka banget sih lo!"
Jasmine tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar penuturan gamblang Cika. 'Yang benar saja! Di colek aja nggak! Gimana mau hamidun?'
"Berisik lo berdua, tinggal tunggu aja." Malas sekali rasanya memperpanjang pembahasan sakral ini. Desi dan Cika tertawa jahil, hal itu sukses membuat Jasmine mendelik.
Seharian Jasmine menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya. Shopping, nongkrong di cafe, nyalon, nonton, sampai ghibah bareng. Hal itu cukup membuat moodnya meningkat. Kelakuan kedua sahabatnya yang tidak pernah kalem membuatnya terus tertawa.
Jasmine memang sengaja men-silent ponselnya tidak ingin acaranya di ganggu. Jam sudah menunjukkan pukul 8:45 malam. Rasa rindu membuatnya lupa akan waktu.
"Lo yakin nggak mau bareng kita aja, Jass?" Tanya Cika sekali lagi karena Jasmine kekeuh ingin pulang sendiri.
"Gw udah pesan Go-car ini, kasihan abangnya kalau gw cancel." Jasmine memang sudah memesan ojol, dan rasanya tidak enak jika dia meng-cancel sepihak.
Desi menghela nafas. "Yaudin, kita duluan ya, Jass." Serunya sambil memeluk erat tubuh Jasmine.
"Hati-hati, Jass. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin kita." Cika mengingatkan tak lupa ikut memberikan pelukan.
Jasmine tersenyum dan mengangguk cepat. "Oke boss!" Sahutnya sambil mengangkat jempolnya ke udara.
"Sesuai aplikasi ya, Mbak?" Tanya si supir grab begitu penumpangnya masuk.
Jasmine tersenyum ramah, "iya, Mas. Sesuai aplikasi."
Jasmine mengambil ponselnya dari dalam tas yang sejak tadi dia silent. Begitu menyalakan layar, detik selanjutnya matanya terbelalak karena mendapati banyaknya kiriman pesan serta telepon dari Alvaro. Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Akhir-akhir ini Alvaro memang sering mengirim pesan atau telepon sekedar menanyakan tentang keberadaannya dan jam berapa dia akan pulang.
"Ck, kenapa lagi deh ini orang?" Gumam Jasmine sembari membaca satu persatu chat dari Alvaro.
Sepertinya Jasmine harus segera sampai rumah jika tidak ingin mendengar ocehan dari lelaki itu yang membuat telinganya sakit.
Sekarang Alvaro lebih ekspresif. Lebih banyak mengatur dan berbicara padanya. Jasmine memang cukup bersyukur akan hal itu. Namun, dia juga tetap harus menjaga hatinya agar tidak terkena penyakit.
Alvaro sudah terlalu jauh dan Jasmine tidak mau lagi menambah rasa sakit di hatinya. Terlebih, saat melihat kemesraan lelaki itu dengan Safira. Cukup sudah dia berjuang selama beberapa tahun belakangan ini. Bukan balasan yang dia dapatkan melainkan hanya rasa iba semata.
Jasmine harus tetap terus membiasakan diri tanpa kehadiran Alvaro. Setidaknya, hingga beberapa bulan ke depan sesuai dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati saat mereka baru menikah dulu.
Walaupun tidak secara tertulis di atas kertas namun ucapan lelaki itu terekam dengan jelas di otaknya dan membekas di hatinya.
Sulit, sangat sulit memang melihat sesuatu yang jelas nyata tapi tidak bisa dia raih. Menganggap sesuatu yang ada menjadi tak ada. Tapi, itu semua harus Jasmine lakukan untuk menyelamatkan hatinya.