Air mata tak henti-hentinya meluncur dari hazel Nara bahkan setelah dua jam kemudian. Detik ini ia berada di sebuah ruangan rumah sakit tempat Sehun dirawat. Ia duduk di dekat ranjang, menunggu hingga Pria Oh tersebut membuka mata. Tangan rampingnya menggenggam tangan besar Sehun yang tidak dililit perban, seolah memberi kekuatan agar lelaki itu cepat siuman. Apakah Nara mengkhawatirkan Sehun? Tentu saja! Sekalipun rasa percaya kepada sosok Sehun telah hilang usai mendengar semua kebohongan yang dilakukan pria itu, rasa simpati rupanya masih betah bertahta di benaknya. Ia prihatin melihat kondisi Sehun, baik secara psikis maupun fisik. Bagaimanapun, selama beberapa bulan ini ia telah mengenal lelaki itu sebagai pamannya, keluarganya. Selama itu pula ia tulus mempedulikannya. Tentu tak mud

