“Tidak mungkin ....” Nara masih berdiri di depan pintu sambil memandangi selembar kertas yang berada di tangannya. Berulang kali ia bergantian menatap Sehun dan kertas itu. Selama lima menit belakangan hanya itulah yang dilakukan olehnya. Nara syok hingga tak mampu bicara apa-apa. Sehun hanya menatap Nara dengan raut datar. Sebetulnya dia sedang berbahagia saat ini, tapi wajah syok Nara rupanya membuat kebahagiaannya terasa sedikit semu. Tidak apa-apa, kau melakukan hal yang tepat, batin Sehun menyemangati diri sendiri. “Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?” Nara menggeleng keras dan menyodorkan kembali kertas itu pada Sehun. “Pernikahan ini tidak sah! Kau bahkan memalsukan tanda tanganku—“ “Palsu atau tidak tetap saja tanda tangan itu milikmu, Nara. Data dirimu

