Nara dan Sehun duduk berdua di meja makan, sarapan. Berbeda dengan raut Sehun yang tampak cerah, Nara makan sambil menekuk wajah. Ia menunduk sambil memainkan sup di hadapannya, alih-alih menyantapnya. Sesekali tatapan tajam ia arahkan kepada Sehun yang makan dengan santai. “Makanlah makananmu, Sayang! Apa perlu suamimu ini yang—“ “Berhenti menyebut dirimu sendiri sebagai suamiku!” sentak Nara tak terima sambil sedikit membanting sendok di tangan. “Sudah kubilang aku ini belum menyetujui pernikahan itu, kan? Mungkin surat itu menyatakan kalau kita sudah menikah, tapi bagiku kau bukan siapa-siapa.” “Iya, aku bukan siapa-siapa, tapi nyatanya kau terima saja kucium untuk kedua kali.” Mendadak wajah Nara pun berubah. Kegugupan melandanya hingga menimbulkan rona merah di wajah cantiknya. Me

