Nara sibuk merenung di pinggiran balkon kamarnya, menatap lampu-lampu yang menghiasi bangunan-bangunan di sekitar apartemen tempat ia tinggal. Senyum kecil terbit di wajah cantik itu. Lantas, hazel cantiknya beralih pada langit yang bertaburan bintang. Nara merasa senang karena alam seolah ikut merasakan apa yang tengah dirasakannya kini; kebahagiaan. Helaan napas pelan dihembuskan hidung bangir Nara. Kedua tangannya memeluk tubuh secara tiba-tiba. Ia bergidik. Rasa dingin menyapa kulitnya yang hanya terbalut dress belang-belang selutut. Nara hendak berbalik masuk kembali ke kamar, tapi sebuah lengan kekar sudah lebih dulu menguasai perutnya secara posesif. Memaksanya untuk tetap menghadap ke pemandangan di luar gedung apartemen. Nara mendengus. “Kukira kau masih tidur,” selorohnya pada

