Gaun oh gaun

1019 Kata
Dengan kasar, King menhempaskan tubuh Hera ke tempat tidur. Ia lalu membuka lemari dan melihat jika semua gaun yang ada di lemari itu modelnya sama semua, mengekspos bagian d**a dan punggung. "s****n! Kenapa semua baju-baju ini kekurangan bahan?" Ia mengambil semua gaun-gaun itu dan melemparkannya di bawah lantai kamar. "Tunggu disini, dan jangan mencoba untuk keluar dari kamar!" King berlalu dari kamar Hera dan mengunci istrinya itu di dalam kamar. Seolah-olah Hera ingin melarikan diri. Hera yang shock dengan sikap King yang tiba-tiba marah kepadanya, hanya mampu bersedih dan mencoba mengikuti semua keinginan suaminya itu. Sekitar setengah jam ia menunggu King datang. Ia memanfaatkan waktu untuk merapikan kembali gaun-gaun yang berserakan di lantai kamar dan kembali memasukkannya ke dalam lemari. Pintu dibuka dari luar, terlihat King membawa sebuah paper bag dan menyerahkannya kepada Hera. "Pakai ini dan jangan lama! mana gaun-gaun tadi?" tanya King marah. "Sa..saya, sudah merapikannya kembali ke dalam lemari tuan." "Siapa yang menyuruhmu menyentuh gaun-gaun itu!" suara King kembali menggelegar, membuat Hera ketakutan. "Ma..maafkan saya tuan.." seru Hera takut. "Pakai selimut ini, tutupi badanmu," ujarnya sambil melempar selimut ke arah Hera. Ia langsung menutupi badannya dengan selimut sesuai perintah King. "Juyan, masuk..!" Dari arah pintu pengawal itu segera masuk ke dalam kamar Hera. "Buang semua gaun-gaun itu! segera..!" mendengar perkataan King, Hera langsung menegakkan kepalanya dan melihat saat dengan cepatnya Juyan memungut gaun-gaun itu dari bawah lantai. Ia berpikir, jika King sangat boros, padahal gaun-gaun itu baru saja ia beli tadi siang dengan harga yang fantastis. Seumur hidupnya Hera baru pertama kalinya memakain gaun semahal itu. Setelah Juyan selesai membereskan gaun-gaun itu, King juga keluar dari kamarnya. Hera mulai membuka paper bag itu, yang berisikan sebuah gaun yang sangat glowing. Ia segera mengganti gaunnya dengan yang baru dan melihat penampilannya di depan cermin, kecantikannya semakin terpancar dengan gaun yang baru diberikan oleh King. Gaun yang baru ini memang menutupi seluruh tubuhnya namun lekuk tubuhnya masih tetap kelihatan bahkan, ia semakin seksi dengan gaun ini. Ia juga kembali memakai make up nya yang sempat terhapus. Hera keluar dari kamar, "sa..saya sudah selesai tuan," ujarnya gugup sambil menunduk dan menggigit bibir bawahnya. "s**t! kenapa gadis ini malah semakin seksi dengan gaun yang ini? apa yang salah dengan mataku?" King seketika kesal melihat penampilan Hera yang semakin menggoda dengan gaun yang baru ini. Tatapan Juyan juga tidak lepas dari Hera, ia juga memuji kecantikan Hera, dan King menyadari itu lalu berkata, "jaga mata lo, Juyan!" "Hehehe, maaf tuan muda, saya sedikit pangling melihat kecantikan nona Hera yang sangat serasi dengan tuan muda," ujarnya jujur. "Asal iya aja lo ngomongnya!, hei.., sini lo berdiri dekat gue!" Hera segera berdiri lebih dekat dengan King. "Juyan, ambilkan beberapa foto kami berdua," Pengawal itu segera mengikuti perintah King dan mengambil beberapa foto mereka berdua. Timbul keisengan dipikiran Juyan, ia lalu berkata, "tuan muda, bagaimana jika tuan lebih dekat dengan nona Hera, jika berfoto kayak tadi tidak menunjukkan jika tuan dan nona sepasang suami istri, tapi lebih kepada orang yang baru kenal," lalu Juyan menata gaya berfoto mereka. Ia juga membuat King dapat tersenyum di depan kamera. "Baik.., sekarang, foto terakhir ya, coba tuan dan nona saling pandang satu sama lain dan sambil merangkul" King seketika melirik tajam ke arah Juyan sementara Hera terlihat menunduk malu. "Tuan muda, anda tau sendiri, kedua orang tua tuan layaknya seorang detektif, jika mereka curiga tuan hanya menikah di atas kertas, bisa jadi perjodohan dengan gadis yang anda belum kenal sama sekali akan tetap berlanjut. Jadi, tuan harus membuktikannya jika pernikahan anda dengan nona Hera adalah pernikahan yang sah, salah satunya dengan berfoto seperti yang saya katakan tadi." King berpikir jika yang dikatakan pengawalnya itu ada benarnya juga. Ia lalu mengikuti semua arahan gaya berfoto dari juyan itu. King memandang Hera, namun wanita itu masih menunduk. "nona, tolong kerjasamanya jangan menunduk, tapi tegakkan kepala anda dan pandanglah ke arah tuan muda," seru Juyan. "Ba..baik," Hera menegakkan kepalanya dan menatap King yang juga sedang menatapnya, tatapan keduanya bertemu, dengan spontan King meraih tangan Hera dan menggenggamnya, demikian halnya dengan Hera juga menggenggam tangan suaminya itu. King kembali merasakan desiran aneh dari hatinya sedangkan Hera jantungnya berdegup kencang dari tadi karena ini adalah pertama kalinya ia berpose dekat dengan seorang pria. King memandang wajah wanita yang ada di depannya, tatapan matanya sangat teduh, seperti ingin selalu dilindungi olehnya, lalu ia fokus pada bibir Hera yang berwarna merah muda, gejolak di dalam dirinya kembali bangkit, membuat Sang Torpedo akan melesak tegak, ingin rasanya ia mencicipi bibir Hera. "Shit..! ini tidak bisa dibiarkan!" gumamnya dalam hati. Ia segera melepas rangkulannya dari tangan Hera dan bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu katanya. Juyan segera menghentikan jepretannya dan tersenyum tipis, puas melihat King grogi di depan Hera. Hera yang ditinggal pergi oleh King segera duduk dan menanyakan kepada Juyan "kemanakah gaun-gaun tadi berada? Apakah benar akan dibuang?" "Di apartemen saya nona, sesuai perintah tuan muda, gaun-gaun itu memang harus dibuang." Hera kaget dengan penjelasan pengawal King itu, lalu ia berkata lagi, "pengawal Juyan, bolehkah saya mengambil kembali baju-baju itu, maksudnya saya ingin menjualnya kembali karena jika dibuang itu sama saja dengan pemborosan, saya mohon anda mengabulkan permintaan saya ini." Juyan berpikir sebentar lalu berkata, "baiklah nona, tapi ingat ini rahasia kita berdua, jangan sampai tuan King mengetahuinya, bisa-bisa saya di pecat hanya karena itu." Keduanya pun berjanji, untuk saling merahasiakan mengenai gaun-gaun itu. Sementara itu di dalam kamar, King sudah tidak dapat membendung hasratnya yang sudah lama terpendam. Ia melirik arlojinya masih ada waktu sekitar 45 menit lagi. Ia bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik. Ia lalu membuka semua pakaiannya dan berjalan tanpa sehelai benang pun di dalam kamar mandi pribadinya. Ia melihat pantulan tubuhnya di depan cermin, torpedonya sudah tegak berdiri, setelah sekian lama loyo sejak Gladis tiada. Ia memutuskan untuk bermain solo, menggerakkan jari-jarinya di atas torpedonya yang sudah tegak berdiri dan siap untuk bertempur. Dengan rasa penasaran, imajinasinya menjadi liar membayangkan tubuh Hera yang polos, putih dan bersih sedang ada di depannya. Tanpa ia sadari jari-jarinya semakin cepat bergerak, sangat cepat sekali dan akhirnya ia mencapai puncak nirwana dengan hanya memainkan ke lima jarinya, dan ia merasa sangat puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN