Bertemu orang tua King

1044 Kata
King tiba-tiba tercengang saat ia bisa mencapai pelepasannya hanya dengan membayangkan tubuh istrinya itu. "s**t!" ada apa denganku? apakah aku sudah sembuh?" Tanpa seorang pun yang tau, sejak kepergian Gladis untuk selamanya. Alat tempur King tidak berfungsi dengan baik. Itu salah satu alasan ia menolak dekat dengan lawan jenisnya. Ia pernah mengkonsultasikannya kepada seorang dokter spesialis ternama. Dokter itu mengatakan jika alam bawah sadar King yang belum bisa lepas dengan Gladis yang membuat ia seperti itu. Dokter mengatakan hanya King yang dapat menyembuhkan luka batinnya sendiri. Sekalipun ia minum obat semahal apapun tidak dapat menjamin ia akan sembuh total. Ia mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower, sambil berpikir kenapa ia dapat dengan mudahnya mencapai puncak nirwana. Namun ia tidak dapat menemukan jawabannya. King keluar dari kamar dengan rambut basah. Juyan kembali tersenyum tipis, ia merasa jika ia berhasil lagi. "Wah, penampilan tuan makin cool saja," goda Juyan. Hera juga menilai jika penampilan King semakin menawan, namun ia takut melihat ke arah King yang selalu saja menatapnya dengan tajam. "Diam lo!" serunya marah. "Apa mereka sudah di rumah? tanyakan dengan benar, gue nggak mau menunggu lama!" serunya lagi. Mendengar perintah King itu, Sang Pengawal segera menghubungi ART di rumah King. Setelah mengetahui jika kedua orang tua King sudah berada di rumah, Juyan segera menyampaikan hal itu kepadanya. Waktu menunjukkan pukul 7 malam, saat ini keduanya sedang berada di mobil menuju rumah King. Juyan yang sedang menyetir terus melihat ke arah King yang mencuri-curi pandang memandang ke arah Hera. Sementara Hera, lebih memilih melihat ke arah luar jendela mobil dan menatap gedung-gedung tinggi sepanjang perjalanan. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia segera membuka tasnya, dan melihat jika Ewan yang sedang melakukan panggilan. Hera segera mengangkat telpon itu. "Halo Wan, kakak lagi dalam perjalanan nih, kakak baik-baik saja kok, salam buat Ayah ya.., iya Wan, pasti! bye Wan," lalu panggilan itu di tutup oleh Hera. "Hebat banget lo asyik bermain hp, matikan ponselmu! jika sedang bersamaku!" Hera lagi-lagi kaget dengan bentakan King. "Ma..maaf tuan, tadi itu.." "Stop!, I don't care about you!" ujarnya semakin membentak Hera. "Ma..maaf.." Hera ingin menangis karena King tidak mau mendengarkannya namun sebisa mungkin ia melawannya karena ia akan bertemu dengan orang tua King. "Oh ya, gue harap lo bisa bersandiwara di depan mami dan papi, apa lo mengerti?" "Sa..saya mengerti tuan.." serunya takut. Juyan yang sedang menyetir mobil hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah King yang suka membentak Hera. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar dan megah diantara beberapa rumah di sekelilingnya. Juyan buru-buru turun dari mobil dan membukakan pintu mobil lebih dulu untuk Hera. Lalu ia kemudian membukakan pintu untuk King dan dibalas tatapan mematikan kepadanya, "sorry tuan muda, ladies first," serunya. Hera menunggu King, sambil merapikan dressnya yang sedikit mengkerut. King yang berada di belakangnya seketika merasakan jika torpedonya mulai beraksi, "s**t! wanita ini terlalu menggodaku!" Ia mencoba menarik nafas panjang dan menetralisir hawa panas dari dalam tubuhnya. Mereka berdiri sejajar tepat di depan pintu utama rumah King. "Berikan tanganmu," ujarnya kepada wanita itu. Hera menyodorkan tangannya, King langsung menggenggam tangannya lalu berkata, "ingat, saat pintu di buka, sandiwara kita dimulai, apa lo mengerti?" "Saya mengerti tuan.." ujarnya gugup. King merasakan kehangatan saat ia menggenggam tangan istrinya itu. Ia melihat jika Hera tidak memberi respon apa-apa saat tangannya dalam genggamannya. "Cih, sombong banget wanita ini!" Pintu rumah di buka oleh Juyan. Terlihat beberapa pelayan rumah berjejer memberi salam kepada keduanya dan mempersilakan mereka masuk. Dari arah dalam rumah, terlihat wanita cantik nan anggun sedang berjalan ke arah mereka, walaupun usianya sudah tua namun aura kecantikan masih terpancar di wajahnya, dialah nyonya Yesi maminya King. "Anak mami..," ujarnya sambil ingin memeluk King, namun tidak jadi. Ia lebih memilih fokus melihat wanita cantik yang tangannya sedang di genggam erat oleh anaknya. King yang sudah siap-siap menerima pelukan Sang Mami terpaksa menelan rasa kecewa karena maminya lebih memilih melihat ke arah Hera yang memang tampil memukau malam itu. Nyonya Yesi segera menarik tangan Hera dari genggaman King, dan membawanya masuk ke dalam ruang keluarga. "Silakan duduk princess," ujarnya. Hera mengangguk sambil tersenyum, "cantik banget sih kamu princess, bagaikan bidadari!" tak henti-hentinya nyonya Yesi memuji kecantikan Hera. King duduk di hadapan keduanya. "Papi mana mi?" serunya menanyakan keberadaan tuan Roland. "Datang juga kamu.." ujar tuan Roland, namun matanya ke arah Hera yang tersenyum ke arahnya. "Siapa dia?" ujarnya penasaran. "Ya ampun Tuhan, mami jadi lupa pi, menanyakan siapa bidadari ini." "Kamu..siapa princess?, kenapa bisa datang ke rumah keluarga Roland, apa hubunganmu dengan anak kami King?" Hera melirik ke arah King, namun lelaki itu, malah sibuk sendiri dan tidak melihat ke arahnya, seolah-olah mengisyaratkan jika ia harus menjelaskannya sendiri. "Sa..saya istrinya mas King mi, pi, nama saya Hera Sagita." "Apa..?" seru kedua orang tua tersebut karena terkejut dengan pernyataan Hera tersebut. Namun beda jauh dengan King yang tersenyum sinis melihat reaksi kedua orang tuanya. "Princess.., please jawab yang jujur, jangan buat papi dan mami baperan gara-gara kamu!" seru nyonya Yesi dengan wajah berharap jika semua perkataan Hera itu benar adanya. "I..iya mi, sa..saya memang istri sahnya mas King." King semakin tersenyum sinis ke arah kedua orang tuanya. Tuan Roland segera memanggil Juyan dan menjelaskan semuanya. "Juyan, jelaskan kepada mereka," kali ini King angkat bicara. Pengawalnya pun, menyerahkan dokumen asli keabsahan pernikahan keduanya. Kedua orang tua King melongo dengan semua surat-surat resmi yang di tampilkan oleh Juyan. Tuan Roland dan nyonya Yesi bergantian memeriksa keaslian dokumen pernikahan mereka. Keduanya saling pandang dan saling mengedipkan kedua mata secara bergantian. Ternyata rencana mereka berhasil mendesak Sang Anak untuk menikah. "Jadi, Hera adalah istri sahmu King?" "Seratus untuk papi!" ujarnya mantap. Seketika nyonya Yesi terharu, ia yang langsung memeluk Hera dengan erat. "Terima kasih ya princess sudah mau menjadi istri anak mami yang keras kepala itu," ujarnya sambil melirik ke arah King. "I..iya mi.."ujarnya gugup. Tuan Roland juga mengucapkan selamat kepada Hera sudah menjadi bagian dari keluarga Elwood. "Jadi, kapan kalian akan mengumumkan pernikahan kalian?" tanya nyonya Yesi. King mengatakan jika pernikahan mereka jangan di publikasikan dulu, demi melindungi privasinya dan istrinya. "Jadi pi, mi untuk sementara pernikahan kami dirahasiakan dulu." Nyonya Yesi, melihat jika di jari manis keduanya tidak ada cincin, ia mulai meragukan pernikahan mereka yang mungkin saja hanya karena terpaksa bukan berlandaskan cinta. "Tunggu sebentar.., mana cincin pernikahan kalian?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN