Matahari cukup terik saat aku pulang sekolah, belum gelap pula langitnya, jadi tak ada masalah menunggu bus di halte. Toh masih ramai maka tidak ada ketakutan tentang apa yang diceritakan Byan, itu loh soal penunggu pohon belakang halte. Tidak akan ada yang menggangguku, makhluk-makhluk halus bernama Om Pocong ataupun Tante Kunti itu. Kecuali makhluk astral bernama Byan yang tengah dalam perjalanan kemari.
Byan datang dengan senyum bahagianya, dia tak merasa berdosa sama sekali atas apa yang dia lakukan pagi ini. Apa dia tidak malu atau urat malunya sudah putus?
“Aku dengar yang jadi pembina upacara tadi Ayahmu, Ra,” salah satu temanku selama menunggu bus.
Aku mengangguk dan tersenyum. Memang aku tidak mau terlalu menunjukkan siapa Ayahku tapi tak ada alasan untuk berbohong jika ada yang bertanya.
“Sepertinya tentang gosip itu benar.”
“Iya, benar.”
“Jadi benar Byan jatuh cinta sama kamu? Soalnya tadi si Byan sampai maksa gantiin Dirga jadi pemimpin upacara.”
“Hah?”
“Sore, Ara,” sapa Byan duduk di sebelah kananku. Dia mengganggu percakapan yang belum usai antara aku dengan anak Ambalan ini.
Aku hanya memandangnya bosan lalu melengos.
“Bagaimana menurutmu aku tadi? Cukup keren?”
Kupandang lagi Byan di sampingku. Ingin sekali kujawab bahwa dia sangat gila tapi aku sudah malas lebih dulu ketika melihat wajahnya yang menyebalkan itu.
“Aku hanya ingin memperkenalkan diri agar esok beliau tidak kaget aku tiba-tiba bawa anaknya pergi.”
Sekali lagi hanya kutoleh Byan.
“Ayahmu tadi bilang apa?”
Aku hanya diam saja.
“Oh iya, boleh minta nomor telepon Ayahmu?”
“Untuk apa?”
“Mau bilang kalau aku berminat dengan putrinya.”
“Maksudmu Dik Dara?”
Beberapa teman di sebelahku langsung tertawa.
Aku sebenarnya tahu maksud Byan. Maksudnya adalah aku, dia jelas tak kenal Dik Dara. Dia memang keren dalam mengutarakan niatnya, cukup pemberani pula ingin menghadapi Ayahku yang seorang Komandan Batalyon.
“Dik Dara?”
“Kalau mau denganku, kenal juga keluargaku! Kalau perlu bikin laporan hasil observasi!” tekanku meninggalkan dia dan langsung masuk ke dalam bus.
Byan terlihat berpikir sejenak. “Eh, bilang pada Ayahmu kalau sore ini juga aku potong rambut,” teriaknya saat bus sudah melaju.
Aku tersenyum tipis karena Byan. Ingat hal gilanya berkenalan dengan Ayah, bilang ingin menghubungi Ayah dan bilang akan potong rambut sore ini. Sedikit menyebalkan tapi dia semakin berani menunjukkan rasa sukanya padaku. Bukannya aku kepedean tapi akhirnya dua hari ini aku sadar bahwa dia mulai melakukan usaha manis setelah sebelumnya berhasil membuatku selalu memikirkannya dengan membuatku kesal hampir setiap hari. Memang strategi yang baik, tapi entah dengan hal manis itu, akankah membuatku jatuh cinta atau tidak.
“Masih godain kamu anak itu, Kak?” sapa seseorang di ujung belakang bus.
Langsung kutoleh dan ternyata dia Om Reza, malunya aku. Padahal sejak tadi aku tersenyum tipis seolah tanpa alasan.
Om Reza langsung bergeser di dekatku. Aduh, tentara yang satu ini sama saja dengan Dirga. Selalu membuat jantungku berdebar saat berada di dekatnya. Baiklah, sekarang aku mulai bingung kenapa ada dua laki-laki yang membuat jantungku berdebar? Yang manakah yang perasaan cinta? Aku terlalu polos.
Sekarang kami duduk berdampingan menghadap ke arah pintu bus. Canggung, satu sama lain dalam 5 menit pertama, penumpang yang lain seolah tidak ada.
“Tampan, tapi tidak cocok denganmu, Kak.”
Aku langsung menoleh. “Kenapa, Om?”
“Kamu cocoknya dengan yang berseragam.”
Jujur, jantungku baru saja melompat kegirangan. Apa pula maksudnya mengatakan itu? Maksudnya cocok dengan yang berseragam itu Om Reza gitu? Aw, jadi kepedean sendiri.
“Dia juga berseragam, Om.”
Om Reza langsung menoleh padaku. “Maksudnya tentara, Kak.”
Hanya tersenyum saja. Aku tidak bisa menjawab apapun, sudah terlalu bahagia.
“Ngelihatin terus, Kak? Pasti penasaran Om dari mana kok nggak pakai seragam, nggak pakai motor seperti biasanya lagi.”
“He he he.” Dia benar-benar tahu apa yang aku simpan ternyata.
“Om habis jenguk adik di UNY, karena motor adiknya Om lagi rusak, motor Om dibawa sama dia jadi naiklah angkutan kota ini.”
Om Dika dan Om Indra pernah bercerita bahwa Om Reza punya Adik yang kuliah di UNY. Dengar-dengar salah satu atlet voli di Yogyakarta, sempat mengikuti seleksi untuk pelatnas tapi masih gagal. Sekarang sudah semester 3, laki-laki juga katanya.
“Oh,” mengangguk paham.
“Jangan berpikir Om kencan ya, Kak. Lagi jomblo nih, nunggu yang mau aja.”
“Masa' seganteng ini nunggu yang mau? Bukannya justru banyak yang mau. Ehhh.” Langsung menutup mulutku. Betapa bodohnya aku langsung bilang Om Reza ganteng? Mau ditaruh mana mukaku ini? Buang ajalah, kalau ada yang mau silakan dipungut. He he he.
Om Reza tersenyum tipis. “Nyatanya nggak ada yang mau, Kak. Tentara kan sibuk sama negara, kadang nggak ada waktu buat kencan.”
“Banyak loh padahal yang minta dikenalin sama Om-om di batalyon. Sampai bosan aku jawabnya. Kalau Om minat, boleh loh aku carikan temanku.”
Teman-teman sekelas atau anak OSIS yang tahu aku ini anak tentara selalu minta dikenalin sama Om-om tentara. Please ya, ngenalin sama tentara tidak akan semudah itu.
“Anak SMA ya? Kalau anak SMA-nya itu Kakak, boleh juga loh, tapi kalau yang lain tidak mau.”
Pipiku langsung terasa panas sekali, aku yakin sudah sangat merah. Bukankah terlalu melambungkan untuk didengar? Tolong jelaskan padaku, siapapun itu, apakah Om Reza serius? Ah, aku bisa benar-benar gila jika semacam ini.
Om Reza hanya tersenyum di sebelahku. Sementara penumpang lain ikut tersipu, mungkin karena mereka pikir itu manis. Mmang, aku bisa khilaf karenanya. Tapi aku harus ingat, Om Reza ini kabarnya playboy. Eh, bagaimana kalau dia sudah insyaf? playboy insaf gitu.
Kami turun di dekat gerbang menuju asrama, masih dengan senyum malu-malu dariku dan senyum tipis dari bibir Om Reza. Sesekali aku melirik wajahnya, sayang sekali untuk dilewatkan.
“Jangan senyum, Kak.”
“Eh,” aku langsung menutup bibirku dengan kedua telapak tanganku.
Om Reza kembali tertawa kecil. Karenanya aku langsung memasang wajah kesal. Sepertinya kok hanya menjadi bahan candaan saja.
“Kenapa?”
“Takut badan Kakak gatal semua.”
“Kok bisa?”
Aku masih tidak menangkap apa maksudnya Om Reza.
“Iya, semut kan suka yang manis-manis dan suka bikin gatal-gatal.”
Senyumku semakin mengembang. Pipiku bahkan memanas kembali. Gombalan yang cukup manis dengan sikap cool-nya. Tuhan, rasanya aku ingin punya pacar seperti Om Reza, dengan catatan dia benar-benar insaf.
“Jangan suka melirik juga, Kak.”
“Kenapa, Om?”
“Iya, sniper Amerika aja kalah mematikan sama lirikan itu.”
Meskipun sedikit aneh, tapi aku tersenyum.
“Jangan sering ngintip di dekat lapangan tembak juga, Kak.”
Baiklah, kali ini aku merasa malu atau lebih tepatnya malu-maluin. Om Reza ternyata tahu setiap kali ada latihan, sesekali dua kali aku mengintip. Hanya untuk melihat Om Reza yang terlihat keren dalam menggunakan istri pertamanya, maksudku s*****a. Malu sudah.
“Sering bikin Om gagal fokus. Bidikan yang tadinya ke patung malah pindah ke hatimu.”
Langkahku langsung terhenti. Bagaimana bisa Om Reza mengatakan itu dengan mudahnya padahal dia hanya mengenalku sebagai anak dari Komandannya? Aku memang dibuat melayang karenanya, sangat melayang memang. Aku ini baru saja mengenal cinta, istilahkan saja aku masih labil dan mudah terbawa perasaan. Jika seperti ini terus menerus, bagaimana jika aku menganggapnya serius?
“Kenapa, Kak?”
Aku menggeleng lalu tersenyum.
“Jangan jalan di belakang Om. Nanti ketinggalan, Omnya nggak tahu. Kalau di samping kan kita bisa saling bergandeng tangan.”
Sekarang aku dan Om Reza memang dalam posisi depan dan belakang setelah aku berhenti tadi. Sungguh aku tak ingin terbawa perasaan tapi sepertinya sudah terlanjur. Ada ketakutan juga jika Om Reza masih sama seperti yang diceritakan banyak orang.
Aku kembali melangkah, mensejajarkan langkah dengan Om Reza. Kami terdiam dan hanya saling tersenyum tipis. Akhirnya kami sampai di depan rumahku dan kami berpisah, Om Reza ke batalyon, aku ke rumahku sendiri.
Om Indra langsung menghampiriku sambil melihat punggung Om Reza yang menghilang. Dia semacam ingin mengatakan sesuatu tapi menunggu Om Reza berlalu jauh. Memang benar, setelah Om Reza tak lagi terlihat sekian menit, Om Indra menarik tanganku. Dia mengajakku duduk di teras rumah.
“Kakak dari mana?”
“Sekolah lah, Om. Lihat, masih pakai seragam!” menunjukkan seragam kucalku. “Om juga tahu tadi aku ke sekolah.”
“Maksudnya kenapa bisa bareng sama Reza? Maksudnya Om Reza.”
“Ih kurang ajar ya sama yang pangkatnya lebih tinggi masa' manggilnya gitu, Om?”
Om Indra menghela napas. “Itu urusan Om. Diapain tadi, Kak?”
“Diperkosa!”
“Eh!” Om Indra langsung refleks menepuk bibirku pelan. Niatnya aku bercanda padahal, ini bawaan dari Ipeh yang suka ceplas-ceplos. “Sorry, Kak. Aduh, jangan bilang Komandan. Sorry, sorry,” mengusap-usap bibirku beberapa kali.
Aku hanya tersenyum dengan tingkah Om Indra. Ini baru pertama kalinya dia berani bersikap semacam itu. Tapi Om Indra ini sudah seperti Bang Arta, tak suka aku bicara ceplas-ceplos apalagi untuk hal-hal yang berbahaya. Sebenarnya tak masalah bagiku, aku justru merasa semakin banyak Om baik di sekitarku.
“Santai, Om. Aku juga cuma bercanda kok. Emang aku cewek apaan?”
Om Indra menghela napas panjangnya. “Inget kata Om ya, Kak? Om cuma nggak mau Kakak masuk ke dalam lubang buaya darat. Entah sudah insaf atau belum tapi Om takut Kakak kecewa nanti. Apalagi Kakak masih sekolah, baru kenal cinta yang ala-ala.”
Senyumku kembali mengembang. “Iya, Om. Om Indra itu kaya Abang dan Om Shandi, Adiknya Ayah. Cerewet kalau lagi nasihatin Kakak. Udah ah, mau mandi. Bye!”
Langsung masuk ke dalam rumah menyisakan Om Indra di depan rumah. Biarkan saja. Tenang, aku akan memperhatikan nasihat Om Indra, setidaknya untuk berjaga-jaga. Eh tapi kalau Om Reza sudah insaf boleh juga kok. He he he.