Ayah sudah bersiap dengan seragamnya di dekat mobil dinas. Entah kenapa Ayah tak kunjung berangkat padahal sudah siap sejak pagi buta. Ayah selalu menjadi yang terakhir tidur tapi juga yang pertama bangun di antara aku dan Dik Dara. Sementara Bunda lebih memilih sibuk di dapur menyiapkan bekal untukku. Aku? Aku masih santai dengan sepatu hitamku dan rambut yang masih acak-acakan.
Pagi kami selalu semacam ini, aku tidak pernah takut terlambat sementara yang lain selalu sibuk memintaku lebih cepat. Seperti sekarang, Bunda memberiku kalimat-kalimat pedas agar aku mau lebih cepat, katanya Ayah menungguku.
“Kok nunggu Kakak?”
“Iya, Ayah jadi pembina upacara di sekolah Kakak sekarang.”
“Kok Kamis upacara?”
“Ini tanggal 17, Sayang. Please deh jangan lemot, Kak!”
“He he he.”
Aku langsung bergegas setelah semuanya siap, Ayah menungguku dengan wajah bosan. Habisnya aku selalu begini, santai-santai meski diburu waktu. Sementara Om Dika dan Om Indra memilih menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ayah sibuk dengan banyak berkasnya di dalam mobil, jadi aku hanya korban cuek yang ingin mendapat perhatian Ayah. Sudah kukatakan kan jika aku manja sekali dengan Ayah, sangat manja malah. Dari kecil aku tidak mau lepas dari Ayah, bahkan bisa diingat-ingat ketika Ayah pergi bertugas dalam waktu yang lama. Paling tidak dua hari awal pasti aku masuk angin kalau tidak ya flu. Tapi sejak pindah ke Jogja Ayah selalu pulang, belum ada tugas yang mengharuskan Ayah tidak pulang.
Cukup, aku malu kalau bercerita tentang manjanya aku sama Ayah. Walaupun lucu juga untuk diceritakan.
“Ayah mau jadi pembina upacara? Dalam rangka apa, Yah?” tanyaku di sela-sela seriusnya Ayah dalam membaca.
Ayah menoleh padaku. “Dalam rangka pengen ketemu sama Byantara, cowok yang suka sama anak Ayah.”
“Iya?”
Ayah harusnya tidak bercanda dengan hal ini. Kenapa pula seorang Danyon harus menggunakan kekuasaannya hanya untuk melihat Byantara, si kutukupret satu itu? Ah, tapi Ayah bukan seseorang yang semacam itu. Beliau tetap tahu sampai batas mata jabatannya itu berguna. Tunggu, bagaimana jika beliau tidak bercanda tentang ini? Ah tapi tidak mungkin seserius itu. Aduh pusing kepalaku rasanya.
“Iya, mau Ayah ajak tanding karate si Byantara itu. Beraninya dia nganter anak Ayah tanpa izin sama yang punya.”
“Hah?” Mulutku menganga sempurna. Aku belum bilang pada Ayah tentang aku yang pulang diantar Byan kemarin sore. Jangan-jangan ini kelakuan Dik Dara, ah tapi kalau benar Dik Dara, dia kan nggak tahu siapa yang nama yang nganter kemarin, aku tidak kasih tahu dia.
“Kok Ayah tahu? Kakak kan belum sempat cerita.”
“Oh berarti benar, Ndan,” seru Om Indra dan Om Dika kompak.
“Iya berarti benar cowok kucel itu Byantara?” tanya Ayah padaku yang langsung membuat mulutku kembali menutup.
“Kita ada di belakang Kak Ara kemarin, cuma sengaja dipelan-pelanin aja biar jaraknya nggak deket banget,” jelas Om Dika atas pertanyaan dalam benakku.
“Hah?”
“Biarkan saja. Terima saja sekarang risikonya kalau ada apa-apa nggak mau cerita sama Ayah,” sindir Ayah sambil merapikan kembali berkasnya.
“Niatnya mau cerita kok, Yah. Tapi kan kemarin Ayah pulang malam, nggak enak mau ganggu Ayah. Belum ada momen yang pas.”
Aku harus menjelaskan pada Ayah. Jujur aku takut Ayah marah. Biasanya kan orang tua suka marah kalau anaknya diantar laki-laki tapi tidak bilang-bilang. Itu menurut yang aku lihat di beberapa tempat. Mungkin Ayah juga begitu.
“Ya pokoknya Ayah nanti mau ketemu sama yang namanya Byantara. Eh, Byantara siapa, Kak? Mendadak Ayah lupa caranya mengingat.”
Aku tahu Ayah sedang bercanda tentang lupa caranya mengingat.
“Byantara Abimanyu.”
Ayah mengangguk-angguk. “Penguasa udara nan gagah dan pemberani. Segagah apa dia? Dari belakang aja kelihatan kucel. Pasti kalau sama Ayah, masih gantengan Ayah.”
Om Dika dan Om Indra langsung menahan tawanya. Aku juga begitu, mana bisa laki-laki beda usia disandingkan dalam hal mana yang lebih ganteng. Ada-ada saja.
“Loh iya, kalau dia tidak bisa buat Bunda jatuh cinta, berarti dia tidak lebih ganteng dari Ayah.”
Lima menit kemudian mobil dinas Ayah terparkir di halaman parkir pejabat sekolah. Sedikit malu turun bersama dengan seorang Danyon, jadi kuputuskan untuk turun lebih akhir. Biarkan semua guru yang menyambut Ayah sebagai seorang Komandan Batalyon, tanpa pernah tahu siapa anaknya. Tak enak hati, masalahnya ada satu guru yang tahu aku anak Danyon dan beliau memperlakukan aku dengan sedikit berbeda. Kalian yang pernah begitu pasti merasa tak enak, tak bebas dan terkesan tidak adil.
Cukup lama aku menunggu Ayah masuk ke dalam, sampai akhirnya aku keluar dengan mengendap-endap. Baiklah, kalian boleh bilang aku berlebihan tapi asli, aku tidak mau dikenal banyak orang karena Ayahku seorang Komandan Batalyon, aku ingin dikenal sebagai aku, dispesialkan pun karena kemampuanku bukan karena jabatan Ayahku.
“Ngapain?” tanya Byan yang ternyata ada di belakang mobil, melipat tangannya di perut dan tersenyum.
Aku tunjukan raut wajah marahku, dia membuatku kaget. Aku juga tidak mengatakan apapun, justru langsung berlalu pergi begitu saja.
“Itu tadi Ayahmu?” Byan berusaha menyamai langkahku.
“Bukan!”
“Durhaka nggak mau ngakuin Ayahnya sendiri.”
Ini bukan soal aku benar-benar tidak mengakui Ayahku. Aku hanya tak suka Byan banyak tanya. Tidak ada pentingnya juga buat dia kan?
“Kalau iya kenapa?”
“Nanti aku mau kenalan.”
“Maksudnya?”
Byan hanya tersenyum meninggalkanku.
Upacara dimulai, aku bertugas sebagai pembawa acara pagi ini. Memang semua tugas diserahkan kepada OSIS, jika biasanya dijadwal per kelas. Ayah sempat mengacungkan jempolnya padaku diam-diam saat beliau berbaris bersama dengan deretan pejabat sekolah. Aku tersenyum, Ayah selalu mendukungku dalam hal kecil.
Yang cukup mencengangkan, bukan Dirga yang menjadi pemimpin upacara, justru Byan dengan wajah cerahnya di pagi hari. Aku baru tahu setelah menyebut bahwa pemimpin upacara memasuki lapangan upacara, pasukan disiapkan. Seharusnya Dirga yang ada di sana, biar ketika sampai di rumah nanti aku bisa bercerita pada Ayah tentang ketua OSIS yang membuatku terpana. Tidak beda jauhlah tingkat kegantengannya dengan Om Reza.
Sayangnya Byan itu merusak suasana, merusak kebahagiaan orang lain. Dia itu perusak segalanya, sudah macam hama, gulma atau apalah itu, mungkin lebih tepatnya virus jahat. Benci sekali aku padanya.
Ayah berulang kali melirikku setelah beliau memandang Byan. Aku tahu itu, terlihat jelas dari tempatku. Tolonglah, Ayahku yang tampan, jangan berpikir memang ada apa-apa antara aku dan Byan. Sungguh aku tidak menyukainya, setidaknya saat ini.
Sampai di mana pembina upacara harus memberikan amanatnya. Ayah memandangku sekilas, beliau tersenyum.
“Sebelum sampai pada intinya. Saya mau mengapresiasi pengibar bendera yang tepat sesuai dengan irama lagu dalam mengibarkan Sang Merah Putih.”
Tepuk tangan riuh menyambut suara Ayah yang terdengar begitu tegas sebagai seorang pemimpin. Aku selalu bangga pada Ayah, beliau mungkin tak banyak waktu dengan keluarga, tapi beliau rela mengorbankan apa saja demi negara. Tugasku, Dik Dara dan Bunda hanya mendukung serta mengerti posisi Ayah.
“Selanjutnya, pembawa acaranya itu kok cantik sekali. Namamu siapa, Nak?”
Aku mengangkat dahiku sementara Ipeh yang di sebelahku sebagai pembaca pembukaan UUD 1945 menahan tawanya. Sedikit konyol Ayahku itu, beliau yang memberi nama, harusnya tidak perlu bertanya. Tapi berhubung tak banyak yang tahu itu Ayahku, hanya tahu aku anak seorang pejabat TNI. Jadi hanya beberapa orang yang tertawa dan bergumam.
Lagi pula, kenapa tidak ada yang protes pada Ayah? Tim pengibar di puji karena tugasnya sementara aku dipuji karena cantiknya. Tunggu, ini pertama kalinya Ayah bilang aku cantik. Ah, bahagianya, semacam tengah digombali Jonatan Christie. Ha ha ha.
“Sandhya Arasely Putri Persada,” jawabku dengan microphone yang sedikit jauh.
“Cantik ya namanya, Ayahmu pasti ganteng,” sahut Ayah yang langsung membuatku ingin tertawa keras.
Sungguhlah, dunia ini indah karena aku punya Ayah yang narsis sekali. Dengan bangganya beliau memuji dirinya sendiri. Sampai-sampai musuhku saja menahan tawa dengan susah payah di depan Ayah. Astaga, Byan merusak pemandangan.
“Pemimpin upacaranya ganteng kalau mau potong rambut seperti saya,” kata Ayah membuka topi kebesarannya.
Byan tersenyum lalu mengangguk sekali.
Padahal Byan memakai topi, tapi ayah tahu betul seberapa panjang rambut Byan. Memang lebih dari 4 cm mungkin, bagi pelajar itu terlalu panjang, apalagi pelajar yang berada di sekolah dengan kedisiplinan tinggi.
“Baiklah, itu intermeso ya? Jangan terlalu tegang karena pembinanya Komandan Batalyon, tentara yang identik dengan kata garang dan disiplin. Tidak usah tegang nanti bisa pingsan.”
Ayah selalu bisa mencairkan suasana. Memang beliau itu hanya garang ketika bersama prajuritnya. Bersama dengan anak-anak, pelajar, beliau adalah seseorang yang penuh kelembutan dan canda tawa.
“Perkenalkan, saya Letnan Kolonel Infanteri Purnama Putra Persada, istri saya satu, mau nambah tapi dipelototin sama pembawa acaranya. Anak dua, cantik semua, jadi kalau ada yang berminat bisa menghubungi saya.”
Lagi-lagi Ayah dengan leluconnya, membuat semua orang tertawa. Tapi justru aku yang malu, semacam aku dan Dik Dara dipromosikan karena tidak laku.
“Kedatangan saya kemari sebagai salah satu wujud pendekatan TNI dengan generasi penerus bangsa...”
Ayah mulai menyampaikan isi amanat dengan keseriusan, hanya diawal beliau bercanda, setelahnya adalah nasihat penuh dengan makna. Menyampaikan tentang bela negara sebagai seorang pelajar, tentang nasib bangsa ada di tangan kita, dan banyak hal lagi. Tak lupa dengan konteks persatuan dan kesatuan yang mudah goyah di tahun politik.
Upacara selesai dan Ayah berbincang sejenak sebelum meninggalkan sekolahku. Entah, Ayah ke mana lagi setelah ini, tapi beliau cukup sibuk. Itu yang aku tahu. Om Dika dan Om Indra pasti lebih tahu mengenai jadwal Ayah.
Aku izin pergi ke kamar mandi, padahal aku ingin menemui Ayah. Menyampaikan semangatku agar Ayah bisa menjalankan tugasnya dengan baik hari ini.
“Ayah, semangat untuk hari ini,” ucapku lirih menyamai langkah Ayah lalu menunduk seolah memberi salam khas orang Jawa. Pura-pura tidak saling mengenal dengan Ayah, tapi belum sempat langkahku lebih jauh, aku mendengar seseorang menghentikan langkah Ayah.
Aku berbalik menghadap ke ayah dan Byan yang baru saja menjabat tangan Ayah.
“Pak, maaf, perkenalkan, Pak. Saya Byantara Abimanyu, penguasa udara yang gagah dan pemberani.”
Mulutku langsung menganga hebat, apa yang barusan kudengar? Aku tak percaya Byan mengatakan itu. Bahkan Ayah sendiri terlihat tidak percaya. Apalagi dengan orang-orang di sekitar lorong sekolah, mereka seolah tak percaya sama sekali dengan apa yang dilakukan Byan.
Ayah seorang pejabat TNI, Komandan Batalyom tapi Byan berani menghampiri lebih dulu hanya untuk memperkenalkan diri dengan senarsis itu. Sampai dia mengatakan penguasa udara yang gagah dan berani. Astaga, apa dia sudah gila?
“Ah iya, nama yang bagus.” Itu jawaban Ayah yang aku dengar. Ayah saja sampai kikuk begitu. Terlebih Om Dika dan Om Indra yang mendampingi, mereka seperti tak percaya, kesal, ingin tertawa, ekspresi mereka campur aduk.
“Ayah saya pilot di salah satu maskapai penerbangan, Ibu saya hanya Ibu rumah tangga, Adik saya dua, dan saya anak baik-baik.”
Masih dengan wajah Ayah yang kikuk.
“Maaf, saya hanya ingin memperkenalkan diri, Pak. Siapa tahu suatu saat Bapak butuh informasi tentang saya. Dan di masa depan Bapak tidak perlu khawatir apakah saya anak baik-baik atau bukan.”
Mulutku semakin menganga lagi. Apa yang dia katakan barusan?
Byan tersenyum, menjabat tangan Ayah lalu membungkuk dan pergi. Saat itulah Ayah dengan wajah herannya berjalan mendekatiku. Sempat berhenti sejenak.
“Cukup keren,” kata Ayah sambil melewatiku.
Semakin bingung aku rasanya. Hari ini sungguh hari yang sangat aneh.